Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Kunci Kemenangan yang Terlupakan: Tafsir Syekh As-Sya’rawi tentang Janji Allah Dalam Surat Al-Isro’

Kunci Kemenangan yang Terlupakan: Tafsir Syekh As-Sya’rawi tentang Janji Allah Dalam Surat Al-Isro’

Di tengah gejolak dan keputusasaan yang seringkali menyelimuti kita saat melihat konflik di Palestina, banyak yang bertanya: kapan semua ini akan berakhir? Di manakah pertolongan Tuhan? Seorang ulama besar Mesir, Syekh Muhammad Metwali As-Sya’rawi, memberikan sebuah perspektif mendalam yang menggugah jiwa, bukan dari kacamata politik, melainkan dari lensa Al-Qur’an yang abadi.

Menurut Syekh As-Sya’rawi, apa yang terjadi hari ini sesungguhnya telah dijelaskan dalam Surah Al-Isra. Allah berfirman:

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ

“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali.” (QS. Al-Isra: 6)

“Giliran” kemenangan yang saat ini mereka miliki, kata Syekh As-Sya’rawi, bukanlah karena kekuatan inheren mereka, tetapi karena umat Islam telah menjauh dari esensi ajaran agamanya. Kapan “giliran” ini akan berakhir? Jawabannya jelas: “Ketika kita kembali menjadi hamba-hamba Allah (عباداًلله) yang sejati.”

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Syekh As-Sya’rawi menekankan bahwa persoalan ini harus dipandang sebagai masalah iman dan agama, bukan sekadar isu politik, nasionalisme Arab, atau perebutan wilayah semata. Kemenangan hanya akan datang jika umat secara kolektif kembali mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah.

Ketika Kekalahan Menjadi Bukti Kebenaran Al-Qur’an

Salah satu poin paling menarik dari Syekh As-Sya’rawi adalah cara beliau memaknai peristiwa yang menyakitkan sebagai penegasan janji Allah. Beliau bercerita tentang seorang arif billah (orang yang dekat dengan Allah) yang justru bersujud syukur ketika mendengar kabar Baitul Maqdis jatuh ke tangan Israel.

Orang-orang di sekitarnya terheran dan bertanya, “Mengapa engkau bersujud syukur atas jatuhnya Baitul Maqdis?”

Ia menjawab, “Karena Tuhanku telah membuktikan kebenaran firman-Nya.”

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Logikanya sederhana. Al-Qur’an menjanjikan bahwa kelak kaum muslimin akan memasuki Masjid Al-Aqsa untuk kedua kalinya. Bagaimana mungkin ada “kali kedua” jika tidak pernah ada peristiwa yang menyebabkan mereka “keluar” atau kehilangan kendali atasnya? Peristiwa pahit ini, dalam pandangannya, adalah syarat yang harus terjadi agar janji kemenangan di masa depan bisa terwujud. Ini adalah bukti bahwa skenario ilahi sedang berjalan persis seperti yang digariskan.

Analisis Mendalam tentang “Giliran” Mereka

Syekh As-Sya’rawi kemudian merinci bagaimana Al-Qur’an secara akurat menggambarkan kondisi “giliran” kemenangan pihak Israel saat ini. Allah tidak hanya memberikan mereka “giliran” (الكرة), tetapi juga:

1. Membantu dengan Harta dan Keturunan (Wa Amdadnaakum bi amwalin Wa Baniin): Mereka didukung dengan kekuatan finansial yang luar biasa dan sumber daya manusia (militer) yang kuat.

2. Menjadikan Kelompok yang Lebih Banyak Pendukungnya ( wa ja’alnaakum aktsaro nafiiro): Kata نفير (nafīrā) sangatlah unik. Ia berasal dari kata استنفر (istanfara), yang berarti meminta bantuan karena kekuatan diri sendiri tidak mencukupi. Al-Qur’an, dengan presisi luar biasa, mengisyaratkan bahwa kekuatan mereka tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh sekutu-sekutu dan negara-negara adidaya yang menjadi “pendukung” mereka. Ini adalah gambaran yang kita saksikan dengan mata kepala sendiri hari ini.

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

Janji Akhirat: Kemenangan yang Dinanti

Namun, apakah “giliran” mereka akan abadi? Tentu tidak. Allah melanjutkan firman-Nya dengan sebuah janji yang pasti:

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ

“Maka apabila datang saat hukuman kejahatan yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu…” (QS. Al-Isra: 7)

Siapakah yang akan “menyuramkan muka-muka mereka”? Al-Qur’an menjawab: $عباداً لنا$ (“hamba-hamba Kami”). Ini adalah sinyal kebangkitan kembali umat Islam yang sadar akan identitas spiritualnya. Syekh As-Sya’rawi melihat bahwa benih-benih kesadaran Islam (الوعي الإسلامي) telah mulai tumbuh.

Janji itu berlanjut:

وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ

“…dan mereka masuk ke dalam masjid sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama.”

Uniknya, penyebutan “memasuki masjid” hanya ada pada janji kedua, bukan yang pertama. Mengapa? Syekh As-Sya’rawi menjelaskan, saat penaklukan pertama di masa Khalifah Umar bin Khattab, Baitul Maqdis berada di bawah kekuasaan Romawi (Bizantium), bukan Yahudi. Maka, masuknya kaum muslimin saat itu bukanlah sebagai hukuman yang ditujukan langsung kepada Bani Israil.

Namun, pada janji kedua, konteksnya berbeda. Kaum muslimin akan merebutnya kembali dari tangan mereka yang telah menguasainya. Oleh karena itu, “memasuki masjid” menjadi simbol kemenangan yang spesifik dalam janji kedua ini.

Penghancuran dan Penantian

Janji kemenangan itu ditutup dengan kalimat yang dahsyat:

وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

“…dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al-Isra: 7)

Frasa “apa saja yang mereka kuasai/tinggikan” (مَا عَلَوْا) menyiratkan bahwa akan ada periode di mana mereka membangun, mendirikan bangunan, dan meninggikan peradaban mereka. Bagaimana mungkin sesuatu bisa dihancurkan jika ia belum dibangun terlebih dahulu? Sekali lagi, realitas hari ini—pembangunan masif yang mereka lakukan—adalah bagian dari skenario ilahi yang akan berujung pada janji penghancuran tersebut.

Kesimpulan

Kita sekarang, menurut Syekh As-Sya’rawi, berada dalam fase penantian “janji akhirat” (وعد الآخرة). Namun, ini bukanlah penantian yang pasif. Ini adalah sebuah “janji bersyarat” (وعد شرعي). Syaratnya hanya satu dan sangat jelas:

“Jika kita kembali menjadi hamba-hamba Allah yang sejati, sebagaimana generasi pertama.”

Jika syarat itu terpenuhi, maka janji untuk menyuramkan wajah musuh, memasuki kembali Masjid Al-Aqsa, dan menghancurkan apa yang telah mereka bangun dengan susah payah, pasti akan terwujud. Kunci kemenangan tidak terletak di meja perundingan politik, tetapi di dalam hati setiap muslim yang bertekad untuk kembali kepada Tuhannya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Jumat, 17/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:04

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×