Pelaku kisah berikut ini menceritakan: “Di awal pernikahan kami, aku dan isteri terpapar sihir yang sangat keras. Kami bahkan diuji mungkin dengan buhul sihir. (Sihir uqod). Sebelum itu terjadi segala urusan kami baik-baik saja sesuai harapan. Kami akhirnya menuju kota Ismailiyah 2 pekan usai pernikahan itu. Semoga kami dapatkan kesembuhan di sana melalui beberapa pengobatan dengan al-Qur’an al-Karim.
Merupakan keajaiban ketetapan Allah adalah, bahwa di tengah kegelisahan yang meliputiku, aku menyewa sebuah mobil dengan seorang sopir yang tampak berasal dari masyarakat pada umumnya. Tidak terlihat pada dirinya jejak komitmen keberagamaan. Dalam perjalanan tersebut, ia sepertinya ingin menceritakan sesuatu yang aku duga sebagai hiburan belaka. Aku tidak tahu bahwa itu adalah pesan ALLah untukku.
Tiba-tiba saja dan tanpa prolog, sang sopir menoleh padaku dan berkata: “Tak ada yang paling baik dilakukan manusia selain mendekatkan diri kepada Tuhannya..!’
“Benar..” jawabku
Lalu terlintas di pikiranku bahwa orang ini hanya berbasa-basi denganku untuk mengakrabkan penampilannya yang sudah sepuh dan berjanggut.
“Aku ingin menceritakan kepadamu kisah diriku..” katanya lagi.
“Ya, silahkan.” Jawabku, sembari berusaha tak menampakkan kegelisahan yang aku rasakan.
Dengan tenang dan tetap konsentrasi, ia pun bercerita: “Aku orang miskin, dan bekerja sebagai sopir pada pemilik mobil sewa ini. Aku hidup sebatang kara di dunia. Memiliki tetangga sangat jahat dan selalu menggangguku. Di antara mereka bahkan ada pelaku kriminal. Aku sendiri tidak mempunyai keberanian menghadapi mereka.
Mereka juga menyihirku hingga membuatku sakit. Rasa gelisah telah memangsa tubuhku jadi kurus. Seperti binatang buas kelaparan melahap mangsanya. Membuat tubuhku tiada daya, bahkan tidak punya kekuatan untuk bekerja. Dunia menjadi demikian sempit bagiku. Membuatku merasa ingin bunuh diri.
Saat itu aku belum tahu kalau terkena sihir. Aku pun pergi ke dokter dan berhasil menguras hartaku yang sedikit hingga tak memiliki apa pun sekedar untuk membeli sejumlah kebutuhan. Sementara di cakrawala belum tampak tanda-tanda kesembuhan
Suatu malam saat tidur, aku merasa mendengar seruan untuk bangun, sholat dan memohon kepada ALLah Ta’ala. Aku pun segera berwudhu dan sholat dua rakaat, disertai tangis tak tertahan. Sesuatu yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Kupanjangkan sujudku. Kupanjatkan doa-doa dan rintihanku. Memohon kepada ALLah dan mengadu kepada-Nya akan kelemahan diriku, ketakberdayaanku, hajatku dan derita hatiku.
Usai sholat dan bermunajat kepada-Nya, kantuk menyerangku hingga membuatku tertidur di atas sajadahku. Dan kusaksikan dalam tidurku seseorang yang mengikat leherku dengan ikatan sihir. Ternyata mereka adalah tetanggaku. Aku lihat mereka seakan memberiku makanan serupa daging berwarna hitam gosong yang telah mereka masukkan sihir ke dalamnya. Mereka kemudian meminumkanku air berwarna kuning yang telah dicelupkan sihir ke dalamnya.
Seketika aku terbangun dengan tubuh gemetar. Aku segera mengambil air wudhu, dan shalat 2 rakaat kembali. Seraya memohon, menangis dan merintih kepada ALLah: “Tuhan, aku tidak memiliki siapa pun dalam kehidupan ini selain Engkau. Aku juga tak punya daya dan kekuatan untuk berobat kepada para Masyayikh. Tiada harta yang kumiliki untuk berobat pada dokter. Engkaulah Pemilik semesta ini, dan pada-Mulah kesembuhan..!!!”
Dan subhanallah, Maha Suci ALLah….!!
Pada akhir shalatku aku merasa harus ke toilet. Aku pun bergegas ke kamar mandi dan mengeluarkan seluruh kotoran isi perutku. Aku sungguh terkejut karena tak pernah melihat seperti itu sebelumnya. Warnanya sangat hitam dan aroma busuknya tak terkira. Hal tersebut membuatku muntah. Dan kudapati potongan daging hitam yang keras disertai cairan kekuningan. Seperti yang aku lihat dalam mimpiku saat tertidur di atas sajadahku…!
Setelah semua itu selesai, aku seketika merasakan diriku sungguh nyaman. Sebuah gunung seakan terlepas dari dadaku. Aku dapat bernapas lega dan darah pada tubuhku seakan mengalir dengan baik. Aku pun yakin bahwa itu adalah isyarat kesembuhan.
Hari itu juga aku putuskan berangkat ke tempat kerjaku tanpa memberitahu seorang pun apa yang terjadi. Agar di antara mereka yang telah menyihirku tidak memperbarui sihirnya.
Alhamdulillah. Kini aku merasa gembira dengan kesehatan yang aku rasakan. Aktivitasku kembali normal, dan urusanku pun menjadi lebih mudah. Pintu rezeki juga terbuka untukku. Alhamdulillah..”
Aku menyimak kisah yang diceritakan sopir mobil itu dengan baik seraya diliputi rasa malu. Mengapa orang ini menceritakan kisahnya? Dan mengapa ia kisahkan tentang peristiwa itu? Akhirnya aku sadari bahwa pertemuan ini adalah pesan langsung dari ALLah Ta’ala agar aku melakukan hal yang sama. Dan agar aku tetap mawas diri agar tidak tergantung kepada manusia. Tapi hanya bersandar semata kepada Tuhannya manusia.
Paman sopir mobil ini telah menjelaskan secara terang benderang tentang akidah tauhid tanpa bertele-tele dan tidak rumit. Mengimplementasikan penghambaan dirinya kepada ALLah dengan sangat baik ketika fitrahnya bertemu dengan sebuah realitas.
Sementara aku, seorang guru yang mengajarkan akidah kepada manusia, justru tenggelam dalam kubangan kekhawatiran tanpa mampu melihat jalan kebenaran..!!
Laki-laki ini seakan pelampung pertolongan yang melalui dirinya ALLah menyelamatkanku dari situasi dimana aku berada sekarang.
Aku pun bertekad memurnikan tauhidku, dan merealisasikan aktivitas penghambaanku. Seraya berserah diri penuh kepada ALLah Ta’ala. Tanpa terjebak dalam upaya ujicoba terhadap Tuhanku. Karena ALLah Yang Maha Agung tidak bereksperimen.
Wahai engkau yang diuji, datanglah pada Tuhanmu sepenuh keyakinan.
Ya, dengan keyakinan penuh.
Yakin terhadap Tuhan Yang Mulia dan Maha Kuasa.
Yakin, bahwa kan hadir kemudahan setelah kesulitan.
Yakin, bahwa kan ada solusi di balik kesempitan.
Dan jangan pernah membuat persyaratan dengan ALLah..! Karena tidaklah pantas bagi yang butuh meminta syarat kepada yang kaya..!! Dan jangan tergesa-gesa..!!! Karena ALLah sesungguhnya menguji dengan penundaan. Agar rasa dendam itu keluardari dalam dada. ALLah Ta’ala juga tiada tergesa menetapkan sesuatu pada seorang pun dari manusia.
Akhirnya aku berada di jalur kesembuhan dari sihir yang menimpaku, sebagaimana dialami laki-laki takwa yang baik itu. Dengan kejujuran, memurnikan tauhid dan tawakkal penuh kepada ALLah Ta’ala. Tak berselang sepekan, berkat karunia dan kemuliaan-Nya, terbitlah fajar kesembuhan. Solusi dari masalah yang kuhadapi mulai hadir, dan buah kesabaran kini dapat kupetik. Sihir yang menjeratku dapat terlepas, disertai cerita yang jauh lebih unik dan ajaib dari kisah laki-laki itu.
Hari ini, engkau dapat berkata kepada manusia, bahwa inilah terapi bagi setiap penyakit dan kegelisahan kalian. Pegang erat dan rendahkan diri kalian di hadapan-Nya..!! Apakah kalian tahu mengapa harus demikian..? Karena manusia umumnya ingin mengobati penyakit yang menimpanya seumpama hanya menekan sebuah tombol, lalu ia pun sembuh dari berbagai penyakit.
Pada era ‘serba cepat’ ini, manusia ingin mempercepat setiap sesuatu, dan bergantung pada segala hal. Kecuali yang hatinya terpaut kepada ALLah dengan terapi ruqyah. Saat mereka kian bersandar kepada manusia, maka jawaban kesembuhan itu pun akan tersendat.
Ketika mereka datang kepada ALLah, maka mereka datang untuk bereksperimen, berharap imbalan, atau menghadap kepada-Nya disertai keraguan..!! Bila demikian, maka keinginan dan kesembuhan mereka pun melambat. Sementara mereka menduga telah datang memohon dan berdoa. Padahal sesungguhnya mereka tak pernah mendatangi-Nya.
Memang tidak ada larangan melakukan terapi ruqyah syar’iyyah yang disertai dzikir, membaca surat al-fatihah, al-Baqarah, menggunakan minyak zaitun, air zam-zam, habbatushshauda (jintan hitam) dan daun bidara. Semua itu adalah asbab dan sarana terapi yang disyariatkan dan diperintahkan bagi setiap muslim. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, jangan sampai bersandar padanya. Tapi berserah dirilah hanya kepada ALLah Ta’ala Yang Maha Menyembuhkan.
Sebagian orang berkata: “Adalah Umar bin Khaththab Ra. meruqyah dengan bacaan Al-fatihah, dan ia pun sembuh.” Maka orang bijak berkata: “Ini surat Al-fatihah, tapi manakah Umar…?” Maksudnya adalah, bahwa ruqyah dengan bacaan tersebut harus disertai keyakinan dan keimanan sebagaimana Umar Ra.
Sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim yang artinya: “Doa itu adalah pedang yang tajam. Dan setiap pedang ada yang menebaskannya. Sebagaimana kadar kekuatan bahu sang penebas, seperti itu pula potongan yang akan diperoleh. Manakah Umar, dan manakah sang penebas?
Sebagai penutup..
Kepada setiap sosok yang dirundung gelisah, diuji dengan beragam ujian… Datanglah kepada ALLah dengan jiwa yang tunduk menghinakan diri, hati luluh dan rasa butuh pada-Nya. Disertai tetes air mata takut dan harap. Jujur pada doa yang dipanjatkan dan hanya bersandar kepada-Nya semata. Dengan izin ALLah, kan kau dapatkan apa yang engkau inginkan. Kekayaan ALLah tiada batas dan takkan berkurang karena Ia berikan kepada seseorang. Bahkan bila saja Ia berikan bagi seluruh makhluk-Nya di muka bumi…!!. (oleh Ust. Syarifuddin Ridwan)



Comment