Foto—Ilustrasi sahabat Rasulullah SAW. (Sumber: detikcom/Mindra P)
Usamah bin Zaid bin Haritsah adalah sosok muda yang mulia dan cerdas, namun penunjukannya sebagai panglima pasukan oleh Nabi Muhammad Saw memang sempat mengejutkan banyak sahabat saat itu. Usianya yang masih belia (sekitar 18 atau 20 tahun) membuat sebagian orang mempertanyakan keputusannya.
Terlebih, dalam pasukan itu terdapat para sahabat senior, bahkan veteran Perang Badar, yang secara pengalaman dan usia lebih tua darinya. Namun, Nabi Saw menegaskan keputusannya dan memuji kepemimpinan Usamah.
Beliau bersabda, “Jika kalian mencela kepemimpinan Usamah, sungguh kalian telah mencela kepemimpinan ayahnya sebelum ini. Demi Allah, dia (Zaid bin Haritsah) adalah orang yang layak untuk memimpin dan dia adalah orang yang paling aku cintai. Dan sesudahnya, Usamah adalah orang yang paling aku cintai.” (HR. Bukhari)
Hal ini menjadi pelajaran besar dalam sejarah Islam bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi oleh kapasitas, akhlak, dan kepercayaan yang diberikan. Usamah sendiri tentu tidak pernah membayangkan amanah sebesar itu, namun ia menerima dan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab.
Bayangkan, ini bukan sekadar penunjukan jabatan administratif, tapi amanah memimpin pasukan besar yang akan menghadapi kekuatan Romawi Timur, kekaisaran raksasa dunia saat itu. Kalah-menangnya bisa mengubah arah sejarah umat Islam.
Namun justru dalam momen krusial itu, Rasulullah Saw memilih seorang pemuda bernama Usamah bin Zaid, bukan karena kedekatan darah atau status sebagai anak angkat, melainkan karena keyakinan mendalam terhadap kualitasnya.
Nabi Saw mengenal Usamah luar dan dalam. Ia tumbuh dalam rumah kenabian, menyerap nilai-nilai kepemimpinan sejati, kesabaran, keberanian, kasih sayang, dan keadilan. Ia telah ikut dalam berbagai pertempuran sebelumnya, dan Nabi menyaksikan langsung kematangannya.
Rasulullah Saw tidak memilih berdasarkan suara mayoritas, silsilah bangsawan, atau tekanan sosial. Beliau memilih berdasarkan firasah nubuwah dan objektivitas sejati. Keputusan itu sekaligus menjadi pelajaran abadi bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah amanah berat, bukan panggung gemerlap dunia, tapi ladang ujian dan tanggung jawab yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ketegasan Nabi Saw dalam mendukung Usamah bahkan ketika muncul bisik-bisik keraguan di kalangan sahabat, adalah teladan bahwa ukuran utama dalam Islam adalah integritas dan kapasitas, bukan usia, popularitas, atau keturunan.
Mengapa Nabi Saw Memilih Usamah Bin Zaid?
Disinilah letak keagungan cinta Nabi Muhammad Saw yang tak terjebak pada naluri duniawi. Usamah bin Zaid adalah pemuda yang sangat beliau cintai. Ayahnya, Zaid bin Haritsah, adalah satu-satunya sahabat yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an. Seorang mujahid tangguh, yang gugur dalam Perang Mu’tah sebagai panglima. Darah keberanian dan keimanan itu mengalir dalam diri Usamah.
Cinta Nabi kepada Usamah bukan cinta yang memanjakan, tapi cinta yang memuliakan.
Rasulullah Saw tidak menyembunyikan Usamah dari bahaya demi melindunginya dari kewajiban jihad. Justru beliau menempatkannya di garis terdepan, bukan karena ingin mengorbankannya, tapi karena percaya penuh pada kapasitas dan takdirnya. Ini bukan penyerahan kepada maut, melainkan penegasan nilai, bahwa kedudukan di sisi Nabi tidak membuat seseorang diistimewakan dari tugas berat jihad.
Penempatan Usamah sebagai panglima pasukan dalam kondisi Rasulullah sendiri sedang sakit keras menunjukkan pelajaran besar bahwa Islam tidak boleh bergantung pada figur tunggal. Ia harus dilanjutkan oleh generasi penerus yang tangguh, yang siap menghadapi risiko tertinggi. Cinta Nabi kepada Usamah tidak berarti menjauhkan dari medan ujian, tapi justru menempatkan di titik tertinggi kepercayaan.
Itu pula sebabnya, walau masih sangat muda, Usamah membawa warisan bukan hanya dari ayahnya, tapi dari kepercayaan langsung Rasulullah Saw, warisan iman, keberanian, dan tanggung jawab besar atas nasib umat. Itulah cinta sejati, tidak memanjakan, tapi memercayai dan memuliakan.
Ketika Jabatan Menjadi Warisan Duniawi
Sebagian orang mengejar jabatan seperti sedang mengejar tiket menuju surga dunia. Di matanya, jabatan berarti gaji besar, rumah dinas megah, kendaraan mewah, pengawalan ketat, dan privasi yang dijaga layaknya bangsawan. Ia lupa, di balik fasilitas yang gemerlap itu, ada beban yang kelak ditagih di hadapan Tuhan.
Jabatan bukan trofi yang diwariskan dari ayah ke anak, seolah dinasti kekuasaan adalah bagian dari harta keluarga. Seorang ayah yang pernah menjabat dan menikmati segala keistimewaan duniawi, kadang mengarahkan anaknya ke jalan yang sama, bukan karena anaknya layak, tapi karena ingin kehidupan itu berlanjut dalam garis keturunan.
Padahal, jabatan dalam Islam bukan tentang prestise, tapi amanah yang bisa menjadi kehinaan jika disalahgunakan. Rasulullah Saw bersabda, “Jabatan itu adalah amanah, dan pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan kewajibannya.” (HR. Muslim)
Nabi Muhammad Saw tidak pernah mewariskan jabatan kepada keluarga karena darah. Bahkan Usamah bin Zaid, yang begitu beliau cintai, diberi amanah bukan karena nasab, tapi karena kapasitas, integritas, dan warisan iman dari ayahnya yang syahid.
Mereka yang menjadikan jabatan sebagai sarana mengumpulkan kenyamanan dunia, telah kehilangan makna suci di baliknya. Mereka mengejar kehormatan, tapi bisa jadi sedang menggali liang kehinaan. Karena pada akhirnya, yang ditanya bukan seberapa banyak fasilitas yang dinikmati, tetapi seberapa berat tanggung jawab yang telah ditunaikan.
https://www.facebook.com/share/p/19MB7vJCku/
(Aki Omar)



Comment