Jakarta, Ekspresi Indonesia—Identitas budaya Betawi dinilai semakin sering ditampilkan di ruang publik, namun kian kehilangan peran sebagai nilai yang membentuk kehidupan masyarakat.
Sebagai pengamat kebudayaan keturunan Betawi asli yang saat ini tinggal di Tokyo Jepang, Ismail, menilai fenomena ini sebagai bentuk “folklorisasi”, yakni ketika budaya direduksi menjadi simbol visual yang estetis, tetapi minim makna.
“Betawi semakin sering ditampilkan, tetapi semakin jarang dihidupkan. Ia hadir sebagai simbol, namun absen sebagai jiwa peradaban,” ujar ilmuan dibidang reaktor nuklir yang saat ini bekerja di Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) – Kantor Regional Tokyo.
Menurutnya, berbagai elemen seperti ondel-ondel, kuliner, dan busana tradisional memang masih eksis, tetapi lebih banyak hadir dalam konteks seremonial, bukan sebagai bagian dari praktik sosial sehari-hari.
Kondisi ini membuat generasi muda hanya mengenal Betawi secara visual, tanpa memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Di sisi lain, tekanan urbanisasi dan pembangunan kota juga mempersempit ruang hidup masyarakat Betawi. Banyak kampung Betawi yang bertransformasi menjadi kawasan komersial atau sekadar destinasi wisata, sehingga kehilangan fungsi sebagai ruang budaya yang hidup.
Ismail menekankan pentingnya reposisi Betawi sebagai subjek peradaban, bukan sekadar objek budaya. Ia mendorong agar nilai-nilai Betawi diintegrasikan dalam kebijakan kota, serta diperkuat melalui peran generasi muda.
“Jakarta tidak hanya butuh pembangunan fisik, tetapi juga fondasi nilai. Betawi memiliki potensi besar untuk itu,” tulis Ismail yang meraih gelar S3 Doctor of Engineering (Dr. Eng) dari Tokyo Institute of Technology pada September 2007 silam.
Jika tidak ada perubahan pendekatan, Jakarta dikhawatirkan akan terus berkembang secara fisik, namun kehilangan jati diri sebagai kota yang berakar pada identitasnya.
(Muhammad)



Comment