Sepasang suami istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja dari pasar. Saat mereka membuka barang-barang belanjaan, seekor tikus kecil diam-diam memperhatikan dari sudut rumah, berharap ada makanan yang bisa ia cicipi. Tapi betapa terkejutnya ia ketika mendapati salah satu benda itu adalah… perangkap tikus!
Tikus itu panik, dan segera berlari ke kandang ayam. “Ada perangkap tikus di rumah! Bahaya… bahaya!” teriaknya.
Sang Ayam menjawab datar, “Maaf ya Tikus, aku turut prihatin. Tapi perangkap itu bukan urusanku.”
Tak menyerah, Tikus berlari ke kandang Kambing. Tapi jawaban yang sama ia terima: “Aku turut bersimpati, tapi aku tidak bisa membantumu.”
Ia lalu menemui Sapi, berharap akan ada yang peduli. Tapi Sapi pun berkata, “Aku turut menyesal, tapi perangkap tikus tak membahayakan diriku.”
Terakhir, Tikus mencoba meminta bantuan Ular. Tapi Ular malah tertawa, “Perangkap tikus? Kecil begitu tak akan bisa mencelakai aku.”
Tikus pun kembali ke sarangnya, kecewa dan pasrah karena harus menghadapi ancaman itu seorang diri.
Beberapa malam kemudian, terdengar suara keras dari arah dapur. Sang petani bergegas memeriksa. Tapi ternyata, bukan tikus yang terperangkap—melainkan seekor ular berbisa! Karena merasa terjebak dan kesakitan, ular itu menggigit istri sang petani. Meskipun ular itu akhirnya mati dibunuh, sang istri harus dilarikan ke rumah sakit karena gigitan berbisa itu.
Setelah beberapa hari, ia pulang ke rumah. Namun, demamnya tak kunjung reda. Sang suami pun menyembelih ayam mereka untuk membuatkan sup ceker, demi mengurangi demam istrinya.
Demamnya masih berlanjut. Seorang tetangga menyarankan agar diberi hati kambing. Maka, kambing peliharaan pun disembelih.
Namun semua upaya itu sia-sia. Sang istri akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
Saat pemakamannya, banyak orang datang melayat. Sang petani pun menyembelih sapinya untuk menjamu mereka.
Dari kejauhan, Tikus menyaksikan segalanya dengan tatapan pilu. Semua yang dulu tak peduli dengan peringatannya, kini telah menjadi korban satu demi satu. Dan perangkap tikus yang dulu ditakutinya, kini teronggok diam tak digunakan lagi.
Seringkali, kita menganggap masalah orang lain bukan urusan kita. Kita merasa aman karena berpikir itu tak menyentuh hidup kita secara langsung. Tapi kehidupan mengajarkan bahwa satu masalah kecil, bisa menjalar menjadi masalah besar jika diabaikan bersama.
Tenggang rasa bukan sekadar empati—ia adalah kesadaran bahwa kita hidup dalam satu lingkaran. Ketika satu bagian terluka, yang lain pun akan ikut merasakan. Maka, saat ada yang datang padamu membawa keluh kesah, jangan buru-buru menghindar. Dengarkan. Bantu sebisanya. Karena hari ini mungkin mereka yang susah, tapi esok bisa jadi giliran kita yang membutuhkan uluran tangan.
Karena musibah yang tampaknya kecil bagi seorang, bisa jadi awal dari kehancuran yang besar bagi banyak orang. (hah)



Comment