Foto—Motor yang dikendarai korban serta foto korban. (Sumber: Akun Instagram @magetanbanget dan Akun X @merapi_uncover)
Magetan, Ekspresi Indonesia—Misteri hilangnya Sheila Amalia Cristanti (21), mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM), akhirnya terjawab dengan pahit. Warga menemukan jenazahnya dalam kondisi meninggal dunia di sebuah parit di Jalan Raya Sarangan-Cemorosewu, Magetan, Jawa Timur, pada Jumat (28/3/2025). Penemuan ini sekaligus mengakhiri pencarian intensif selama tiga hari oleh keluarga dan pihak kepolisian.
Sheila diketahui merupakan mahasiswi angkatan 2023 dari Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, Fakultas Pertanian, UGM. Ia dilaporkan hilang setelah berpamitan pulang kampung ke Madiun pada Selasa, 25 Maret 2025, usai mengikuti kelas daring.
Jenazah ditemukan di dekat Tikungan Lawu Green Forest, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Tubuh Sheila tertindih sepeda motor miliknya yang terbalik di dalam parit dengan kedalaman sekitar 77 sentimeter dan lebar 60 sentimeter. Hanya bagian tangan dan kaki korban yang tampak dari luar, membuat proses penemuan semakin dramatis.
Kapolsek Plaosan, AKP Joko Yuhono, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyatakan bahwa korban diduga mengalami kecelakaan tunggal. “Ada bekas rem di jalanan menurun sebelum titik penemuan, kendaraan keluar dari jalur. Itu mengarah ke TKP,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Namun, dugaan ini belum sepenuhnya meredakan pertanyaan publik dan keluarga. Pasalnya, proses pencarian sempat melibatkan pelacakan lokasi terakhir ponsel korban melalui berbagai metode, termasuk IMEI dan provider seluler. Posisi terakhir ponsel Sheila terlacak di kawasan Lawu, sesuai dengan titik penemuan jenazah. Namun, kartu SIM diketahui tidak lagi aktif sejak pukul 15.00 WIB di hari yang sama.
Sebelumnya, Sheila sempat terekam kamera CCTV di kawasan Klaten sekitar pukul 14.09 WIB saat berkendara menggunakan motor Beat hitam bernopol AE 3413 CA. Ia mengenakan jaket hijau dan helm hitam. Jejak digital tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam pencarian.
Pihak keluarga yang sejak awal aktif melakukan pencarian mengaku terpukul atas kabar duka ini. Ayah kandung Sheila, Pak To, mengenali jasad putrinya dari behel di gigi, gelang di tangan, serta pakaian yang dikenakan.
“Korban sudah sulit dikenali. Identifikasi dibantu dengan ciri-ciri khusus dan pengakuan orang tua,” jelas AKP Joko.
Usai proses autopsi dan identifikasi di RSUD dr. Sayidiman Magetan, jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga dan dibawa ke Madiun untuk dimakamkan.
Kasus ini memunculkan banyak simpati di media sosial, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan faktor lain di balik kematian Sheila. Meski polisi menyatakan dugaan kuat mengarah pada kecelakaan tunggal, sejumlah pihak berharap penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan transparan.
Kematian tragis seorang mahasiswi di tengah perjalanan pulang kampung menjadi pengingat akan pentingnya keamanan dan penerangan di jalur rawan seperti Cemorosewu. Tragedi ini juga menambah daftar panjang kecelakaan di jalur ekstrem tersebut, yang dikenal curam dan minim pengawasan.
(Damar L.R.)



Comment