Advertisement
Internasional Peristiwa Politik
Home / Politik / Eskalasi Ketegangan Israel-Lebanon: Perang Multi-Front Kembali Membara

Eskalasi Ketegangan Israel-Lebanon: Perang Multi-Front Kembali Membara

Foto—Serangan udara yang dilancarkan Israel mengguncang basis Hizbullah di Lebanon. (Sumber: Kompas.com)

Jakarta, Ekspresi Indonesia—Ketegangan antara Israel dan Lebanon kembali meningkat setelah gencatan senjata selama tiga bulan. Pada pagi hari, enam roket ditembakkan dari wilayah Lebanon ke Israel, menimbulkan pertanyaan besar mengenai apakah pertempuran di front utara telah dimulai kembali dan apakah gencatan senjata masih berlaku.

Gencatan senjata sebelumnya disepakati setelah Israel melancarkan perang terhadap Lebanon, yang menewaskan sekitar 6.000 warga sipil dan menghancurkan banyak kota di selatan Lebanon. Namun, sejak perjanjian itu diteken, Israel terus melakukan pelanggaran sepihak dengan alasan menegakkan kesepakatan. Pelanggaran ini memicu ketegangan yang kini kembali meledak.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menghadapi tekanan domestik besar untuk mencapai kesepakatan dengan Gaza. Namun, ia justru mengalihkan fokus ke Lebanon dengan mengumumkan perang di sana. Setelah gencatan senjata tercapai di Lebanon, Israel juga membuat kesepakatan serupa dengan Gaza—hanya untuk segera melanggarnya.

Pelanggaran Israel terhadap wilayah selatan Lebanon membuat kelompok Hizbullah mengeluarkan peringatan keras. Sekretaris Jenderal Hizbullah menyatakan bahwa Israel hanya memahami bahasa kekuatan dan menegaskan bahwa perlawanan tidak akan berhenti.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Meskipun kehilangan beberapa pemimpin utama akibat pembunuhan yang ditargetkan, Hizbullah tetap menunjukkan kekuatan tempurnya. Sehari sebelum gencatan senjata, mereka meluncurkan 500 roket ke berbagai wilayah Israel, termasuk daerah padat penduduk, menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kapasitas militer yang signifikan.

Hingga saat ini, Hizbullah belum mengklaim serangan terbaru terhadap Israel. Namun, ada indikasi kuat bahwa kelompok bersenjata lain di Lebanon, seperti Brigade Al-Qassam (sayap militer Hamas) dan Brigade Al-Quds (Palestinian Islamic Jihad), turut melakukan serangan dengan koordinasi atau setidaknya restu dari Hizbullah.

Lebanon sendiri berada dalam dilema. Tidak semua elemen politik di negara itu mendukung perlawanan bersenjata. Pemerintah baru Lebanon sempat mencoba menyelesaikan konflik ini secara diplomatis. Namun, tekanan dari Amerika Serikat yang meminta Hizbullah disingkirkan dari Lebanon selatan membuat situasi semakin rumit. Jika Lebanon gagal menindak Hizbullah, Israel dikabarkan akan diberikan kebebasan untuk bertindak lebih jauh.

Kelompok-kelompok perlawanan melihat pengalaman Gaza sebagai bukti bahwa gencatan senjata bisa dengan mudah dikhianati oleh Israel. Oleh karena itu, mereka merasa perlu melakukan serangan pencegahan agar tidak terjebak dalam kondisi serupa.

Hizbullah menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Israel kembali menguasai wilayah Lebanon. Mereka menganggap diri mereka sebagai penjaga kedaulatan Lebanon yang telah berhasil mengusir pendudukan Israel sejak tahun 1982. Serangan terbaru ini menjadi peringatan bahwa mereka tetap siap bertempur.

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Bagi banyak pihak di Lebanon, gencatan senjata hanya formalitas tanpa makna nyata. Mereka menilai bahwa Israel dan sekutunya, terutama AS, menggunakan gencatan senjata sebagai cara untuk memperkuat posisi mereka tanpa konsekuensi atas tindakan agresif yang dilakukan.

Dengan kembali dibukanya front utara dari Lebanon, perang kini semakin meluas. Sebelumnya, pertempuran hanya terjadi di Gaza (selatan) dan wilayah tengah. Kini, dengan adanya dukungan dari Yaman, klaim bahwa Gaza bertempur sendirian melawan Israel terbantahkan.

Hanya 8% warga Israel yang kembali ke wilayah utara setelah pemerintah menyerukan pemulangan mereka. Hal ini menunjukkan ketidakpercayaan publik terhadap Angkatan Pertahanan Israel (IDF) dan Netanyahu dalam melindungi mereka.

Banyak pihak menuduh Netanyahu menggunakan eskalasi konflik sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal Israel, termasuk perselisihannya dengan Mahkamah Agung. Namun, kali ini taktiknya tampaknya gagal. Publik Israel semakin skeptis terhadap kepemimpinannya, dan jika Netanyahu tidak segera disingkirkan, negara itu dikhawatirkan akan menghadapi kehancuran yang lebih besar.

 

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

Serangan terbaru dari Lebanon menjadi bukti bahwa perang multi-front telah kembali. Jika Israel terus melakukan pelanggaran dan agresi, maka perlawanan dari front utara, selatan, dan tengah akan terus berlanjut. Jalan keluar dari konflik ini tampaknya hanya bisa dicapai dengan mengakhiri kepemimpinan Netanyahu dan mengambil langkah konkret menuju de-eskalasi.

 

(Abah Adi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Sabtu, 18/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×