Teheran, EKSPRESIINDONESIA.com – Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah pemerintah Iran dilaporkan kembali menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026) waktu setempat. Langkah ini diambil sebagai respons langsung atas serangan udara militer Israel ke Lebanon yang melanggar kesepakatan damai yang baru saja diupayakan.
*Buntut Serangan Israel di Lebanon*
Penutupan kembali jalur vital ini dipicu oleh kemarahan Teheran atas bombardir Israel ke Lebanon yang dilaporkan menyebabkan sedikitnya 245 warga sipil tewas. Langkah Iran ini secara mengejutkan terjadi kurang dari 24 jam setelah adanya pengumuman pembukaan kembali selat tersebut menyusul kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat pada 7 April 2026.
*Dampak Global dan Respons Amerika Serikat*
Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, diprediksi akan memicu lonjakan harga energi global dan mengganggu rantai pasok maritim internasional.
Pihak Amerika Serikat melalui Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan respons tegas dengan menyebut langkah penutupan tersebut “tidak dapat diterima”. Di sisi lain, Gedung Putih sempat mengeluarkan pernyataan yang menyebut laporan penutupan ini sebagai “kabar palsu,” namun berbagai layanan pelacakan kapal internasional menunjukkan kemacetan total di area tersebut.
*Ancaman Konflik yang Meluas*
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan ultimatum keras agar Iran tetap membuka akses pelayaran, dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur vital Iran jika blokade terus berlanjut. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran membalas dengan menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke status semula, terutama bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat dan Israel.
Saat ini, pasar global dan komunitas internasional tengah memantau ketat perkembangan di lokasi, mengingat posisi Selat Hormuz sebagai “titik sempit” paling krusial bagi keamanan energi dunia. (RM)



Comment