Seorang nelayan duduk di pinggir pantai, saat itu dinihari menjelang fajar.
Ia menemukan di samping tempat duduknya sebuah kantong yang berisi penuh batu.
Ia kemudian memungut batu yang berada dalam kantong itu dan melemparnya ke laut.
Suara batu yang dilemparnya terdengar menyentuh permukaan air laut menimbulkan suara yang membuatnya senang.
Ia kemudian mengambil kembali satu per satu batu yang berada pada kantong itu dan melemparnya ke laut sambil menikmati suara yang ditimbulkan.
Ketika sinar matahari mulai muncul dan ia melihat isi kantong itu, terlihat samar-samar bahwa kantong itu berisi berlian, namun sayang isi dari kantong itu cuma tersisa sebutir batu saja.
Ia baru menyadari bahwa kantong itu dari semalam berisi penuh berlian yang dilemparnya ke dalam laut sambil menikmati suara yang ditimbulkan darinya.
Duh, betapa penyesalan menjalar ke seluruh relung hatinya. Namun hal itu tiada guna. Seperti dalam pepatah, “Sesal kemudian tak berguna.”
Ia pun kembali ke rumahnya dengan hati yang dipenuhi penyesalan.
Tahukah Anda?
Nelayan itu adalah kita.
Kantong yang berisi berlian adalah umur kita.
Suara batu yang dilempar dan berpadu dengan air adalah kesenangan dan syahwat kita.
Gelapnya malam adalah lupa diri akan Tuhan.
Dan rumah tempat kembali adalah kubur dan alam sesudahnya.
_”Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (niscaya kamu tidak akan melakukannya). Pasti kamu benar-benar akan melihat (neraka) Jahim. Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).”_
الهاكم التكاثر حتى زرتم المقابر كلا سوف تعلمون ثم كلا سوف تعلمون كلا لو تعلمون علم اليقين لترون الجحيم ثم لترونها عين اليقين ثم لتسألن يومئذ عن النعيم. صدق الله العظيم



Comment