Dari mata turun ke hati, adalah ungkapan yang sering kita dengar dengan kebenaran makna yang terkandung di dalamnya, bahwa segala sesuatu yang sampai ke hati pada mulanya berasal dari apa yang di lihat oleh mata, atau di dengar oleh telinga, akal kemudian menerima dan menampungnya sebelum mengirimnya ke dalam hati yang melakukan proses mengolah dan merespon. Maka bila hati seseorang itu baik dan lurus, maka setiap informasi yang diterima oleh akal akan direspon secara posistif dan memberi dampak baik bagi dirinya maupun orang lain. Sebaliknya, bila hati kotor dan mengandung penyakit, maka respon yang ditampakkannya jadi negatif dan buruk.
Karena itu, dalam surat an-Nuur ayat 30-31, Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan agar menjaga pandangan matanya; merendahkan atau memalingkannya dari sesuatu yang dapat mengotori hatinya. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.,” Ibnu Abbas ra., seorang sahabat Nabi saw., menyebutkan bahwa seruan kepada wanita dan laki-laki muslim pada ayat di atas adalah agar mereka menundukkan pandangannya pada segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, khususnya terhadap aurat lawan jenis yang tidak hanya mengotori hati, tapi juga mendekatkan seseorang kepada perzinahan. Rasulullah saw. dalam sebuah hadits Qudsi mengatakan, “Pandangan mata adalah salah satu anak panah iblis yang beracun, siapa yang meninggalkannya karena takut pada-Ku, niscaya Aku gantikan untuknya dengan iman yang ia rasakan kelezatannya di dalam hatinya.” (HR. Al-Hakim)
Selain kedua ayat di atas yang menunjukkan kecintaan Allah Ta’ala pada hamba-hamba-Nya yang beriman dengan mengingatkan mereka agar menjaga pandangan matanya, juga ditemukan peringatan serupa pada surat Thaha ayat 131 yang berbunyi: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepa da golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”
Ayat ini mengingatkan untuk selalu berhati-hati dan waspada saat memandang sesuatu, tidak berlama-lama melihatnya atau memandangnya sepenuh mata agar apa yang dilihat tidak menciptakan dampak buruk bagi hati. Khususnya saat menyaksikan nikmat dan karunia Allah berupa kekayaan berlimpah kepada seseorang, yang secara alamiah akan memunculkan keinginan dalam hati untuk memiliki apa yang dimiliki orang tersebut. Sebagaimana sikap sekelompok orang ketika Qarun menampakkan harta kekayaannya di hadapan mereka:
“Maka, keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Andaikata kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Qashash: 79)
Coba perhatikan respon orang-orang yang hatinya didominasi keinginan pada kehidupan dunia dengan menjadikannnya sebagai tujuan hidup, limpahan harta tersebut seakan keberuntungan besar yang tak terhingga dan akan membuat mereka kekal di dunia yang fana: “Dia mengira bahwa hartanya dapat mengekalkannya.” (QS. Al-Humazah: 3). Mereka tidak sadar bahwa kekayaan tersebut serupa bunga-bunga dunia yang pasti kan layu dan sirna, dan tidak lebih dari cobaan dan ujian bagi pemiliknya.
Lalu bagaimana sikap dan respon orang-orang yang hatinya lurus dan bersih pada apa yang dilihatnya?: Orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata:
“Celakalah kamu! (Ketahuilah bahwa) pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. (Pahala yang besar) itu hanya diperoleh orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash: 80)
Mereka yang dianugerahi ilmu yang bermanfaat oleh Allah tidak tertipu oleh semua itu. Mereka bahkan memberi nasihat kepada orang-orang yang tertipu itu dengan berkata, “Celakalah kamu atas sikap dan keyakinan seperti itu! Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepada-Nya. Ketahuilah, pahala dan kenikmatan yang disediakan oleh Allah di sisi-Nya lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan daripada kekayaan yang dimiliki dan dipamerkan oleh Qarun, dan pahala yang besar itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar dan tabah dalam melaksanakan konsekuensi keimanan dan amal saleh serta menerima ujian dan cobaan dari Allah.”
Betapa pentingnya menguatkan hati dalam keimanan pada-Nya agar tidak dengan mudah terprovokasi pada apa yang disaksikan oleh mata. Semuat godaan itu tentu bersumber dari setan yang dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang kehidupan akhirat yang abadi dan jauh lebih baik, serta rendahnya rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat-Nya. Maka terkait harta kekayaan, pandanglah mereka yang kehidupannya lebih sulit dan berat darimu agar tidak terputus kesyukuran pada nikmat-Nya. Dan bila terkait ilmu, lihatlah ke atas yang lebih tinggi ilmu pengetahuannya darimu, agar selalu hadir motivasi untuk belajar dan berilmu pengetahuan.
Serang, 20/02/2025
Syarif Ridwan



Comment