Advertisement
Opini
Home / Opini / Iran Balas Serangan: Euforia atau Kewaspadaan?  

Iran Balas Serangan: Euforia atau Kewaspadaan?  

Foto—Ilustrasi rudal Iran yang sedang membalas serangan Israel. (Sumber: REUTERS/Mussa Qawasma)

Ketika Iran membalas serangan udara Israel, dunia seperti gempar seketika. Roket beterbangan, sirine meraung di langit Tel Aviv, dan netizen bersorak di media sosial, seolah Iran adalah pahlawan yang selama ini ditunggu.

Namun di balik sorak sorai itu, ada pertanyaan yang perlu diajukan:

Apakah kita sedang merayakan keadilan, atau sedang tertipu oleh panggung geopolitik yang lebih besar?

Sebagian membela Iran atas dasar prinsip, bahwa kezaliman memang wajib dilawan. Jika Israel selama ini bisa menyerang atas nama “hak membela diri”, maka Iran yang kehilangan tokoh penting di tanah sendiri, punya hak serupa untuk membalas.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Al-Qur’an menegaskan: “Jika mereka menyerangmu, maka seranglah sebagaimana mereka menyerangmu.” (Al-Baqarah: 194).

Namun, tak sedikit pula yang mempertanyakan, Di mana saja Iran selama bertahun-tahun Gaza dihujani bom? Kenapa baru bertindak setelah fasilitas dan harga diri nasionalnya terusik?

Realitasnya adalah serangan ini bukan untuk membela Gaza, melainkan untuk menjaga martabat militer dan politik Iran. Maka dukungan kita harus berdasarkan prinsip, bukan fanatisme terhadap satu negara.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah standar ganda dunia. Saat Israel menggempur tanpa henti, dunia diam. Tapi begitu Iran membalas, barulah teriak soal “perdamaian regional” dan “de-eskalasi”.

Ini adalah kemunafikan global yang harus kita sadari.

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Sebagai umat Islam dan warga dunia yang waras, kita harus berpihak pada keadilan bukan pada siapa yang lebih kuat atau lebih lihai memainkan propaganda.

Jangan jadi penonton yang bersorak tanpa tahu naskah drama siapa yang sedang dimainkan. Jadilah umat yang cerdas, kritis, dan tidak mudah diperalat narasi kekuasaan.

Karena bisa jadi, kita sedang bersorak dalam permainan yang tidak pernah berpihak pada kita.

(HAH)

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Jumat, 17/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:04

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×