Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Kuli Panggul Itu Seorang Gubernur

Kuli Panggul Itu Seorang Gubernur

Ilustrasi

Di kota Madain, sebuah kota penting di wilayah Irak pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, hiduplah seorang gubernur yang dikenal bijak dan amat sederhana. Namanya Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, sahabat mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengarungi perjalanan panjang dari Persia hingga menemukan cahaya Islam.

Suatu hari, sang gubernur berjalan menyusuri pasar kota. Tak ada yang istimewa dari penampilannya, pakaian sedikit lusuh, langkah yang bersahaja, dan berjalan tanpa pengawal. Ia menyatu dengan rakyatnya, tanpa atribut kehormatan sebagai pejabat, jauh dari sosok keangkuhan.

Di tengah pasar yang ramai, seorang pria berpakaian rapi, sepertinya salah satu pembesar negeri, sedang sibuk membeli barang. Ketika melihat lelaki sederhana itu lewat, ia mengira bahwa pria itu hanyalah seorang kuli panggul.

“Hei, kemari!” serunya. “Bawa semua barang-barang ini ke rumahku!”

Tanpa membantah, sang gubernur mengangguk dan mulai mengangkat barang-barang belanjaan itu. Ia memikulnya tanpa keluhan, menyusuri jalanan Madain dengan beban di punggung, dan kesabaran di hati.
Warga mulai menyapanya dan terperangah. Mereka mengenali pria itu. “Wahai gubernur,” seru mereka, “berikan beban itu pada kami!”

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Namun ia menolak. Ia terus melangkah, menunaikan amanah kecil yang dibebankan kepadanya, walau secara tidak sengaja.

Di belakangnya, sang pembesar mulai merasa tak enak hati. Ada sesuatu yang janggal pada lelaki ini. Wajahnya.
Seperti dikenalnya.
Pelan-pelan, kesadarannya mulai terbangun.

“Astaghfirullah,” bisiknya dalam hati, “Bukankah itu gubernur kita?!”

Ia segera menghampiri, meminta maaf dengan penuh penyesalan. “Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu siapa dirimu. Semoga Allah merahmatimu.”

Gubernur itu menoleh dengan tenang. “Teruskan saja perjalananmu,” ucapnya.

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Ia tetap mengangkat beban itu hingga sampai ke rumah lelaki tersebut. Di sana, sang pembesar berdiri dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tidak akan pernah meminta bantuan siapa pun lagi,” katanya.

“Tidak untuk selamanya.”

Begitulah tawadu’nya seorang pemimpin sejati. Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu tak pernah memandang jabatan sebagai pemuliaan, melainkan ujian. Ia tidak hidup dalam kemewahan, hingga penampilannya pun tak dikenali.

Dari kisah ini kita belajar tentang rendah hati bukan berarti lemah. Jabatan bukanlah kekuasaan mutlak dimana seseorang bisa seenaknya memerintah, tapi jabatan itu amanah yang menguji seberapa rendah hati seseorang kepada manusia, dan lebih-lebih lagi kepada Allah subhanahu wata’ala.

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

Dikutip dari ‘Generasi yang Dijanjikan Kemenangan, karya Dr. Majdi Al-Hilali

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Jumat, 17/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:04

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×