Foto—Anak Palestina yang sedang bermain bersama kucing. (Sumber: Istimewa)
Ada dua kisah dalam Al-Quran tentang orang yang terhalang untuk ikut berjihad.
Keduanya menghadapi kendala karena kelemahan masing-masing. Satu kelompok mendapat pahala jihad. Satu kelompok mendapat dosa dan kecaman dari Allah.
Kisah pertama terjadi di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam.
Ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Palestina dan berjihad melawan kaum yang zalim, mereka menolak. Mereka tahu itu perintah Allah. Akan tetapi mereka terlalu takut. Takut kepada kekuatan musuh. Sampai mereka mencaci Nabi Musa ‘alaihissalam :
فَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ
“Pergilah kamu (Musa) bersama Tuhanmu, dan berperanglah. Kami hanya akan duduk di sini.” (Al-Ma’idah: 24)
Mereka enggan berjuang. Mereka tak mau susah. Maka Allah sesatkan mereka, dan mereka hidup menderita selama 40 tahun di padang pasir.
Kisah kedua terjadi di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika Perang Tabuk diumumkan, beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum yang miskin datang kepada Rasulullah. Mereka meminta bantuan Rasulullah untuk menyediakan kendaraan agar mereka bisa ikut dalam kafilah jihad.
Namun Rasulullah menjawab:
لَآ اَجِدُ مَآ اَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ
“Aku tidak menemukan kendaraan untuk membawa kalian.”
Apa reaksi mereka?
Mereka tidak marah. Mereka tidak menyalahkan takdir. Mereka tidak berkata sinis. Mereka hanya berpaling dan menangis. Air mata mengalir karena tidak bisa ikut berjihad. Sebuah tangisan yang tulus karena rindu syahid.
Karena hati mereka sudah lama berada di medan perang, meski tubuh mereka terhalang. Dan Allah mengabadikan tangisan mereka dalam Al-Quran:
تَوَلَّوْا وَّاَعْيُنُهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا اَلَّا يَجِدُوْا مَا يُنْفِقُوْنَۗ
“Mereka pun pergi dengan mata bercucuran air mata karena sedih, tidak mendapatkan apa yang bisa mereka infakkan…” (At-Taubah: 92)
Hari ini…kita juga sedang diuji.
Gaza sedang berdarah.
Saudara-saudara kita dibunuh dengan kejam. Masjid dan bangunan dihancurkan.
Dan kita?
Kita menjadi orang yang terhalang untuk melawan kezaliman ini.
Bukan karena tidak ada iman, tapi karena kelemahan yang membelenggu umat ini.
Sekarang kita diberi pilihan.
Maukah kita seperti Bani Israil yang enggan berjuang dan mencela para pejuang?
Atau seperti para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang miskin, yang menangis karena tidak bisa pergi berjihad?
Hari ini…
Jika kita tidak mampu mengangkat senjata, jangan justru mengangkat lidah untuk menghina perjuangan.
Jangan merendahkan mereka yang mengajak kepada jihad.
Jangan mencaci mereka yang membangkitkan semangat perjuangan.
Lebih baik kita menangis dan bertaubat, karena atas kelemahan kita ini, kita gagal membela lebih dari 50.000 saudara kita yang telah syahid.
Sesungguhnya, air mata orang yang ikhlas ingin berjihad, lebih bernilai daripada tawa orang yang lalai.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang, tidaklah kalian melewati suatu jalan atau lembah, melainkan mereka bersama kalian dalam pahala, karena mereka terhalang oleh uzur.” (HR. Imam Bukhari & Imam Muslim)
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni uzur dan kelemahan kita, dan mencatat kita termasuk orang-orang yang tulus ingin membela saudara-saudara kita di Palestina.
(Alfaqir Aki Omar)



Comment