Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Buah Bakti Kepada Orang Tua

Buah Bakti Kepada Orang Tua

Ilustrasi
Ilustrasi

Dikisahkan, bahwa seorang suami ditinggal mati oleh isterinya, dan memiliki lima orang anak perempuan yang sudah dewasa. Suatu ketika, empat orang pemuda datang melamar anak gadisnya. Ia pun menerima pinangan mereka dan ingin menikahkan anak perempuan sulungnya terlebih dahulu sebelum adik-adiknya.

Namun anak gadisnya yang pertama menolak menikah terlebih dahulu. Ia memilih merawat ayahnya yang sudah sepuh, apalagi setelah kematian ibunya beberapa waktu lalu. Sang Ayah akhirnya menikahkan keempat adik-adiknya. Dan tinggallah anak pertama bersama ayahnya di rumah itu setelah adik-adiknya dibawa oleh suami mereka masing-masing.

Beberapa bulan kemudian, ayahnya pun berpulang menyusul isterinya. Tak lama berselang setelah kematian ayah mereka, keluarga lima bersaudara itu lalu berkumpul untuk membuka surat wasiat, dan menemukan tulisan ayah mereka di atas lembar surat wasiat itu, “Janganlah kalian membagi rumah ini sebagai warisan, hingga kakak kalian yang telah mengorbankan kebahagiaannya demi kalian itu menikah!”

Namun saudara-saudaranya yang lain menolak wasiat tersebut, dan bersikukuh menjual rumah itu untuk mereka bagi hasil penjualannya sebagai warisan, tanpa peduli kemana kakak sulung mereka akan pergi.

Saat kakak sulung mereka merasa bahwa tak ada jalan lain kecuali menjual rumah itu, ia segera menghubungi orang yang berminat untuk membelinya, dan menceritakan padanya kisah wasiat ayah mereka, dan bahwa ia tidak memiliki apapun selain rumah itu sebagai tempat bernaung. Karena itu ia berharap kepadanya agar bersabar beberapa bulan ke depan hingga ia dapatkan tempat tinggal yang layak baginya.

Dewan Kota Apresiasi Lebaran Betawi Sukabumi Utara, Dorong Pelestarian Budaya

“Tidak mengapa. Engkau bisa tinggal di situ hingga kau dapatkan tempat tinggal yang baru,” jawab orang tersebut.

Rumah itu pun akhirnya terjual. Hasil penjualannya lalu mereka bagi berlima. Adik-adiknya pun kembali ke rumah mereka dengan perasaan gembira, tanpa memikirkan kondisi kakak sulung mereka, yang walau demikian tetap yakin dan percaya, bahwa ALLah takkan pernah mengabaikannya.

Beberapa bulan kemudian, kakak sulung tersebut dihubungi oleh pembeli rumah itu. Ia pun seketika khawatir, dan menduga orang itu akan segera menempati rumah tersebut dan menyuruhnya keluar dari sana. Ia segera berkata kepadanya saat datang ke rumah itu, “Maafkan aku, pak. Aku belum dapat tempat tinggal yang baru,” katanya gugup.

“Tidak mengapa. Aku datang ke mari tidak untuk itu. Aku datang ke sini untuk menyerahkan kepadamu lembar kertas yang telah disahkan oleh pengadilan, bahwa aku telah hibahkan rumah ini untukmu sebagai mahar. Itu pun bila engkau setuju menjadikanku sebagai suamimu. Bila pun engkau menolak, maka itu terserah padamu. Namun rumah ini tetap jadi milikmu.” Ucapan laki-laki membuat gadis itu menangis bahagia. Ia pun kian yakin, betapa ALLah tiada pernah menyia-nyiakan mereka yang telah melakukan kebaikan.

Ia pun setuju dengan tawaran pemuda kaya raya yang berprofesi sebagai pedagang itu. Mereka akhirnya menikah dan hidup bahagia sebagai suami isteri.

Bangkitkan Budaya Betawi, Warga Sukabumi Utara Gelar Lebaran Betawi Perdana

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Senin, 20/04/2026
Imsak 04:27
subuh 04:37
dzuhur 11:55
ashar 15:14
maghrib 17:53
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×