Foto—Sosok Agam Rinjani, seorang pemandu Gunung Rinjani yang namanya melejit usai berhasil mengevakuasi turis asal Brasil, Juliana Marins. (Sumber: Tangkapan layar)
Ketika seorang pendaki muda asal Brasil, Juliana Marins, tergelincir dan jatuh ke jurang Gunung Rinjani, kabar duka itu mengguncang tidak hanya Indonesia, tapi juga ribuan kilometer jauhnya di Brasil. Keindahan Rinjani berubah menjadi duka mendalam. Kekecewaan dan kritik dari keluarga dan publik Brasil pun menggema, menyoroti lambannya proses evakuasi yang dianggap menghilangkan harapan hidup Juliana.
Namun, dari balik kabut duka itu, muncullah secercah cahaya, sebuah wajah kemanusiaan yang melampaui batas negara dan bahasa: Agam Rinjani.
Agam bukan tokoh terkenal. Ia bukan pejabat, bukan selebritas, bukan politisi yang mencari simpati. Tapi ia hadir sebagai sosok nyata dari keberanian dan empati. Dalam diamnya, dalam lelahnya, dalam sunyi medan berat yang ia hadapi di lereng Rinjani, ia bersama timnya menapaki tantangan demi mengangkat satu nyawa yang sudah berpulang. Ia tak menjanjikan mukjizat, hanya ketulusan menjalankan tugas kemanusiaan.
“Maaf, kami tak bisa membawanya pulang dalam keadaan hidup,” ucap Agam dalam unggahan yang penuh penyesalan. Tapi justru dari penyesalan itulah dunia melihat bahwa masih ada orang-orang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bahkan saat harapan sudah musnah.
Dan yang menyentuh, rakyat Brasil pun membalas dengan cinta. Rasa kecewa yang sebelumnya menyeruak, berubah menjadi simpati dan terima kasih. Dari seberang lautan, ribuan ucapan datang bukan lagi sebagai tudingan, tetapi sebagai pelukan: “Terimalah kasih sayang kami,” tulis seorang warganet. “Kau pahlawan kami, meski tak bersayap, hanya berbekal ransel dan rokok di tangan.”
Inilah wajah dunia yang kita rindukan, ketika tragedi tak melahirkan permusuhan, tapi justru mempertemukan hati. Ketika satu nyawa yang hilang, menjadi jembatan kasih antara dua bangsa. Dan ketika aksi tanpa pamrih, seperti yang ditunjukkan Agam dan rekan-rekannya, menjadi bahasa universal dari cinta dan kemanusiaan.
Rinjani menjadi saksi, bahwa di balik jurang yang dalam, ada hati-hati yang menjulang.
(Aki Omar)



Comment