Advertisement
Hikmah Kisah Oase
Home / Oase / Menjaga air muka

Menjaga air muka

Ilustrasi
Ilustrasi

Seorang laki-laki asing masuk ke majelis ilmu seorang Syaikh yang dikenal bijak dan kaya raya. Ia lalu duduk mendengar Syaikh tersebut mengajar murid-muridnya dan mereka yang berada di majelis itu. Tak terlihat pada wajah lelaki asing itu sebagai penuntut ilmu. Tapi sekilas menampak pada dirinya bahwa ia sosok terhormat di tengah kaumnya yang sedang dihinakan oleh kehidupan yang dilaluinya.

Walau majelis Syaikh telah usai, ia tetap duduk tenang dan sopan di tempatnya. Menyimak pembicaraan Syaikh dengan beberapa orang yang masih ada di majelis itu. Sementara tangannya memegang botol berisi air.

Seketika Syaikh bijak itu memotong ucapannya, lalu menoleh ke arah laki-laki asing tersebut sambil memperhatikan seksama raut wajahnya. Ia kemudian bertanya kepadanya, “Adakah sesuatu yang engkau butuhkan agar kami dapat memenuhinya..? Atau, sebuah pertanyaan hingga kami menjawabnya..?”

“Tidak yang pertama, juga yang kedua, ya Syaikh..! Aku seorang pedagang yang ingin berbisnis dengan tuan. Sebagaimana yang aku dengar tentang ilmu, pekerti dan kemuliaan tuan..!”Jawabnya tersenyum.

Sang Bijak mengangguk seraya menatap penuh makna kepada tamunya. Orang-orang yang masih berada di majelis tersebut hanya diam mendengar ucapan laki-laki itu. Ia kemudian melanjutkan kalimatnya, “Karena itu aku datang menemui tuan untuk menawarkan botol berisi air ini, yang aku telah bersumpah takkan menjualnya selain kepada yang sanggup menghargai nilainya. Dan aku sangat yakin, bahwa Anda adalah sosok yang sangat tepat dan layak membelinya..!” Katanya mengakhiri ucapannya.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

“Berikan Padaku botol itu..!” Jawab Syaikh kaya raya tersebut. Ia lalu melihat botol itu sepenuh perhatian sembari menganggukkan kepala pertanda kagum.

Ia lalu memandang tamu asing itu dan bertanya kepadanya, “Berapa harga jualnya..?”

“Seratus Dinar..!” Jawabnya

“Itu harga yang murah. Bagaimana kalau 150 Dinar..!”

“Tidak, tuan! Cukup 100 Dinar saja. Tidak kurang dan tidak lebih.” Jawab sang Tamu.

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Syaikh lalu berkata kepada putranya, “Berikan botol ini kepada ibumu, dan bawa kemari 100 dinar.” Dan tamu itupun menerima 100 dinar, seraya mengucap syukur dan terima kasih kepada pembeli botolnya, lalu keluar meninggalkan tempat tersebut.

Majelis Syaikh yang kaya dan bijak itu pun bubar. Mereka yang masih berada di majelis tersebut lalu pulang ke rumah mereka disertai rasa heran dan takjub pada Syaikh mereka yang membeli sebotol air seharga 100 Dinar…!!

Ketika Syaikh tersebut masuk ke peraduannya untuk tidur, puteranya yang masih dipenuhi rasa penasaran dan keingintahuan, memeriksa kembali botol itu dan memperhatikan isinya. Hingga ia yakin tanpa ragu sedikit pun kalau isinya hanya air biasa saja..!!

Ia segera menemui ayahnya disertai rasa heran, “Wahai sosok paling bijak dari yang bijak, engkau telah ditipu orang asing itu. Demi ALLah, tak ada kelebihan apapun dari air yang ayah beli dengan harga 100 dinar. Aku tidak tahu, apakah aku harus takjub pada kelihaian dan kelicikan penjual air itu, ataukah kagum pada kebaikan dan ketergesaan ayah membelinya..!”

Syaikh nan bijak itu hanya tersenyum dan tertawa melihat protes putranya. Ia lalu berkata kepadanya, “Anakku, engkau telah melihat air itu melalui pandangan matamu, maka kau melihatnya serupa air yang biasa saja. Tapi aku melihatnya dengan mata hati dan pengalamanku, maka aku lihat orang asing itu datang membawa botol berisi air mukanya, yang dengan kemuliaan dirinya enggan ia tumpahkan di hadapan orang banyak dengan meminta dan merendahkan diri. Ia sebenarnya butuh uang untuk memenuhi desakan kebutuhannya. Dan itu tidak lebih dari yang ia minta..!

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

AlhamduliLLah, segala puji bagi ALLah yang telah memberiku anugerah untuk memenuhinya, memahami keinginannya serta tetap menjaga air mukanya di hadapan hadirin. Bila saja aku bersumpah seribu kali bahwa yang aku bayarkan padanya sangat sedikit, niscaya itu takkan mencederai sumpahku. Karena itu, bila engkau sanggup memahami dan memenuhi hajat saudaramu sebelum ia mengutarakannya, maka lakukanlah..!! Sebab yang demikian itu lebih indah dan utama.

Perhatikanlah selalu keluarga, tetangga dan orang-orang yang engkau cintai. Karena mungkin saja mereka dalam kondisi yang sempit, sulit dan berat. Namun rasa malu, iffah serta menjaga air muka, menahan mereka menghinakan diri dengan meminta..!!

Cobalah membaca kebutuhan mereka sebelum mereka mengatakannya. Dan betapa indah kalimat seseorang yang berkata, “Bila engkau tak sanggup membaca diamnya saudaramu, niscaya engkau takkan mampu mendengar ucapannya..!”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Sabtu, 18/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×