Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Bagaimana Bila Hipotesismu Meleset?

Bagaimana Bila Hipotesismu Meleset?

Ilustrasi
Ilustrasi

(Kisah Nyata)

Seorang kawan yang berprofesi sebagai dokter menceritakan pengalamannya yang terjadi pada tahun 2007. Berikut kisahnya:

“Ketika itu aku bersama beberapa orang kawan memasuki sebuah rumah makan Arab di London untuk makan malam. Tak berselang lama, pelayan datang untuk daftar menu pesanan kami. Karena belum shalat Magrib, aku lalu meminta izin beberapa menit untuk shalat, lalu kembali duduk bersama mereka.

Seorang di antara teman yang hadir tetiba menyapa, “Dari mana nih, dokter. Anda sungguh terlambat bersama kami…?”

“Maaf, tadi aku shalat Magrib,” jawabku

Bangkitkan Budaya Betawi, Warga Sukabumi Utara Gelar Lebaran Betawi Perdana

“Anda masih shalat? Kuno sekali Anda ini,” katanya sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum mendengar ucapannya, lalu berkata, “Kuno..? Mengapa begitu..? Apakah ALLah hanya ada di negara Arab, dan tidak ada di London?”

Ia lalu berkata kepadaku, “Dokter, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Tapi aku harap engkau memaklumiku dengan kelapangan dadamu.”

“Dengan senang hati. Tapi aku punya satu syarat.!!” Kataku padanya

“Baiklah..!”

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

“Setelah engkau selesaikan pertanyaanmu, engkau harus mengaku menang atau kalah. Setuju…?”

“Baik, aku setuju. Sebagai janji dariku.” Jawabnya tersenyum

“Silahkan..!” Kataku padanya untuk mulai bertanya.

“Sejak kapan engkau shalat?”

“Aku mempelajarinya saat berusia 7 tahun. Melaksanakannya dengan baik kala usiaku 9 tahun, dan belum pernah mengabaikannya hingga saat ini. Bahkan takkan pernah meninggalkannya, insya ALLah.”

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

“Baiklah. Tapi bila saja setelah kematianmu engkau dapati bahwa, ternyata tak ada surga dan neraka, tak ada siksa dan balasan kebaikan. Apa yang akan engkau lakukan?”

“Aku akan menanggungmu dan menyelesaikan perdebatan ini sesuai hipotesismu. Baik. Kita anggap saja tak ada surga atau neraka. Tak ada siksa dan ganjaran pahala. Aku takkan melakukan apapun. Karena pada dasarnya aku berpedoman pada ucapan Ali bin Abi Thalib Ra., “Ya ALLah, aku sungguh tidak menyembah-Mu karena takut pada nerakamu, dan tidak karena berharap surga-Mu. Tapi aku menyembah-Mu karena Engkau sungguh berhak untuk disembah.”

“Dan shalatmu yang engkau tekun melakukannya sekian tahun lamanya. Lalu kau dapati bahwa mereka yang shalat atau tidak, ternyata sama saja. Dan tidak ada yang namanya neraka Saqar?”

“Aku takkan menyesali itu. Karena shalat yang aku lakukan tak mengambil waktuku kecuali hanya beberapa menit saja dalam satu hari. Dan aku menganggapnya sebagai olah raga fisik.”

“Dan puasa yang engkau jalani, apalagi tinggal di London yang masanya hingga 28 jam sehari?”

“Aku akan menganggap puasa yang kujalani sebagai olah raga jiwa. Apalagi padanya ada manfaat kesehatan yang sangat baik bagiku. Engkau juga dapat membaca sebuah penelitian internasional yang tidak berafiliasi kepada Islam yang menegaskan bahwa, menghindari konsumsi makanan pada masa tertentu mendatangkan manfaat kesehatan sangat besar bagi tubuh.”

“Apakah engkau pernah merasakan lezatnya khamar.”

“Aku belum pernah merasakannya sekali pun.”

“Belum pernah sekalipun?!” Tanyanya heran.

Lalu berkata kembali, “Apa yang akan engkau katakan saat haramkan dirimu dari lezatnya kehidupan dengan khamar, dan nikmat menjadikannya sebagai kawan duduk, ternyata kau dapati kata-kataku benar adanya..?”

“Aku telah melarang diriku dan melindungi jiwaku dari khamar, yang mudharat dan keburukannya jauh lebih banyak dari manfaatnya. Betapa banyak manusia tertimpa penyakit karena khamar. Berapa banyak orang yang rumah tangga dan keluarganya hancur akibat khamar. Engkau juga dapat membaca laporan organisasi internasional yang tidak berafiliasi kepada Islam yang memperingatkan dampak dan akibat buruk dari candu minuman keras.”

“Dan kepergianmu untuk umrah dan haji, ternyata usai kematianmu kau dapatkan bahwa semua itu tak berdampak apa pun bagimu, dan bahwa ALLah pada hakikatnya memang tidak ada.!?”

“Aku akan menjalaninya sesuai hipotesismu, dan aku berjanji akan menanggung pertanyaan-pertanyaanmu.” Jawabku padanya.

Aku kemudian melanjutkan, “Walau demikian, aku menganggap kepergianku untuk umrah dan haji sebagai perjalanan indah. Dimana aku rasakan kenikmatan yang dapat mencuci dan membersihkan jiwaku. Sebagaimana yang engkau lakukan saat menikmati waktu yang indah guna menyingkirkan tekanan kerja, membunuh rutinitas yang membosankan, sekaligus menghidupkan kembali semangat jiwa.” Kataku panjang lebar.

Selama beberapa menit ia memandang wajahku dalam diam di hadapan orang-orang yang turut menyaksikan kami. Dan semuanya hanya diam membisu mendengar kata-kataku.

“Terima kasih. Karena engkau telah mendengar dan memaklumiku dengan lapang dada. Pertanyaanku selesai. Dan aku mengaku kalah di hadapan kalian semua!!” Jawabnya sambil menjabat tanganku.

Aku hanya tersenyum dan balik bertanya kepadanya, “Bagaimana menurutmu perasaanku setelah mendengar pengakuanmu sebagai yang kalah di hadapan semua orang?”

“Aku yakin engkau sangat bahagia.” Jawabnya tersenyum.

“Tidak. Tidak sama sekali! Tapi sebaliknya. Aku justru merasa sangat sedih.”

“Sediiih….? Kenapa…?” tanyanya penuh heran.

“Sekarang giliranku bertanya padamu.”

“Baik, silahkan!”

“Aku tidak memiliki banyak pertanyaan sepertimu. Hanya satu saja, dan sangat sederhana.”

“Apa itu..?”

“Aku telah jelaskan padamu, bahwa aku tidak merasa rugi ketika berada pada situasi dimana hipotesamu itu benar. Tapi pertanyaanku yang sederhana itu adalah, bagaimana bila yang terjadi bertolak belakang dengan dugaan dan hipotesismu. Dan setelah kematianmu engkau dapati bahwa ternyata ALLah itu ada. Dan bahwa seluruh panorama yang IA sebutkan dalam Al-Qur’an ternyata benar adanya. Saat itu, apa yang akan engkau lakukan..???!!”

Selama beberapa detik kawan yang di hadapanku itu hanya dapat menatap mataku tanpa mampu berkata-kata. Diam membisu memandangku hingga pelayan restoran datang membawa pesanan dan menyajikannya di atas meja makan.

“Aku tak meminta padamu untuk menjawabnya sekarang. Kita makan saja dulu. Dan bila jawabanmu sudah siap, engkau bisa menyampaikannya padaku,”

Kami telah selesai makan, namun aku belum mendengar jawabannya. Tapi aku tak ingin membuatnya terdesak dengan meminta jawaban darinya. Kami pun berpisah dan meninggalkan rumah makan tersebut.

Sebulan setelah kejadian itu, kawan tersebut menghubungiku dan meminta bertemu di rumah makan yang sama. Kami pun bersua kembali dan saling berjabat tangan. Tiba-tiba saja kudapatkan diriku dalam rangkulannya. Sembari meletakkan kepalanya di bahuku dan mulai menangis. Aku merangkulnya dan berkata kepadanya, “Baik-baik saja, insya ALLah. Apa yang terjadi padamu, kawan?” Tanyaku.

“Aku datang untuk berterima kasih padamu, dan mengundangmu untuk mengatakan jawabanku. Kini aku kembali melaksanakan shalat setelah meninggalkannya lebih dari 20 tahun. Kata-katamu selalu terngiang di kepalaku. Serupa lonceng yang berdentang dalam memoriku, dan tidak berhenti hingga sebulan lamanya.

Demi ALLah..!! Usai pertemuan itu, tak pernah kurasakan tidur yang nyenyak. Jawabanmu meninggalkan gunung merapi dalam jiwaku, pada diri dan tubuhku. Engkau telah membuatku dapat merasakan diriku sebagai manusia yang lain. Berisi ruh baru mengalir dalam jasadku. Disertai kedamaian dan ketenangan yang tak dapat disandingkan dengan apapun.”

“Mungkin itu adalah lonceng yang membangunkan mata hatimu, setelah engkau dihinakan oleh matamu.”

“Betul. Itulah sesungguhnya yang terjadi. Penjelasanmu membangunkan mata hatiku, setelah indera mataku tak dapat melihat hakikat kebenaran. Terima kasihku dari hati yang paling dalam, saudaraku.”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Minggu, 19/04/2026
Imsak 04:27
subuh 04:37
dzuhur 11:55
ashar 15:14
maghrib 17:53
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×