Dalam bayang-bayang masa jahiliyah, manusia menyembelih bukan karena cinta kepada Sang Pencipta, melainkan karena tunduk pada sistim paganisme, sesembahan pada berhala-berhala dan kekuatan palsu yang mereka sembah selain Allah.
Di hari-hari yang sama yang kini kita kenal sebagai hari-hari tasyriq, dahulu kaum jahiliyah menyembelih hewan sebagai bentuk penghambaan kepada berhala-berhala mereka. Bukan untuk mencari ridha Allah, tetapi sebagai persembahan bagi sesembahan palsu yang mereka agungkan.
Namun Islam datang membawa cahaya. Maka sembelihan itu disucikan kembali bukan dihapus, tapi diarahkan. Bukan untuk para berhala, tapi untuk Rabb semesta alam. Dan di hari-hari inilah, takbir menggema…
Allahu Akbar…
Allahu Akbar…
La ilaha ilLallah…
Allahu Akbar…
wa Lillahil hamd.
Takbir ini bukan sekadar lantunan lisan, melainkan deklarasi akidah. Seruan bahwa penghambaan kita tidak lagi bercabang, bahwa darah hewan yang kita sembelih bukan lagi untuk selain Allah, tapi murni untuk-Nya, dengan nama-Nya, dan karena perintah-Nya.
Kurban adalah tauhid yang dijelmakan dalam tindakan. Ia bukan sekadar ibadah harta, tapi juga pernyataan iman, bahwa hidup dan mati, sembelihan dan doa, semuanya hanya untuk Allah semata.
Sebagaimana Ibrahim alaihissalam mengangkat pisau bukan untuk menuruti perasaan atau logika, tetapi untuk membuktikan bahwa tidak ada cinta yang lebih tinggi dari cinta kepada Allah, maka kita pun menyembelih hari ini sebagai bukti bahwa loyalitas tertinggi kita adalah kepada-Nya.
Dalam takbir yang kita kumandangkan, ada pembebasan dari belenggu syirik. Dalam darah yang mengalir dari hewan kurban kita, ada jejak sejarah panjang pembaruan akidah manusia. Dan dalam setiap tebasan pisau itu, ada janji: bahwa kita adalah umat yang bertauhid, bukan umat yang tunduk kepada berhala zaman, baik ia berupa materi, kekuasaan, atau nafsu.
Maka janganlah kurban ini sekadar menjadi ritual tahunan. Jadikan ia momentum untuk meneguhkan kembali makna takbir dalam hidup kita. Bahwa yang Maha Besar bukan ego kita, bukan ambisi duniawi, tapi hanya Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kepada-Nya, segala sembelihan, amal, dan hidup ini kita persembahkan.
Sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Khaththabi rahimahullah.
حكمة التكبير في هذه الأيام، أن الجاهلية كانوا يذبحون لطواغيتهم فيها، فشرع التكبير فيها إشارة إلى تخصيص الذبح له، وعلى اسمه عز وجل.
Hikmah takbir di hari Ied ini adalah, dimana dahulu masa jahiliyah, masyarakat di hari-hari tersebut, menyembelih qurban yang dipersembahkan kepada berhala² mereka, alias sesembahan selain Allah. Maka setelah Islam datang, disyariatkanlah takbir di hari-hari tersebut, sebagai tanda sembelihan itu khusus dipersembahkan untuk Allah, dan disembelih dengan nama-Nya.
عيد الأضحى المبارك، تقبل الله منا ومبكم الطاعات وصالح الأعمال وكل عام وأنتم بخير
Selamat Idul Adha 1446H, semoga kita semua bisa meneladani para Nabi Allah dalam memegang teguh ajaran agama-Nya. Aamiin. (AHA)



Comment