Bulan Ramadan yang mulia telah meninggalkan kita, dan hati kita berkata, “Jangan lupakan perjanjian yang menguntungkan dengan Allah.”
ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Di antara jejak-jejak Ramadhan yg dapat dideteksi pasca Ramadan adalah:
1.Meningkatnya Muraqabatullah Dalam Diri
Ramadhan membiasakan seorang mukmin untuk selalu merasa diawasi oleh Tuhannya, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, serta takut kepada Allah. Seorang yang berpuasa menjadi amanah terhadap dirinya sendiri dan senantiasa mengawasi jiwanya. Hasilnya, hati menjadi hidup, jiwa terdidik, tekad menguat, semangat bangkit, iman diperbarui, dan ia menjadi lulusan madrasah Al-Qur’an.
2.Membangun Kesetiaan Dengan Al-Qur’an
Kita memberikan bagian terpenting dari diri kita untuk Al-Qur’an—momen berharga dan waktu yang tak ternilai. Mendekatkan diri pada Al-Qur’an bukan hanya dengan membacanya secara lisan, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku, gerak-gerik kita, siang dan malam, dalam perjalanan maupun di rumah, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan.
Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Jika umat Islam hari ini bangkit dan mendekati Al-Qur’an seperti ini, mereka akan memahami hakikat risalah dan peran mereka dalam kehidupan, kerinduan mereka semakin dalam, dan tekad mereka semakin kuat, “Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau ridha.” (QS. Taha: 84)
Semangat mereka akan terarah pada hal-hal mulia dan meneladani suri tauladan terbaik, Rasulullah ﷺ.
3.Bersungguh-sungguh mengetuk pintu langit (Tahajud)
Sesungguhnya pemimpin makhluk (Rasulullah ﷺ) adalah orang yang senantiasa berdiri untuk Allah dalam tahajud, dzikir, dan doa.
Dalam sebuah hadits, “Barangsiapa yang menghidupkan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih)
Ketika umat ini meninggalkan shalat malam—kecuali yang dirahmati Allah—iman menjadi layu, keyakinan melemah, lalu muncullah generasi yang lalai, mencintai dunia, dan condong pada kehidupan duniawi.
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Inilah beberapa ciri kehidupan orang-orang yang dibangunkan oleh Ramadan, yang berpuasa dengan benar, yang kembali kepada amal shalih, dan yang merasakan setiap detik Ramadan sebagai momen penuh kebahagiaan dan keberkahan.
Wahai kaum Muslimin…
Semoga setiap tahun kalian berada dalam kebaikan. Semoga Allah menerima puasa, qiyam, dan tilawah Al-Qur’an kita, serta menjadikannya sebagai timbangan amal kita.
Kita harus memperbarui janji dengan Allah, menyucikan hati dan jiwa, serta keluar dari bulan yang mulia ini dengan keyakinan dan pemahaman yang lebih kuat tentang pentingnya bergerak menuju tujuan mulia dan cita-cita tinggi:
“Mengeluarkan seluruh umat manusia dari kegelapan menuju cahaya.”
Ramadhan, Bulan Perubahan. (AHA)



Comment