Advertisement
Hikmah Inspirasi Kisah Oase
Home / Oase / Ketika Kebaikan Tak Butuh Sorak

Ketika Kebaikan Tak Butuh Sorak

Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial kembali ramai. Kali ini bukan soal kontroversi atau sensasi, melainkan jejak-jejak kebaikan yang diam-diam ditinggalkan oleh sosok muda yang baru saja berpulang: seorang relawan kemanusiaan yang wafat saat menjalankan tugas evakuasi bencana di tanah pelosok. Namanya mungkin tak sepopuler selebritas dunia maya, tapi setelah kepergiannya, dunia justru ramai membicarakan amalnya yang tak pernah ia unggah.

Dalam kehidupan ini, Allah sering kali menyembunyikan kebaikan atau aib seseorang. Ada yang baru tampak di akhir hayatnya, sebagai bentuk kasih sayang-Nya, agar kita bisa mengambil pelajaran. Betapa banyak amal tersembunyi yang tak tercium manusia semasa hidup, namun dibuka Allah agar menjadi penanda kemuliaan seorang hamba.

Setiap zaman menyimpan kisah orang-orang yang menyembunyikan kebaikan mereka, seolah ingin menjaga kemurnian hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Mereka berjalan di tengah hiruk-pikuk dunia, namun hatinya senantiasa terpaut pada langit.

Salah satu kisah yang diabadikan dalam lembar sejarah adalah tentang cicit Rasulullah SAW, Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, yang lebih dikenal dengan gelar Zainul Abidin — “hiasan para ahli ibadah.” Ia hidup dalam kesederhanaan, namun berharta, berilmu, dan penuh kasih. Di balik tirai malam, ia berkeliling Madinah memanggul karung gandum di punggungnya. Satu per satu ia letakkan di depan rumah orang miskin, tanpa seorang pun tahu dari mana datangnya rezeki itu.

Setelah wafatnya, penduduk Madinah baru menyadari siapa sosok misterius yang selama ini menjadi penolong diam-diam mereka. Punggung sang imam tampak memar oleh bekas karung-karung gandum yang ia pikul bertahun-tahun. Kebaikan itu terjaga dalam sunyi, hingga Allah membukanya sebagai cahaya bagi dunia.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Dan zaman terus bergulir. Dalam lembar sejarah lain, seorang ulama besar bernama Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad ibn Habib al-Mawardi, atau lebih dikenal dengan Imam Al-Mawardi, pernah berwasiat, “Jika saat aku sakaratul maut, tanganku tidak menggenggam tanganmu, maka ketahuilah, aku telah menemukan keikhlasanku. Gunakanlah seluruh kitab yang kutulis. Tapi bila aku menggenggam tanganmu, hancurkan semuanya. Aku belum temukan keikhlasan.”

Saat ajal tiba, tangannya tetap terbuka, tak menggenggam. Lalu, kitab-kitab itu ditemukan—warisan pemikiran yang kelak menjadi rujukan besar dalam ilmu politik Islam: Al-Ahkam al-Sultaniyyah, Qanun al-Wazarah, Nasihat al-Mulk. Semua itu lahir dari jiwa yang tak ingin dikenang karena popularitas, tapi ingin diterima oleh Allah semata.

Kini, di tengah dunia yang semakin bising, diam justru menjadi kekuatan. Ketika banyak orang berlomba menunjukkan amal, ada jiwa-jiwa pilihan yang justru menyembunyikannya rapat-rapat, seolah tak ingin satu pun mata selain Allah menjadi saksinya. Mereka memilih sunyi, sebab mereka tahu: keikhlasan lebih mudah tumbuh dalam keheningan.

Kita sering kali lupa bahwa Allah Maha Melihat, bahkan terhadap sekecil-kecilnya amal yang tersembunyi. Kita lupa bahwa pujian bisa jadi racun, dan popularitas kadang mencuri ketulusan. Maka kisah para salih yang memilih menyembunyikan amalnya adalah tamparan halus: bahwa tidak semua kebaikan harus diketahui, tidak semua jasa harus dibalas manusia, dan tidak semua amal butuh tepuk tangan.

Betapa mulianya jiwa-jiwa seperti Imam Zainul Abidin yang memanggul gandum di gelapnya malam, bukan hanya untuk memberi makan, tetapi untuk menjaga agar kebaikannya tetap murni—hanya antara dia dan Rabb-nya. Atau seperti Imam Al-Mawardi yang bahkan mempertaruhkan warisan intelektualnya demi satu hal: keikhlasan.

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Hari ini, kita diajak bertanya dalam-dalam: untuk siapa sebenarnya amal-amal kita? Untuk siapa status kebaikan itu ditulis? Untuk apa unggahan sedekah itu dibagikan?

Mungkin, di tengah dunia yang serba pamer ini, kita perlu belajar mencintai sunyi kembali. Belajar menyembunyikan amal seperti kita menyembunyikan aib. Karena bisa jadi, kebaikan yang paling diterima justru yang tak pernah diketahui siapa pun.

Dan ketika Allah memutuskan untuk menampakkan kebaikan itu di akhir, itu bukan karena kita istimewa—tetapi agar orang lain belajar darinya, lalu melanjutkan jejak yang telah ditinggalkan.

Maka, biarlah kebaikan itu tetap tersembunyi.

Cukuplah Allah sebagai saksi. Karena pujian manusia tak akan mampu membeli ridha Ilahi.

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

 

(Alfaqir Aki Omar)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Jumat, 17/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:04

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×