Tidak semua orang diberi kesempatan menapakkan kaki di Arafah, Mina, dan Muzdalifah. Tidak semua mampu memandang Ka’bah dengan mata kepala. Namun, siapa pun bisa memulai hajinya dari dalam hati, dari tempat yang paling tersembunyi, tempat Allah lebih dekat daripada urat leher kita.
Bila kakimu tak sanggup berdiri di padang Arafah, berdirilah di hadapan batas-batas yang Allah tetapkan. Berhentilah dari segala yang Allah larang, karena itulah wuqufmu, wuquf kesadaran dan taubat.
Jika malam-malammu tidak berkesempatan dihabiskan di Muzdalifah, habiskanlah malam di atas sajadah, dalam ketenangan dzikir dan ketaatan. Itulah mabitmu, bermalam di sisi Tuhan yang selalu membuka pintu kembali.
Jika tanganmu belum mampu menggenggam pisau qurban di Mina, genggamlah hatimu dan sembelihlah hawa nafsu yang selalu ingin menguasai. Qurbanmu bukan darah dan daging, melainkan kepasrahan dan pengendalian diri.
Dan jika langkahmu tak sampai ke Baitullah, arahkan niatmu ke Rabb al-Bait, Tuhan Pemilik Ka’bah. Karena Dia lebih dekat dari apa pun yang bisa kau jangkau. Tidak perlu visa untuk mendekat kepada-Nya, cukup niat tulus dan hati yang bersih.
Haji bukan semata perjalanan fisik, tapi lebih dalam: ia adalah perjalanan menuju pemurnian diri, perjalanan menziarahi hati yang lama kosong dari kehadiran-Nya.
Maka bagi yang belum mampu ke Tanah Suci, jangan bersedih. Karena Tanah Suci sejatinya bisa hadir dalam jiwamu, saat engkau menjadikan hidup ini sebagai miqat untuk berubah, Arafah untuk sadar, Muzdalifah untuk tenang, Mina untuk berkorban, dan Ka’bah sebagai kiblat hidupmu, pengokohan arah hidupmu.
Seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah:
من لم يستطع الوقوف بعرفة، فليقف عند حدود الله الذى عرفه. ومن لم يستطع المبيت بمزدلفة، فليبت على طاعة الله ليقربه ويُزلفه. ومن لم يقدر على ذبح هديه بمِنى، فليذبح هواه ليبلغ به المُنى. ومن لم يستطع الوصول للبيت لأنه بعيد، فليقصد رب البيت فإنه أقرب من حبل الوريد
Siapa yang tak bisa wuquf di Arafah, hendaknya ia wuquf (menghentikan) semua larangan Allah yang diketahuinya. Siapa yang tak mampu mabit di Muzdalifah, hendaknya ia mabit (bermalam) dalam ketaatan kepada Allah untuk mendekat menghampiriNya. Siapa yg belum sanggup menyembelih hewan qurban di Mina, hendaknya ia menyembelih hawa nafsunya, agar tercapai segala harapannya. Siapa yang tak kuasa sampai ke Baitullah karena jauhnya, hendaknya ia menuju Rabbnya Ka’bah, karena Dia lebih dekat dari urat lehernya.
by aki_omar



Comment