Advertisement
Daerah Hikmah Jawa Tengah Peristiwa Travel
Home / Travel / Malam 1 Suro di Solo: Tradisi Sunyi yang Menggetarkan Jiwa

Malam 1 Suro di Solo: Tradisi Sunyi yang Menggetarkan Jiwa

Foto—Salah satu benda pusaka dari Ndalem Ageng Pura Mangkunegaran yang turut diarak dalam Kirab Pusaka Dalem pada Malam 1 Suro. (Sumber: Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya)

Surakarta, Ekspresi Indonesia—Malam 1 Suro kembali menjadi panggung bagi spiritualitas dan kebudayaan Jawa di Kota Solo. Pura Mangkunegaran bersiap menggelar Kirab Pusaka, sebuah prosesi sakral yang hanya berlangsung setahun sekali dan menjadi magnet tersendiri bagi para peziarah budaya serta pencinta kearifan lokal.

Kirab pusaka, seperti dikutip dari Antaranews, merupakan arak-arakan benda-benda keramat yang diyakini menyimpan kekuatan historis dan spiritual. Dalam konteks keraton, pusaka bukan sekadar benda kuno, melainkan simbol kejayaan, warisan leluhur, dan penjaga identitas kebudayaan.

Ritual ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 26 Juni 2025, dan terbuka untuk umum. Acara dimulai pukul 19.00 WIB, menempuh rute yang membentang di beberapa ruas utama Kota Solo seperti Koridor Ngarsopuro, Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan R.M. Said, hingga Jalan Teuku Umar, sebelum kembali ke kompleks Pura Mangkunegaran.

Prosesi utama diawali dengan iring-iringan benda pusaka yang dipimpin oleh abdi dalem serta cucuk lampah—tokoh pembuka jalan dalam tradisi keraton. Benda-benda pusaka itu diarak dengan penuh ketenangan, dalam suasana yang membangkitkan penghormatan mendalam terhadap leluhur dan nilai-nilai kejawen.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Menjelang tengah malam, suasana berubah menjadi lebih sunyi dan khusyuk. Tepat pukul 00.00 hingga 01.00 WIB, masyarakat akan diajak mengikuti sesi semedi bersama di Pendhapa Ageng. Dalam diam, warga merenungi perjalanan batin, menyambut tahun baru Jawa dengan hati yang bersih dan lapang.

Malam sakral ini berpuncak pada ritual Laku Tapa Bisu—sebuah perjalanan kaki tanpa suara, tanpa alas kaki, dan tanpa aktivitas apapun, mengelilingi kompleks Pura Mangkunegaran. Sunyi menjadi media untuk melepaskan energi lama dan membuka lembaran baru dalam kehidupan.

Untuk menjaga marwah tradisi, masyarakat yang hadir dianjurkan mengenakan pakaian bernuansa hitam serta jarik, dengan pengecualian motif seperti parang, lereng, dan bludru yang tidak diperkenankan. Sementara peserta kirab wajib mengikuti tata busana keraton: beskap hitam dan keris bagi laki-laki, serta kebaya hitam dan jarik sogan bagi perempuan.

Malam 1 Suro sendiri menandai tahun baru dalam penanggalan Jawa. Sistem ini diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram pada tahun 1633 Masehi, dengan menggabungkan kalender Saka berbasis matahari dan kalender Hijriah berbasis bulan. Sejak itu, tanggal 1 Suro selalu bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam, menjadikan malam ini sebagai momentum spiritual yang bermakna ganda bagi umat Islam Jawa.

 

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Kirab Pusaka menjadi wujud nyata pelestarian warisan budaya dan ikhtiar spiritual kolektif. Di tengah modernitas yang terus mendesak, tradisi ini mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu harmoni. Sebuah malam hening yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

 

(D.L.R.)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Jumat, 17/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:04

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×