Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Ketika Maryam Pun Pernah Berandai Mati

Ketika Maryam Pun Pernah Berandai Mati

Ilustrasi

_Pengingat untuk Kita yang Terlalu Cepat Menghakimi_

Beberapa hari terakhir, jagat media sosial dan pemberitaan dikejutkan dengan kabar pilu: seorang mahasiswi UNS Solo ditemukan tak bernyawa setelah diduga melompat dari Jembatan Jurug ke Sungai Bengawan Solo. Tragedi itu bukan hanya meninggalkan duka, tapi juga menyisakan tanya: bagaimana seseorang bisa merasa begitu terpuruk hingga memilih akhir yang sunyi dan menyakitkan?

Sayangnya, di tengah keprihatinan, komentar-komentar tajam juga bermunculan. “Kurang iman.” “Gak kuat diuji.” “Kurang ngaji.” Seolah-olah iman yang cukup bisa menjadikan manusia kebal terhadap gelombang emosi dan rasa sakit yang kadang datang bertubi-tubi.

Namun mari kita berhenti sejenak. Mari menoleh ke kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, tentang perempuan paling suci yang pernah hidup: Maryam binti Imran. Di puncak keimanan dan ketaatannya, Maryam pernah sampai pada titik terendah hidupnya. Saat hendak melahirkan Nabi Isa ‘alayhissalam, sendiri, terasing, dan dihujani prasangka, Maryam mengucapkan kalimat ini:

يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

Ketua Bapemperda DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz Perkuat Sinergi dengan Jurnalis untuk Kawal Perubahan Jakarta

“Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti dan dilupakan.” (QS Maryam: 23)

Sebuah pengakuan getir. Ungkapan yang mungkin, di zaman kita, akan membuatnya divonis “kurang iman” atau dianggap “lemah”. Padahal itu keluar dari lisan seorang wanita yang dijamin menjadi pemimpin para perempuan surga.

Namun lihatlah respons Allah. Dia tidak menghardik Maryam. Tidak berkata, “Mana imanmu, Maryam?” Tidak pula menyuruhnya untuk “positif thinking” atau “jangan lebay.” Sebaliknya, Allah kirimkan malaikat Jibril, menyapa dengan lembut:

“Janganlah engkau bersedih…”

Lalu Jibril menyuruh Maryam makan, minum, menyenangkan hati. Penuhi dulu kebutuhan dasar. Pulihkan dahulu emosi. Baru setelah itu, Maryam diminta berpuasa diam, menata kembali jiwanya di tengah badai tudingan.

Politik Uang Tak Lagi Tunai, Saatnya Regulasi Kejar Modus ‘Serangan Fajar’ Digital

Kisah Maryam menjadi pengingat kuat bahwa iman tak menghapuskan emosi manusia. Depresi, kesedihan mendalam, keinginan mengakhiri hidup, bukan semata persoalan kurangnya ibadah. Tapi kadang, soal sepinya pelukan dan absennya pelipur.

Sebagian dari kita terlalu sigap memberi label. Lupa bahwa orang yang terlihat lemah belum tentu imannya rendah. Bisa jadi, justru mereka sedang berada di jalur jihad batin paling berat. Bertarung dengan luka yang tak tampak. Merintih dalam sunyi karena dunia tak menyediakan ruang aman untuk bercerita.

Maka, ketika seorang mahasiswi mengakhiri hidupnya di jembatan sepi, jangan buru-buru menghakimi. Bisa jadi, ia sudah lama terjun dalam lubuk kesendirian yang tak mampu dijangkau oleh mata kita. Ia mungkin hanya butuh satu pesan yang hangat. Satu pelukan tanpa penghakiman. Satu teman untuk berkata: “Aku dengar kamu, aku di sini.”

Jika Maryam saja bisa hancur di titik tertentu, siapa kita yang merasa kebal dari getir hidup?

Sudah saatnya masyarakat kita mengganti respons “kurang iman” dengan kehadiran yang penuh empati. Hadir bukan untuk menasihati, tapi untuk menemani. Mungkin itu yang paling dibutuhkan oleh mereka yang sedang berperang melawan gelap dalam dirinya.

WCCE 2026: Panggung Komunikasi Visual Dan Fotografi Indonesia Menuju Kiblat Kreatif Dunia

Bila hari ini kamu masih bisa makan dengan nikmat, tidur dengan tenang, dan bangun tanpa rasa ingin lenyap, maka bersyukurlah. Tapi jangan lupa, ada orang-orang yang sedang memanggil sepi dan menjerit dalam diam. Maka jika tak bisa jadi cahaya, jangan tambahi gelap mereka.

Semoga Allah melapangkan kubur saudari kita di Solo, dan melindungi jiwa-jiwa lain yang sedang letih tapi diam. Sebab tidak semua luka minta dilihat, tapi semua luka ingin disembuhkan. Dengan kasih. Bukan dengan caci. (akiomar)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Rabu, 10/06/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:17
maghrib 17:48
isya 19:02

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×