Foto—Unjuk rasa dalam rangka solidaritas terhadap Palestina. (Sumber: Istimewa)
Jakarta, Ekspresi Indonesia—Sudah lebih dari tujuh dekade, konflik Israel–Palestina terus membayangi kemanusiaan dunia. Penderitaan yang ditimbulkan tidak hanya menyentuh dimensi geopolitik, tetapi juga telah menjadi luka panjang bagi nurani kemanusiaan global. Jutaan warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, hidup dalam ketakutan, kekurangan, dan kehilangan khususnya di Gaza Palestina. Dunia seperti terlambat, bahkan nyaris diam.
Kini, saatnya dunia bersatu. Konflik ini harus diakhiri. Ini bukan sekadar konflik antarnegara atau soal batas wilayah. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang mendesak untuk segera dihentikan.
Mengutamakan Kemanusiaan
Konflik Israel–Palestina adalah ujian bagi prinsip dasar kemanusiaan: hak hidup, hak untuk aman, dan hak untuk bebas dari kekerasan. Setiap hari kita menyaksikan rumah sakit dibombardir, sekolah dihancurkan, dan keluarga tercerai-berai. Ini bukan data statistik—ini adalah realitas hidup yang pahit dan memilukan.
Indonesia, sebagai bangsa yang lahir dari perjuangan melawan kolonialisme, memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk tidak tinggal diam. Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina adalah
konsistensi terhadap amanat konstitusi dan cita-cita kemerdekaan yang universal.
Peran Strategis Indonesia
Dalam konteks diplomasi global, Indonesia memiliki posisi strategis. Dengan rekam jejaknya sebagai negara yang aktif memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan, Indonesia dapat menjadi jembatan bagi solusi damai yang berkeadilan. Melalui forum OKI, PBB, maupun jalur diplomasi bilateral, Indonesia perlu mendorong tidak hanya pernyataan, tetapi juga langkah konkret.
Dunia tidak memerlukan wacana kosong, melainkan tindakan nyata untuk menghentikan penderitaan. Solusi dua negara—yang menjamin kedaulatan rakyat Palestina dan keamanan rakyat Israel—masih merupakan jalan tengah yang paling rasional dan beradab.
Memperbaiki Narasi Global
Salah satu tantangan utama dalam konflik ini adalah narasi global yang timpang. Media internasional sering kali menampilkan konflik ini dari sudut pandang kekuasaan, bukan keadilan. Suara mereka yang tertindas tenggelam oleh arus informasi yang dikendalikan oleh kekuatan politik dan ekonomi.
Dunia perlu kembali mendengar dan melihat: bahwa di balik setiap ledakan, ada anak yang kehilangan masa kecil, ada ibu yang kehilangan anak, dan ada keluarga yang kehilangan rumah dan harapan.
Jalan Bersama Menuju Perdamaian
Idulfitri yang baru saja dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia menyentuh kembali kesadaran kita tentang nilai kasih sayang, pengampunan, dan perdamaian. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi fondasi bagi gerakan global untuk mengakhiri kekerasan dan membangun masa depan yang lebih damai.
Tidak ada waktu yang lebih tepat selain sekarang. Perdamaian tidak bisa menunggu. Keadilan tidak boleh ditunda. Dan kemanusiaan tidak boleh dikorbankan atas nama kepentingan politik apa pun.
Akhiri konflik ini. Bangun dialog. Pulihkan harapan.
Karena perdamaian adalah jalan kita bersama. Dan kemanusiaan harus menang.
Oleh: M. Mirza, S.Kom., M.I.Kom.
Magister Ilmu Komunikasi (Konsentrasi Komunikasi Politik), pemerhati isu kemanusiaan dan diplomasi global



Comment