Konflik antara India dan Pakistan bukan sekadar perseteruan geopolitik dua negara nuklir. Di balik manuver militer dan retorika diplomatik, terdapat potret luka panjang yang belum sembuh, terutama bagi rakyat Kashmir yang selama puluhan tahun hidup di bawah tekanan militer dan krisis kemanusiaan.
Ketika pemerintah India menuding Pakistan sebagai dalang atas insiden serangan terhadap wisatawan Hindu di Pahalgam, langkah itu tampak seperti respons instan yang penuh muatan politis. Reaksi cepat berupa peluncuran “Operasi Sindoor” menimbulkan tanda tanya besar: apakah ini bentuk upaya pemberantasan terorisme sejati, ataukah justru babak lanjutan dari politik penindasan atas nama keamanan?
Sejarah pemerintahan Narendra Modi dan BJP memperlihatkan pola naratif yang berulang: menciptakan musuh bersama, memobilisasi sentimen mayoritas, dan menyasar kelompok minoritas—terutama umat Islam—sebagai kambing hitam. Penindasan di Kashmir, kerusuhan di Gujarat, serta berbagai bentuk diskriminasi hukum di Delhi menjadi saksi dari sistem yang semakin tidak ramah terhadap keragaman.
Yang lebih memprihatinkan adalah lemahnya kepedulian dunia internasional, bahkan dari dunia Islam sendiri. Fokus pada isu Palestina tidak boleh membuat kita abai terhadap penderitaan di Kashmir, Myanmar, Uighur, atau tempat lainnya. Sebab, keadilan bukan persoalan selektif, melainkan prinsip universal yang harus ditegakkan tanpa melihat peta politik.
• Mari Kita Pilih Hidup Damai, Bukan Membakar Dunia
Kami menyerukan kepada seluruh pemimpin dunia, organisasi kemanusiaan, pemuka agama, dan masyarakat global bahwa dunia sudah cukup lelah oleh kebencian, peperangan, dan adu domba. Tidak ada bangsa yang pernah benar-benar menang dalam perang. Yang tertinggal hanya puing, trauma, dan generasi yang tumbuh dalam dendam.
Kami menyerukan:
• Kepada India dan Pakistan, untuk menahan diri, membuka ruang diplomasi, dan mengedepankan penyelesaian damai di Kashmir.
• Kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk lebih aktif mendorong pengawasan HAM di wilayah-wilayah konflik dan mendesak India memulihkan hak-hak sipil rakyat Kashmir.
• Kepada dunia Islam, untuk tidak diam terhadap penderitaan saudara seiman. Doa tanpa kepedulian sosial adalah ketimpangan iman.
• Kepada seluruh warga dunia, untuk tidak kehilangan rasa: rasa keadilan, rasa kemanusiaan, dan rasa tanggung jawab untuk menjaga dunia dari kobaran api yang dibuat oleh ambisi kekuasaan.
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak rudal, tetapi lebih banyak ruang untuk berdialog. Kita tidak membutuhkan lebih banyak propaganda kebencian, tetapi lebih banyak keberanian untuk memanusiakan yang tertindas.
Mari kita hidup bersama dalam damai, atau hancur bersama dalam permusuhan.
(H.A.H.)



Comment