Banjir di wilayah Jabodetabek kembali menjadi headline di hampir semua platform media. Musibah ini seolah menjadi salam perkenalan bagi para kepala daerah yang baru saja selesai mengikuti retret nasional.
Tidak dapat dibayangkan, tamu yang sudah lima tahun absen, kini hadir membabi buta tanpa diundang. Ribuan keluarga harus mengungsi, tidak ada yang membayangkan bagaimana hitungan detik air naik bisa menenggelamkan rumah- rumah. Tidak ada yang membayangkan bahwa keterlambatan evakuasi, dalam hitungan jam, akan menambah jumlah korban jiwa.
Ketika kejadian, saya sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota dan melihat berita yang berseliweran di medsos air tergenang dimana-mana. Awalnya saya menganggap ini sebagai bencana alam “biasa”.
Namun, ketika saya melihat langsung wawancara dengan para korban yang selamat, air mata saya pun tak tertahan. Teman saya yang menjadi relawan bercerita, sebelum berangkat dari rumah, dia sudah mempersiapkan diri untuk membantu evakuasi. Namun, begitu sampai di lokasi, dia shock melihat betapa parahnya kondisi yang terjadi. Rencana awalnya untuk membantu distribusi logistik berubah menjadi upaya menyelamatkan nyawa orang-orang yang terjebak di atap rumah mereka, menunggu pertolongan yang tak kunjung datang.
Sungguh, tidak mudah untuk benar-benar merasakan apa yang dialami oleh para korban. Mungkin mudah bagi kita untuk mengucapkan kata-kata belasungkawa atau berdoa untuk mereka. Namun, sesungguhnya, kita baru benar-benar menyadari betapa beratnya penderitaan mereka ketika kita sendiri yang mengalaminya.
Saya mengetuk pintu hati Anda semua, yang tidak merasakan dinginnya air banjir yang merendam rumah-rumah, yang tidak merasakan ketakutan saat air terus naik dan mengancam nyawa. Mungkin Anda tidak merasakannya, atau keluarga Anda tidak merasakannya. Tapi sadarkah Anda, bahwa bencana banjir ini hanyalah puncak gunung es dari masalah yang lebih besar yang dihadapi bangsa ini?
Sadarkah kita, yang selalu merasa nasionalis dengan mengibarkan bendera, menghadiri upacara, atau memakai kostum kebanggaan nasional, bahwa negara kita sedang diuji? Bahwa alam sedang “berteriak” karena ulah kita sendiri? Bahwa kerusakan lingkungan, pembabatan hutan, pengurukan laut dan ketidakpedulian kita terhadap alam telah membawa kita pada titik ini?
Sadarkah kita bahwa bencana banjir ini menggambarkan betapa lemahnya sistem penanggulangan bencana kita? Betapa lambatnya respons pemerintah dalam menangani korban? Apa yang akan terjadi jika bencana yang lebih besar terjadi? Siapa yang akan melindungi kita?
Sadarkah kita bahwa bencana banjir ini juga mencerminkan betapa kuatnya sindikasi perusakan lingkungan di negeri kita? Betapa mudahnya izin-izin penggundulan hutan, pengurukan pantai diberikan, betapa maraknya alih fungsi lahan yang tidak terkendali? Apakah Anda mengira, para pemilik modal yang merusak lingkungan ini merasa takut dengan hukum? Dengan pemerintah daerah? Dengan aparat penegak hukum?
Sadarkah kita, yang beberapa yang lalu sibuk dengan persiapan pilkada atau pemilu, sibuk berteriak dengan jargon-jargon kampanye, bahwa partai-partai begitu lemah untuk mendorong kebijakan yang pro-lingkungan? Harapan apa lagi yang bisa kita berikan kepada para korban banjir, yang setiap tahun harus menghadapi musibah yang sama?
Sungguh, kita telah mempertontonkan kebodohan, ketidakpedulian, dan kemunafikan kita. Saat negara-negara lain serius menangani perubahan iklim, kita justru abai. Saat mereka membangun sistem mitigasi bencana yang kuat, kita masih sibuk berdebat tentang hal-hal yang tidak substansial.
Sementara itu, kita sibuk flexing dengan foto-foto liburan, makanan, atau bahkan mendukung acara-acara yang tidak mendesak, sementara saudara-saudara kita di luar sana berjuang untuk bertahan hidup. Kita sibuk dengan hal-hal yang tidak penting, sementara bumi kita sedang “menangis”.
Mari kita renungkan bersama. Bencana banjir ini bukan hanya tentang air yang naik, tapi juga tentang tanggung jawab kita sebagai manusia, sebagai warga negara, dan sebagai penghuni bumi. Sudah saatnya kita bangkit, peduli, dan bertindak. Jangan sampai kita terus menerus menjadi bangsa yang hanya bisa menunggu bencana datang, tanpa pernah belajar untuk mencegahnya.
Ini bukan hanya tentang mereka yang terkena banjir, ini tentang kita semua. Karena jika kita tidak berubah, siapa lagi yang akan menyelamatkan kita? [aki omar]



Comment