Advertisement
Hikmah Kisah Oase
Home / Oase / Kebaikan yang menyelamatkan

Kebaikan yang menyelamatkan

Kisah nyata ini terjadi sekitar tahun tujuh puluhan di Damaskus, Suriah. Ketika seorang pengusaha besar tertimpa penyakit kanker yang ketika itu belum ditemukan obatnya di negara kita. Tidak seperti sekarang ini.

Seketika itu pula pengusaha sukses ini memutuskan berangkat ke Amerika. Setelah dilakukan check up dan CT scan di salah satu rumah sakit di sana, dokter yang menanganinya dengan berat hati menyampaikan bahwa kanker yang dideritanya telah menyebar di seluruh tubuhnya, dan tak ada secercah pun harapan hidup yang dapat disampaikan padanya.!!

Dokter itu juga berkata terus terang: “Di hadapan Anda hanya beberapa hari lagi, tak lebih dari satu bulan. Sebaiknya Anda kembali saja ke negeri Anda dan bersiap menyambut kematian Anda di sana. Manfaatkan sebaik-baiknya hari-hari yang tersisa dengan sesuatu yang Anda suka dan cintai..!!”

Pengusaha kita ini akhirnya kembali ke kampung halamannya di Damaskus untuk menjalani sisa hidupnya yang tinggal satu bulan saja sebagaimana kata dokter yang menanganinya. Dan ia pun mulai menanti saat terakhir kehidupannya..!!

Suatu hari, saat hujan mengguyur, tetiba ia merasa tekanan pada dadanya, dan tarikan napas yang begitu berat. Ia lalu keluar dari rumahnya, melangkahkan kaki tanpa tahu kemana ia akan pergi، hingga rasa lelah menyergap tubuhnya. Ia pun berhenti di atas trotoar sekedar mengusir penat mengatur napas.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Saat itu juga di atas trotoar, seorang gadis tampak sedang bercakap-cakap dengan seorang pemuda tampan sambil mengunyah permen karetnya. Penampilan pemuda ini menunjukkan dirinya sebagai orang berada. Ia juga tidak peduli dengan pengusaha kita yang mengikuti percakapannya dengan sang gadis miskin yang terdengar sedang menawar harga tubuh sang gadis (dimikian yang ia pahami dari pembicaraan keduanya walau suaranya terdengar lirih)

Sang gadis berusaha menjelaskan kepada pemuda itu kebutuhannya berupa uang dan roti untuk makan. Ia telah diusir pemilik rumah kontrakan yang ditinggalinya bersama anak-anaknya, tanpa peduli kondisinya. Pemilik rumah merasa ditipu wanita ini karena tidak membayar uang sewa kontrakan rumah tersebut.

Namun penjelasannya tidak membuat sang pemuda kaya tertarik memenuhi permintaan ibu muda tersebut, berupa sejumlah uang yang ditentukannya dengan menawarkan tubuhnya yang kurus itu sebagai imbalan. Dia hanya ingin membayarnya dengan harga yang lebih murah..! Mengapa tidak..?! Bukankah dia predator yang licik?! Pemuda kaya itu akhirnya meninggalkan ibu muda tersebut pada saat ia juga bersikeras hanya ingin sejumlah uang yang disebutkannya..

Tak lama berselang, pengusaha kita ini lalu mendatangi sang gadia. Dilihatnya air mata sedih dan kecewa mengalir membasahi pipinya. Ia pun berkata kepadanya: “Maafkan aku, nak. Aku telah mendengar percakapan kalian berdua. Apa sebenarnya yang terjadi padamu? Dan apa gerangan yang membuatmu melakukan pekerjaan nista ini?”

Wanita muda itu pun menoleh kepadanya, diliputi rasa malu dan hati yang hancur, membuatnya hanya dapat menundukkan wajah, seraya berkata: “Anak-anakku kini hidup di jalan. Pemilik rumah itu mengusir kami dari rumah kontrakannya. Sementara suamiku di penjara, dan aku tidak tahu tentangnya sedikitpun. Aku juga tidak punya keluarga disini. Dan aku bersumpah..! Demi Dzat Yang meninggikan langit, inilah kali pertama aku berada pada situasi seperti ini; menjual diri. Setelah seluruh pintu jalan keluar tertutup di hadapanku. Bahkan, pintu terakhir ini pun tidak terbuka untukku!”

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Pengusaha yang sedang dibekap penyakit kanker ini lalu berkata kepadanya dengan rasa sedih yang dalam: “Dengarkan, nak! Bila aku cukupi kebutuhanmu, dan memberimu segala yang engkau butuhkan di sepanjang usiamu, lalu apa yang engkau akan persembahkan bagiku..?!”

“Katakan saja apa yang engkau kehendaki..!” Jawab wanita itu singkat.

“Aku hanya ingin satu saja darimu; berjanji padaku tidak menjual dirimu untuk sesuatu yang haram selama hidupmu. Dan aku mencukupimu beserta anak-anakmu!”

“Tentu saja, aku sangat setuju.”

“Lalu, apa yang menjamin bahwa engkau menunaikan janji ini?” Tanya pengusaha itu kembali

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

“Apakah engkau setuju bila ALLah sebagai penjamin bagiku? Aku bersaksi hanya ALLah yang mendengar kita dan tidak ada selain-Nya, bahwa aku akan menepati janjiku kepadamu di sepanjang usia dan kehidupanku. Dan aku memuji ALLah yang telah mengirimmu padaku pada saat ini juga.”

“Baiklah, kita sepakat, dan ALLah jadi saksi atas kita. Berikan alamat rumah kontrakanmu. Segeralah kembali ke sana bersama anak-anakmu. Sesaat lagi aku akan datang ke rumahmu!” Kata pengusaha ini akhirnya.

Pengusaha itu segera ke kantornya dan menuliskan wasiat di atas selembar kertas: “Anak-anakku. Wasiatku kepada kalian, agar mengirim santunan bulanan yang cukup untuk menghidupi kebutuhan lima orang ke alamat yang aku tuliskan berikut ini di sepanjang hidup kalian. Agar wasiat ini dilaksanakan setelah kematianku.” Ia kemudian meletakkan lembar wasiat itu di dalam kotak uang.

Setelah menulis surat wasiat, pengusaha ini segera menuju rumah ibu muda itu membawa sejumlah uang. Juga sebuah mobil cukup besar berisi beragam kebutuhan untuk keluarga miskin itu. Ia lalu menyerahkan uang sewa kontrakan rumah yang tertunggak sebelumnya. Sekaligus membayar uang kontrakan rumah tersebut untuk tiga tahun ke depan kepada pemilik rumah. Ia juga membayarkan utang keluarga ibu muda itu kepada siapa saja ia berutang demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Setelah semuanya selesai, pedagang ini kemudian pulang ke rumahnya dengan rasa bahagia bergemuruh dalam jiwanya. Walau ia harus menanti kematiannya di akhir bulan yang tersisa ini.

Satu bulan berlalu. Kesempatan hidup di dunia ini telah berakhir..!! Namun kematian belum juga mendekatinya..!! Di awal bulan ia datang ke rumah ibu muda itu untuk menyerahkan santunannya sebelum ia pulang kembali.

Hari berganti hari, dan pengusaha itu belum mati juga..!! Ia tetap mengirim uang santunan dan membawanya sendiri kepada keluarga ibu muda setiap bulan. Hingga tahun pun berlalu. Dan lembaran wasiat itu masih tersimpan di dalam kotak uang lebih dari 20 tahun lamanya..!!

Pada hari itu, sebagaimana biasanya pengusaha kita ini berdiri melaksanakan sholat subuh, dan sujud sepenuh khusyu kepada ALLah. Sementara hatinya diliputi keyakinan, cahaya, iman dan ketenangam yang memenuhi dunia seluruhnya. Pada saat sujud itulah ruhnya kembali ke haribaan Tuhannya..!!

Setelah masa takziah berakhir, anak-anaknya pun membuka kotak uang tersebut dan menemukan lembar wasiat itu di sana. Anak sulung pengusaha itu berkata: “Kita sudah terlambat tujuh hari untuk menyerahkan santunan kepada keluarga miskin itu.” Ia kemudian mengambil uang santunan dan bergegas menuju alamat yang tertera pada kertas wasiat itu.

Diketuknya pintu rumah. Seorang wanita yang tidak muda lagi -sebagaimana dugaan mereka sebelumnya- keluar menemuinya.

“Silahkan ibu, ini adalah santunan bulanan itu. Dan mohon maaf atas keterlambatannya.” Kata anak sulung.

Ibu itu pun berkata penuh haru dengan air mata berlinang: “Aku sangat berterima kasih sepenuh hati pada ayahmu. Kebaikan kalian ini takkan pernah aku lupakan, selamanya..! Tapi katakan pada ayahmu yang mulia itu agar mencari orang yang membutuhkan pemberian ini selain kami. Anak pertamaku telah menerima gaji dari pekerjaannya tujuh hari lalu. Karena itu kami sudah tidak membutuhkannya. Sampaikan salam pada ayahmu dan katakan padanya, bahwa aku akan senantiasa mendoakannya selama hayatku.”

Anak sulung pengusaha itu melihat ke arah ibu tersebut tanpa dapat menahan air matanya yang jatuh berderai. Lalu berkata: “Ayahku telah wafat, tepat tujuh hari yang lalu..!”

Selesai

——————

Seperti itulah perdagangan dengan ALLah (dengan harta, ilmu, dakwah dan akhlak yang mulia) nilainya sungguh besar tiada batas. Manfaatnya terbentang hingga mengangkat bala’, sebagai penyembuh dari berbagai penyakit, menuntaskan setiap hajat, serta memberatkan timbangan kebaikan pada hari hisab nanti. Maka perbanyak kebaikan, kecil atau besar. Niscaya kan kau dapatkan balasannya yang lebih baik dan lebih besar kelak di Sisi ALLah Ta’ala..

(Sila dishare bila pada tulisan ini ada manfaat dan kebaikan. Semoga menjadi amal yang tiada putus pahalanya). (oleh Ust. Syarifuddin Ridwan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Sabtu, 18/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×