Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu adalah sosok yang hidup dalam keteguhan iman dan keberanian moral. Ia tidak takut berkata benar di hadapan siapa pun, meski itu berarti harus menanggung kesepian.
Ia tidak silau dengan harta, jabatan, atau pujian manusia. Bahkan, ia memilih hidup dalam kefakiran dan keterasingan, bukan karena dipaksa keadaan, tapi karena pilihannya untuk tetap lurus di jalan Allah.
Dan ia wafat dalam sunyi.
Tak ada blasting SMS tentang pengabaran wafatnya, tak ada kartu lelayu yang memuat daftar anak keturunan dan bintang jasa, tak ada iring-iringan pelayat yang panjang. Tak ada kabar duka yang menggema ke seluruh negeri, tak ada selebrasi berhari- hari tentang kematiannya. Hanya padang gersang _Ar-Rabadzah_ yang menjadi saksi seorang sahabat agung meninggalkan dunia. Tapi bukankah Rasulullah ﷺ telah mengabarkan sebelumnya:
“رَحِمَ اللهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ.”
“Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, wafat sendirian, dan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim)
Dalam sunyinya wafat Abu Dzar, kita teringat sebuah atsar penuh makna.
“كَمْ مِنْ مَشْهُورٍ فِي الْأَرْضِ مَجْهُولٍ فِي السَّمَاءِ، وَكَمْ مِنْ مَجْهُولٍ فِي الْأَرْضِ مَعْرُوفٍ فِي السَّمَاءِ.”
“Betapa banyak orang terkenal di bumi namun tidak dikenal di langit. Dan betapa banyak orang tidak dikenal di bumi namun terkenal di langit.”
Abu Dzar mungkin tidak lagi menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat saat wafatnya. Ia bukan tokoh elite negara, bukan pula pemilik harta melimpah yang disorot khalayak. Tapi namanya harum di langit. Ia termasuk Ahlul Badr, dijanjikan ampunan oleh Allah. Ia dicintai oleh Rasulullah ﷺ. Dan yang paling utama, ia dikenal di sisi Allah.
Mari kita mengaca diri, mempersiapkan nurani kita. Di zaman di mana manusia mengejar popularitas di layar, di panggung, di media sosial. Dan pertanyaannya siapa yang mengejar popularitas di langit?
Abu Dzar menunjukkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari banyaknya pengikut, tetapi dari kebenaran yang dipegang meski sendiri. Ia bukan hanya sosok zuhud, tapi juga cermin bahwa kesunyian tidak berarti kehinaan, selama kita dikenal oleh langit.
Karena pada akhirnya, bukan soal ramai atau sepi, terkenal atau tidak. Tapi seberapa terkenal kita di sisi Allah.
✍️aki_omar



Comment