Bila harta dikelola orang yang amanah
Mekkah, 23 Mei 2025 – Di antara hiruk pikuk jutaan langkah yang menapaki Tanah Suci, 4.378 jemaah haji asal Aceh menerima bukan sekadar dana, tetapi amanah cinta yang diwariskan sejak lebih dari dua abad silam. Bertempat di Hotel Awqaf Al Mufti, Mekkah, pada Jumat yang syahdu itu, mereka menerima dana wakaf Baitul Asyi sebesar 2.000 riyal atau sekitar Rp 8,7 juta, langsung dari tangan Syekh Abullatif Baltou, sang nazir wakaf.
Di balik angka dan nama-nama yang disebut, mengalir sebuah kisah suci yang lahir dari keikhlasan seorang hamba Allah: Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi ~lebih dikenal sebagai Habib Bugak Al-Asyi. Seorang ulama dan saudagar asal Mekkah yang hijrah ke Aceh pada tahun 1803, membawa serta visi kemuliaan: membangun peradaban wakaf yang hidup dan memberi.
Tanah dan rumah yang diwakafkannya di Mekkah, awalnya untuk tempat singgah jemaah dan pelajar Aceh, kini telah menjelma menjadi lima bangunan strategis yang menafkahi ribuan ruh-ruh yang datang bertamu ke Baitullah. Di sanalah letak keberkahan wakaf: tumbuh dari akar keikhlasan dan menyebar menjadi pohon manfaat yang rindang sepanjang zaman.
“Baitul Asyi adalah bukti bahwa wakaf tidak mati. Ia hidup, berkembang, dan terus memberi,” ujar Syekh Abullatif Baltou. Pernyataan ini bukan sekadar kalimat, tapi kesaksian sejarah yang nyata, tentang amal jariyah yang tak mengenal akhir.
Bagi para jemaah haji Aceh, penyaluran dana ini bukan hanya dukungan logistik. Ini adalah sapaan kasih dari masa lalu, semacam pelukan dari leluhur yang tak ingin anak cucunya letih dalam ibadah. Ini adalah tanda bahwa spiritualitas tidak berhenti di ruang pribadi, tapi terus bergema dalam solidaritas sosial.
Dan di Tanah Haram yang mulia ini, setiap riyal yang diterima bukan sekadar angka, melainkan pesan: bahwa cinta kepada Allah selalu menemukan jalannya untuk memberi. Habib Bugak telah membuktikan itu, dengan wakaf yang terus bernyawa, meski jasadnya telah lama tiada. (hah)



Comment