Sabar bukan perkara mudah, ini amalan yang berat dikerjakan namun memiliki pahala yang luar biasa.
Kesabaran dapat dilatih dimanapun, dan diajarkan oleh siapapun, seperti halnya Fudhail bin Iyadh rahimahullah yang belajar bersabar dari anak kecil.
Dari latar belakang hidupnya Fudhail bin Iyadh awalnya seorang kriminal yang kemudian memilih bertobat dan meninggalkan dunia hitam.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah menekuni berbagai ilmu agama, terutama hadits. Ia berguru dari banyak ulama pada masanya. Di antaranya adalah Sufyan ats-Tsauri, al-A’masy, Manshur bin Mu’tamir, dan Hisyam bin Hassan.
Pada akhirnya, ia dikenal sebagai pakar ilmu hadits dan memiliki banyak sanad. Beberapa tokoh yang di kemudian hari menjadi ulama besar tercatat pernah berguru kepadanya. Sebut saja, Imam Syafi’i, Ibnu al-Mubarok, al-Humaidy, dan Yahya bin al Qaththan
Berikut adalah kisah Fudhail bin Iyadh yang belajar tentang sabar dari bocah kecil. Kisah ini tercantum dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.
قال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى :
Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyadh semoga Allah yang maha tinggi merahmatinya.
تعلمت الصبر من صبي صغير :
Aku belajar sabar dari anak kecil laki-laki.
ذهبت مرة إلى المسجد فوجدت امرأة داخل دارها تضرب ابنها وهو يصرخ ففتح الباب وهرب فأغلقت عليه الباب ..
Suatu saat aku berangkat ke masjid, maka aku mendapatkan seorang perempuan masuk didalam rumahnya dan memukul anak lelakinya dan si anak lelaki tersebut berteriak maka dia (sang anak lelaki tersebut) membuka pintu dan anak lelaki tersebut berlari dan sang ibu menutup pintu atas anak tersebut.
قال : فلما رجعتُ نظرتُ ، فلقيت الولد بعدما بكى قليلا نام على عتبة الباب يستعطف أمه فرق قلب الأم ففتحت له الباب.
Berkata Al-Fudhail, maka ketika aku pulang dari masjid, aku melihat, maka aku bertemu dengan sang anak tersebut setelah menangis sedikit, sang anak tertidur di teras pintu, ibu nya pun terenyuh, menyayat hati sang ibu, maka sang ibu membuka pintu bagi sang anak tersebut.
فبكى الفضيل حتى ابتلت لحيته بالدموع
Maka menangislah Al-Fudhail sampai membasahi jenggot beliau dengan air mata.
وقال : سبحان الله !
Dan berkata Al-Fudhail: Subhanallah!
لو صبر العبد على باب الله عز وجل – لفتح الله له !
Jika seorang hamba bersabar di depan pintu Allah yang mulia yang maha agung, niscaya Allah akan membukakan (pintu rahmat) untuk sang hamba tersebut.
• قال “أبو الدرداء” رضي الله عنه “:
Berkata Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu
جدوا بالدعاء فإنه من يكثر قرع الباب يوشك أن يفتح له
Bersungguh-sungguhlah kamu sekalian dengan do’a, maka sesungguhnya barangsiapa yang sering mengetuk pintu (berdoa kepada Allah), bukan tidak mungkin dibukakan pintu (rahmat) untuknya.
Tidakkah kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini? Bila seorang ibu dengan sifat rahimnya tetap memberi belas kasihan pada anaknya yang melakukan kesalahan, apalagi Allah Yang Maha Rahim. Dialah pemilik seluruh kasih sayang sempurna sepenuh langit dan bumi.
Dan sungguh, pada hakikatnya yang tertutup itu adalah pintu hati kita akibat dosa-dosa, bukan pintu Tuhan. Karena bagaimana mungkin Dia terhijab dari sesuatu yang dinamakan pintu sedangkan Dialah Dzat yang melingkupi segala sesuatu?
Imam Ibnu ‘Athoillah As-Sakandari rahimahullah berkata:
لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء – موجبا ليأسك ؛ فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فما تختار لنفسك وفي الوقت الذي يريد ، لا في الوقت الذي تريد .
Janganlah engkau putus asa karena tertundanya karunia, padahal engkau telah mengulang-ulang doa. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yg Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yg engkau pilih sendiri, dan pada saat yg Dia kehendaki, bukan pada waktu yg engkau ingini. (aki_omar)



Comment