Foto— foto saat Indonesia diresmikan sebagai tuan rumah The Fifth World Conference on Creative Economy 2026. (Sumber: Ekspresiindonesia.com)
Jakarta, Ekspresi Indonesia—Langkah berani kembali diambil oleh Pemerintah Indonesia. Melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), Jakarta resmi ditetapkan sebagai tuan rumah The Fifth World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, yang akan berlangsung pada 21–23 Oktober mendatang.
Setelah sukses di Bali (2018, 2022) dan Uzbekistan, pemilihan Jakarta bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan strategi komunikasi politik dan ekonomi yang matang untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama ekonomi kreatif global.
Mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”, WCCE 2026 menegaskan komitmen Indonesia pada inklusivitas dan keberlanjutan, menargetkan partisipasi dari 80 negara untuk merumuskan resolusi PBB baru. Dalam kacamata ilmu komunikasi, ini adalah bentuk nation branding yang masif.
WCCE 2026 sebagai Komunikasi Strategis dan Nation Branding
Penyelenggaraan WCCE 2026 di Jakarta adalah contoh klasik dari penerapan Teori Nation Branding yang dikembangkan oleh Simon Anholt. Anholt berargumen bahwa negara harus mengelola citranya sebagaimana perusahaan mengelola merek produknya. Indonesia, melalui Kemenekraf, sedang menggunakan WCCE untuk mengomunikasikan diri sebagai negara yang progresif, inovatif, dan ramah investasi kreatif.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa WCCE bukan sekadar seremoni, melainkan forum diplomasi kebijakan. Dalam pandangan Teori Public Diplomacy (Diplomasi Publik), agenda ini merupakan bentuk komunikasi soft power.
Indonesia tidak memaksa, tetapi memikat dunia dengan narasi “Inclusively Creative” (inklusif kreatif), di mana budaya, teknologi, dan gagasan disatukan. Konferensi ini menjadi panggung di mana Jakarta, dan Indonesia, didengar arah kebijakan kreatifnya oleh 80 negara anggota.
Narasi Visual dalam Ekonomi Kreatif Global
Subsektor fotografi memegang peranan krusial dalam WCCE 2026. Di era digital, fotografi bukan lagi sekadar dokumentasi, melainkan media komunikasi visual yang memengaruhi persepsi publik. Kemenekraf yang menaungi Direktorat Penerbitan dan Fotografi memahami bahwa foto yang tepat mampu menceritakan narasi budaya Indonesia yang kaya, menarik creativepreneur asing, dan mendorong ekspor produk kreatif.
Pada WCCE 2026, fotografi akan memainkan peran ganda. Pertama, sebagai Instrumen Soft Selling. Melalui Creative Village dan pameran, karya fotografi Indonesia yang inovatif akan dipamerkan kepada dunia, menciptakan citra visual branding yang kuat tentang kekayaan budaya Indonesia. Kedua, sebagai Komoditas Ekonomi Kreatif. Fotografi, baik fashion, kuliner, maupun jurnalistik, didorong untuk memiliki nilai ekonomi tinggi melalui monetisasi di platform global.
Visual Semiotics dan Media Baru
Dalam melihat peran fotografi di WCCE 2026, kita bisa menggunakan Teori Visual Semiotics (Semiotika Visual) dari Roland Barthes. Foto-foto yang dipamerkan di WCCE akan mengandung denotasi (apa yang terlihat) dan konotasi (makna kultural/ekonomi di baliknya). Foto produk UMKM yang diambil secara kreatif dan dipublikasikan di konferensi ini akan bertransformasi dari sekadar gambar menjadi simbol kemajuan teknologi dan kekayaan budaya Indonesia.
Selain itu, pendekatan Teori Media Baru (New Media Theory) dari Lev Manovich sangat relevan. Fotografi hari ini bersifat numerik (digital), modular, dan dapat dimanipulasi secara instan. Kemenekraf mendorong fotografer Indonesia untuk memaksimalkan teknologi ini dalam menciptakan narasi visual yang cepat menyebar secara global, didukung oleh platform-platform digital.
Jakarta sebagai Pusat Komunikasi Kreatif Global
Keterlibatan Jakarta sebagai Creative Hub menunjukkan pergeseran dari sekadar kota administratif menjadi pusat komunikasi kreatif. Sinergi pusat dan daerah ini krusial. WCCE 2026 akan menjadi panggung di mana Creative Cities Network (ICCN) berkolaborasi dengan komunitas kreatif global, menegaskan bahwa Jakarta adalah panggung, dan Indonesia adalah aktor utamanya.
Dengan demikian, WCCE 2026 di Jakarta adalah momentum krusial. Dengan pendekatan komunikasi strategis dan pemanfaatan subsektor fotografi yang optimal, pemerintah Indonesia tidak hanya sekadar menjadi tuan rumah, tetapi secara aktif mendefinisikan ulang lanskap ekonomi kreatif dunia. Melalui branding visual yang kuat dan resolusi kebijakan yang inklusif, Indonesia sedang berjalan menuju kiblat kreatif global, menegaskan bahwa kreativitas adalah masa depan ekonomi kita.
(Rimba Mahardika Fotografer, dan Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional).



Comment