Foto—Postingan Instagram. (Sumber: lnstagram @abun_nada)
Syekh Dr. Abdul Aziz ar-Rantisi, salah satu tokoh penting dalam perjuangan Hamas, pernah ditanya oleh seorang jurnalis:
“Apakah Anda tidak takut? Bukankah posisi Anda sebagai pengganti Syekh Ahmad Yassin akan membuat Anda diburu dan mungkin dibunuh dengan cara yang sama?”
Beliau menjawab dengan penuh keyakinan, lalu membacakan firman Allah:
قُلْ لَّنْ يَّنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ اِنْ فَرَرْتُمْ مِّنَ الْمَوْتِ اَوِ الْقَتْلِ وَاِذًا لَّا تُمَتَّعُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا ١٦
Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu lari dari kematian atau dari pembunuhan, maka pelarian itu tidak akan memberi manfaat sedikit pun kepadamu. Dan jika kamu terlepas sekalipun, maka kamu tidak akan menikmati kesenangan hidup kecuali sebentar saja.” (QS. al-Ahzab: 16)
Jawaban beliau tidak hanya menampik rasa takut, tapi juga mengajak merenung.
Bahwa hidup bukan soal panjang atau pendeknya umur, tapi untuk apa ia dihabiskan. Kita semua akan mati. Tidak ada tempat sembunyi dari ketetapan Allah. Tapi kita bisa memilih, apakah kita mati dgn menyumbangkan hidup untuk perjuangan, atau mati sia-sia tanpa arti.
Kini pertanyaannya tinggal satu:
Mau hidup dan mati dengan berkontribusi? Atau hanya menjadi penonton sejarah?



Comment