Advertisement
Hikmah Internasional Oase Peristiwa
Home / Peristiwa / Darah Syuhada, Nyawa yang Membongkar Diamnya Dunia

Darah Syuhada, Nyawa yang Membongkar Diamnya Dunia

Foto—Warga Gaza yang pergi karena diserang Tentara Israel. (Sumber: spiritofaqsa.or.id)

Birruuh Biddaam Nafdika Yaa Gaza

(Dengan Jiwa dan Darah, Kami Akan Membelamu Ya Gaza)

Kemarin, dunia dikejutkan oleh sebuah rekaman eksklusif yang merekam detik-detik terakhir kesyahidan seorang petugas medis di Gaza.

Rekaman itu adalah momen terakhir sebelum nyawanya direnggut oleh peluru Zionis laknatullah dalam serangan yang sengaja ditujukan kepada tim medis.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

15 petugas medis gugur syahid dalam serangan kejam ini. Mereka tidak membawa senjata.
Yang mereka bawa hanyalah peralatan medis dan hati yang penuh dengan misi kemanusiaan.

Namun mereka tetap menjadi sasaran. Karena di dunia yang dikuasai oleh tangan-tangan jahat, nyawa orang yang berpegang pada prinsip lebih ditakuti daripada peluru.

Petugas ini tahu ajalnya sudah dekat. Dengan darah membasahi tangannya dan tubuhnya tertembus peluru, ia tetap mengangkat ponselnya dan merekam saat-saat kesyahidannya, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah…”

“Ya Allah, terimalah aku… ampuni dosaku… terimalah taubatku…”

“Wahai ibu… maafkan aku.
Inilah jalan yang kupilih untuk menolong sesama…”

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

“Ya Allah… aku tahu aku banyak dosa… tapi aku menjawab seruan-Mu…”

Rekaman itu bukan sekadar kata-kata untuk disaksikan. Itu adalah ucapan perpisahan, jeritan iman, dan suara hati yang berserah kepada Rabb-nya dalam keadaan paling mulia: mati syahid.

Ini bukanlah kisah pertama dalam sejarah. Ribuan tahun yang lalu, seorang ghulam (pemuda) juga rela mati syahid demi kebenaran.

Seorang raja zalim berulang kali mencoba membunuhnya, namun gagal. Akhirnya, si pemuda itu berkata, “Panahlah aku hanya setelah kau mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلَامِ
Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.”

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

Lalu sang raja menyebut nama itu, memanahnya, dan si pemuda pun syahid. Namun kesyahidannya bukan akhir, justru menjadi awal kebangkitan. Rakyat yang menyaksikan peristiwa itu serentak berseru:

آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ
“Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini!”

Darahnya menyuburkan iman umat. Seorang pemuda rela mempertaruhkan nyawanya demi membangkitkan manusia yang lalai dan melawan kezaliman.

Hari ini kita pun menyaksikan kesyahidan demi kesyahidan secara langsung. Apakah darah 50 ribu syuhada masih belum cukup untuk membangkitkan iman kita agar bertindak?

Dan kisah itu belum berakhir.

Saat raja membakar rakyat hidup-hidup di parit berapi karena beriman kepada Allah,
sampailah giliran seorang ibu yang menggendong bayinya.

Dia ragu-ragu.
Kakinya gemetar.
Imannya diuji.

Namun bayi dalam pelukannya berkata, “Wahai ibu! Tabahkan hatimu. Sungguh ibu berada di jalan kebenaran.”

Bayi yang belum bisa berbicara itu, diberi kekuatan oleh Allah untuk meneguhkan hati sang ibu.

Hari ini…
Di zaman kita…
Umat yang dewasa dan bisa berkata-kata masih membisu.

Masih ragu untuk menyuarakan kebenaran. Masih sibuk menghitung biaya kenyamanan yang hilang, dibandingkan nyawa saudara-saudaranya yang hancur dibom setiap hari.

Seorang bayi pernah menegur ibunya karena ragu dalam menegakkan kebenaran.

Lantas apakah kita, dengan semua kesadaran dan ilmu yang dimiliki, masih ingin terus diam menyaksikan kezaliman demi kezaliman?

Apakah darah yang tertumpah belum cukup membangkitkan jiwa kita?

Petugas itu bukan siapa-siapa. Tapi hatinya lebih berani dari pemimpin, ulama, dan bala tentara negeri-negeri Islam yang memilih diam.

Rekaman itu, suaranya, cukup untuk mempermalukan dunia yang menyaksikan kezaliman ini.

Karena dalam darah mereka ada kehidupan. Dan dalam diam kita, ada kematian.

Darah para syuhada sedang menyirami bumi ini. Dan dengan izin Allah, ia akan menumbuhkan pohon-pohon kebangkitan.

Kezaliman hari ini sedang menjadi penyaring manusia. Memisahkan yang jujur dari yang munafik. Yang akan terus maju dari yang memilih zona nyaman.
Yang berani berkata benar dari yang rela tunduk.

Dan pada akhirnya, hanya ada dua jalan:

Jalan para syuhada yang jujur…
atau jalan para pengkhianat pecundang.

 

(Aki Omar, 7 April 2025, arus mudik Bakauheuni)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Sabtu, 18/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×