Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Kisah Jamil dan Sang Raja

Kisah Jamil dan Sang Raja

Ilustrasi

Dikisahkan, bahwa seorang laki-laki bernama Jamil bekerja sebagai penjual air. Setiap hari ia keliling pasar membawa qirbah berisi air untuk ia tawarkan kepada para pengunjung pasar. Akhlak yang mulia dan tampilannya yang bersih serta kemampuannya bercerita membuat orang-orang menyukainya.

Namanya yang masyhur di tengah khalayak ramai akhirnya sampai juga di telinga sang Raja. Ia pun memerintahkan Perdana Menteri agar membawa Jamil ke Istana. Perdana Menteri lalu mencari Jamil dan menemukannya di pasar. Ia lalu membawanya ke hadapan Raja yang kemudian berkata kepadanya: “Mil, mulai besok dan seterusnya, pekerjaanmu di dalam istana ini, bukan lagi di luar sana. Tugasmu menyediakan minuman untuk tamu-tamuku, lalu duduk di sampingku sambil mengisahkan cerita-cerita lucu dan unik yang dengannya engkau jadi terkenal di pasar itu..!!!”

“Siap yang mulia, 86!!” Jawab Jamil mengiyakan.

Jamil lalu kembali ke rumahnya dan menyampaikan berita gembira itu kepada isterinya, dan bayang masa depan mereka yang lebih cerah. Keesokan harinya, Jamil mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya sebelum berangkat ke tempat kerjanya yang baru; istana raja. Sesampainya di istana, ia pun menuju ruang tamu yang telah ramai dengan tetamu Raja. Ia kemudian membagikan minum kepada mereka. Setelah selesai, ia lalu duduk di samping Raja untuk menceritakan kisah-kisah unik dan lucu, membuat para tamu senang dan tertawa gembira.

Pada sore hari, ia kemudian menerima upah kerjanya sebelum meninggalkan istana Raja pulang ke rumahnya. Itulah suasana baru yang dialami Jamil selama beberapa tahun lamanya. Hingga suatu saat ia merasa bahwa Perdana Menteri cemburu padanya karena berhasil merebut hati Raja dan para tamunya.

Ketua Bapemperda DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz Perkuat Sinergi dengan Jurnalis untuk Kawal Perubahan Jakarta

Esok harinya, saat dalam perjalanan pulang ke rumahnya, rupanya sang Perdana Menteri mengikutinya dan mencegahnya di tengah jalan. Ia lalu berkata kepadanya, “Hei Jamil, sebenarnya sang Raja terganggu dengan bau mulutmu..!”

Jamil tentu saja terkejut dan bertanya, “Lalu, apa yang harus aku lakukan agar raja tidak terganggu oleh mulutku yang bau ini?”

“Engkau sebaiknya menggunakan penutup mulut saat datang ke istana.” Jawab Perdana Menteri memberi saran.

“Baiklah kalau begitu, akan aku lakukan.”

Pagi esok harinya, sebagaimana biasa Jamil berangkat ke istana, tapi dengan penampilan yang agak berbeda; mulutnya tertutup kain. Sang Raja tentu saja heran, namun tidak mengomentarinya sedikit pun. Selama beberapa hari Jamil tetap menggunakan kain penutup mulut. Hingga suatu ketika Raja bertanya kepada Perdana Menterinya mengapa Jamil menutup mulutnya. Ia pun menjawab, “Maaf tuan, aku takut bila menyampaikannya padamu, maka tuan memotong leherku.”

Politik Uang Tak Lagi Tunai, Saatnya Regulasi Kejar Modus ‘Serangan Fajar’ Digital

“Aku berjanji engkau aman. Katakan saja mengapa si Jamil menutup mulutnya.” Janji sang raja.

“Katanya, si Jamil mengeluh dan terganggu oleh aroma mulut Raja yang busuk, yang mulia!” Kata perdana menteri akhirnya. Betapa terkejutnya sang Raja mendengar ucapan Perdana Menterinya. Tidak menduga bahwa itu alasan Jamil mengenakan penutup mulut. Ia lalu mendatangi istrinya dan menceritakan hal tersebut.

“Siapa yang terpedaya oleh nafsunya dengan mengatakan kalimat tersebut, besok kepalanya dipenggal saja. Sekaligus sebagai pelajaran bagi siapa saja yang terbujuk nafsu jahatnya hingga merendahkanmu..!!” Usul permaisuri.

“Pendapat yang bagus.” Kata sang Raja.

Keesokan harinya, Raja memanggil algojo dan berkata kepadanya, “Siapa saja yang engkau lihat hari ini keluar dari istana sambil membawa buket bunga, tangkap dan penggal batang lehernya..!!!”

WCCE 2026: Panggung Komunikasi Visual Dan Fotografi Indonesia Menuju Kiblat Kreatif Dunia

Sebagaimana biasa saat pagi hari, Jamil telah berada di istana, membagikan minum kepada tetamu Raja. Saat tiba waktu pulang, Raja memberinya buket bunga sebagai hadiah untuknya. Sebelum ia keluar meninggalkan istana, Jamil bertemu dengan Perdana Menteri yang kemudian bertanya padanya, “Siapa yang memberimu buket bunga itu, Mil?”

“Raja, tuan,” jawabnya

“Kalau begitu serahkan padaku, aku lebih berhak menerimanya daripadamu!!”

“Baik, ambil saja, tuan” jawab Jamil sambil menyerahkan buket bunga itu. Ia kemudian pulang ke rumahnya. Ketika Perdana Menteri keluar dari istana, algojo pun melihatnya membawa buket bunga itu. Ia segera ditangkap dan lehernya pun dipenggal..!!!

Seperti biasa, saat pagi hari Jamil telah berada di istana menunaikan tugasnya dengan tetap menggunakan penutup mulut. Sang Raja tentu saja takjub melihatnya masih hidup. Karena menduganya telah mati di tangan algojo. Ia lalu memanggilnya dan bertanya, “Coba ceritakan apa yang telah terjadi padamu, dan mengapa engkau menutup mulutmu dengan kain itu..!!”

“Tuan, sebelumnya aku diberitahu pak Perdana Menteri bahwa paduka mengeluhkan bau mulutku. Karena itu aku disuruhnya menggunakan penutup mulut, agar tuan tak terganggu karenanya.” Paparnya

“Dan keranjang bunga yang aku berikan padamu, kau apakan?” Tanya raja lagi.

“Pak Perdana Menteri mengambilnya dariku, karena merasa lebih berhak mendapatkan hadiah sang Raja daripadaku.”

Sang Raja pun tersenyum mendengar penjelasan Jamil, dan berkata kepadanya, “Benar, dia lebih berhak menerimanya daripadamu. Dan niat yang tulus serta dendam di hati selamanya takkan pernah bertemu…!!. (oleh Ust. Syarifuddin Ridwan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Selasa, 26/05/2026
Imsak 04:26
subuh 04:36
dzuhur 11:53
ashar 15:14
maghrib 17:47
isya 19:00

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×