Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Retreat Dan Umar Bin Khattab

Retreat Dan Umar Bin Khattab

Retreat Dan Umar Bin Khattab
Retreat Dan Umar Bin Khattab

Beberapa hari terakhir ini, terdapat sebuah peristiwa yang patut mendapatkan perhatian serius, yakni gelaran retret para kepala daerah yang baru terpilih. Meski acara tersebut digelar dengan gegap gempita, ada kesan yang menggelitik—seolah ada nuansa euforia yang berlebihan, bahkan terkesan kurang tepat. Mungkin ini hanya persepsi subjektif saya semata, namun hal ini layak untuk direfleksikan lebih dalam.

Pada hakikatnya, amanah yang diberikan kepada mereka bukanlah sesuatu yang ringan. Mereka adalah individu-individu terpilih yang ditempatkan sebagai penanggung jawab atas beban yang sangat besar. Beban tersebut tidak main-main—sedikit saja kesalahan yang dilakukan, risikonya akan berdampak luas dan serius terhadap masyarakat yang mereka pimpin.

Retret memang telah usai, namun yang tersisa adalah harapan besar rakyat terhadap janji-janji yang diucapkan selama masa kampanye. Harapan itu tidak boleh diabaikan atau dianggap remeh. Jangan sampai terjadi seperti lelucon yang kerap beredar di masyarakat: bedanya Pilkada dengan Pil KB adalah, kalau Pil KB lupa jadi, sedangkan Pilkada kalau sudah jadi, lupa.

Semoga para pemimpin ini benar-benar menjalankan amanah mereka dengan penuh tanggung jawab dan konsisten pada jalur yang benar. Jangan sampai ada jarak antara janji dan tindakan, karena jauh panggang dari api hanya akan mengecewakan rakyat yang telah mempercayakan masa depan daerahnya kepada mereka.

Di dunia ini pernah hadir seorang pemimpin agung yang layak menjadi inspirasi bagi seluruh pemimpin.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Pada suatu kesempatan Amirul Mu’minin Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu naik ke atas mimbar. Dan beliau berseru, _”Ash-sholaatu jaami’ah!”_

Sontak berkumpullah seluruh kaum muslimin, lalu beliau berkata, “Wahai sekalian manusia, ketika aku masih kanak-kanak, aku pernah menggembala kambing milik penduduk Mekkah dan aku juga memelihara kambing milik bibiku di Mekah pula.”

“Aku memelihara kambing itu, memberinya minum, memerah susunya. Dan aku bersihkan kotoran-kotoran di kambing itu. Mereka para pemilik ternak pun memberiku upah segenggam atau dua genggam kurma. Mereka menyerahkan upah itu berhadap- hadapan denganku langsung.”

“Boleh jadi Anda sekalian, ada yang tidak mengetahui bagaimana keadaanku dulunya. Maka ketahuilah sekarang, seperti itulah masa-masa kecilku dulu.”

Kemudian saat beliau turun dari mimbar
Sayyiduna Ali radhiyallahu ‘anhu berkata kepada beliau, “Wahai Amirul Mu’minin demi Allah aku melihat apa yang engkau perbuat ini adalah menghinakan dirimu sendiri.”

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Amirul Mu’minin Umar Bin Al Khattab ra menjawab, “Memang seperti itulah yang aku inginkan, karena jiwaku mulai berkata bahwasannya aku sekarang pemimpin seluruh mu’minin. Maka aku ingin memberi pelajaran kepada diriku ini dan aku beritahu nilai diriku ini kepada diriku sendiri…”

Masyaa Allah…😢
Sungguh pelajaran tentang tarbiyah dzatiyah cara mengikis perasaan lebih dan paling hebat dari orang lain.

Beliau merendahkan dirinya dengan tujuan untuk menghilangkan perasaan sombong dan membanggakan diri karena beliau sangat menyadari akan kebesaran dirinya. Tidaklah mungkin seseorang yang memilih kekuatan jiwa, dapat menjadi orang yang merasa dirinya kecil tanpa ada sebab apapun.

Dari sini, maka dapat disimpulkan bahwa Umar akan merendahkan dirinya dalam hal-hal yang dapat menimbulkan kesombongan. Oleh karena itu, beliau menolak untuk menaiki kuda gagah sebagai tanda kemenangan ketika akan memasuki Syam.

Ketika orang-orang mengkritik perbuatannya itu, beliau berseru kepada mereka, “Biarkan untaku berjalan! Karena sesungguhnya perintah berasal dari sana -sambil mengisyaratkan ke langit.”

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

Setiap kali orang-orang di sekelilingnya (terutama keluarganya) merasa bangga dengan kekuasaannya, maka beliau akan melarangnya dengan menggunakan sindiran.

Pada suatu hari beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya ketika mereka sedang berjalan-jalan di sebuah jalan dekat Makkah, “Aku masih melihat diriku di jalan ini sedang mengembalakan ternak keluarga Khaththab. Masa itu adalah masa yang sangat sulit dalam hidupku, dan sekarang aku menjadi orang nomor satu.”

Mendengar perkataan itu, anaknya bertanya, “Apa yang membuatmu berkata demikian, wahai Mukmin?”

Maka beliau meniawab, “Ayahmu sedang membanggakan dirinya, maka aku ingin menghilangkan perasaan itu.”

Demikian pula, ketika beliau bersujud dengan khusyu’ sebagai rasa syukur kepada Allah setelah perintahnya untuk memindahkan batu dari dekat kota Mekkah dipatuhi oleh Abu Sufyan.

Perbuatannya itu adalah sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan kepadanya untuk memberi perintah kepada Abu Sufyan dan telah menjadikan Abu Sufyan mernatuhi perintahnya.

Hal seperti ini bukanlah perbuatan merendahkan diri yang menunjukan kekerdilan pribadi seseorang, akan tetapi justru kekuatan dan rasa percaya diri. [aki omar]

Sumber:
Buku Kejeniusan Umar, Abbas Mahmud AL Akkad, Pustaka Azzam, 2002

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Sabtu, 18/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×