Foto—Sebanyak 43 nyawa melayang akibat konflik bersenjata antara India dan Pakistan yang pecah sejak Rabu dini hari, 7 Mei 2025. (Sumber: REUTERS/Stringer)
Jakarta, Ekspresi Indonesia—Ketegangan di Asia Selatan kembali memanas setelah baku tembak berdarah antara India dan Pakistan meletus di sepanjang perbatasan, menewaskan sedikitnya 43 orang pada Rabu, 7 Mei 2025. Konflik ini dipicu oleh serangan rudal intensif yang diluncurkan oleh New Delhi pada dini hari, menandai eskalasi terbaru dalam sengketa berkepanjangan antara dua negara bersenjata nuklir tersebut.
Mengutip laporan AFP, pemerintah Pakistan mengungkapkan bahwa sebanyak 31 warganya, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi korban tewas akibat gempuran artileri dan serangan udara India di wilayah perbatasan. Sementara itu, India melaporkan 12 korban jiwa akibat rentetan tembakan balasan dari militer Pakistan.
Pertikaian ini terjadi hanya dua pekan setelah India menuding Pakistan berada di balik serangan mematikan terhadap wilayah Kashmir yang dikuasai India. Tuduhan itu langsung dibantah keras oleh Islamabad, yang menyebut klaim New Delhi sebagai narasi palsu yang bertujuan membenarkan agresi militer.
Militer India mengklaim telah berhasil melumpuhkan sembilan lokasi yang mereka sebut sebagai “kamp militan,” dan menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan secara terukur dan tidak ditujukan untuk memperluas konflik. Namun, pihak Pakistan membantah pernyataan tersebut dan menyatakan bahwa target utama serangan India adalah infrastruktur sipil.
Menurut keterangan militer Pakistan, salah satu serangan paling fatal menimpa sebuah pesantren di dekat kota Bahawalpur, Provinsi Punjab, yang menyebabkan 13 orang meninggal dunia. Tak hanya itu, kompleks pelayanan publik yang mencakup fasilitas kesehatan dan pendidikan di Muridke, sekitar 30 kilometer dari Lahore, turut hancur.
Selain itu, pembangkit listrik tenaga air yang terletak di kawasan Kashmir juga menjadi sasaran. Pemerintah Pakistan menyebut serangan itu sebagai upaya sistematis India untuk melemahkan sumber daya vital, menyusul ancaman sebelumnya dari New Delhi yang ingin menghentikan aliran air ke wilayah Pakistan.
India menyebut aksi militernya sebagai “langkah pembalasan sah” atas serangan terhadap rombongan wisatawan di Pahalgam, Kashmir, pada akhir April lalu. Namun, hingga kini tidak ada bukti kuat yang mengaitkan Pakistan dengan insiden tersebut, dan Islamabad kembali menepis segala keterlibatan.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dalam pernyataan resminya mengutuk keras tindakan militer India dan menyebutnya sebagai “agresi brutal yang tidak akan dibiarkan tanpa perlawanan.” Ia juga menegaskan bahwa Pakistan memiliki hak untuk mempertahankan diri dan warganya dari serangan sepihak.
Kondisi di sepanjang Line of Control (LoC), garis demarkasi tak resmi yang memisahkan wilayah Kashmir yang dikuasai masing-masing negara, kini dalam siaga tinggi. Belum ada sinyal dari kedua belah pihak untuk meredakan konflik, sementara dunia internasional kembali dihadapkan pada kekhawatiran pecahnya perang terbuka antara dua kekuatan bersenjata nuklir.
(Damar L.R.)



Comment