Foto—Timnas saat menjadi model jersey Indonesia terbaru (Instagram/ erspo.official)
Beberapa waktu belakangan, Timnas Sepak bola Indonesia tengah hangat diperbincangkan lantaran performanya yang terus meningkat hari demi hari. Di bawah nakhoda kepelatihan Shin Tae-Yong, Timnas Indonesia mampu memberikan tontonan yang menggugah masyarakat baik sebagai hiburan semata bahkan sampai menjadi harapan kemajuan.
Tentu hal ini merupakan kabar baik, mengingat beberapa tahun ke belakang Timnas selalu berganti pelatih dengan jangka waktu yang sebentar seolah tak mempercayai hasil dari proses sehingga prestasi yang dihasilkan pun tidak sesuai dengan yang diharapkan. Indra Sjafri yang hanya satu tahun (2015), Alfred Riedl yang juga satu tahun (2016), sampai Luis Milla yang hanya dua tahun (2017-2018).
Kedatangan Shin Tae-Yong seolah menjadi nafas baru bagi Timnas kita, sebab Timnas di bawah kepelatihan Shin Tae-Yong terbilang bertahan cukup lama, yakni hampir sampai lima tahun (2020-2025) dengan peringkat Timnas yang terus mengalami eskalasi.
Timnas Indonesia cukup menjadi obat pelipur lara di tengah Liga yang semrawut. Permainan sepak bola gajah, mafia pengaturan skor, bahkan kekerasan di atas rumput hijau yang kerap menghiasi lapangan. Tak ayal, jika masyarakat menggantungkan harapan kemajuan sepak bola di negerinya hanya kepada Timnas. Namun sayangnya, ketika harapan itu telah digantungkan, petaka datang.
Festival of Insignificance Milan Kundera Bagi Suporter Sepak bola
Tak ada manusia yang luput dari perasaan tidak dianggap, diacuhkan, dan terabaikan, apalagi suporter sepak bola. Suporter sepak bola menjadi langganan bagi perasaan ini. Tidak dianggap saat aspirasi mengenai harga penjualan tiket, diacuhkan saat menyampaikan kritik terhadap federasi, bahkan diabaikan saat suporter menikmati Timnas Indonesia di bawah kepelatihan Shin Tae-Yong yang sedang dalam performa baiknya. Perasaan-perasaan sedemikian rupa umumnya cenderung disikapi dengan bias negatif. Namun, Milan Kundera, salah seorang sastrawan dalam karya Festival of Insignificance-nya mengajak para pembaca untuk merayakan perasaan insignifikansi tersebut. Baginya, merayakan menjadi sosok yang tidak dianggap dan terabaikan merupakan sesuatu yang normal.
Bicara soal sepak bola tidak afdal jika tidak mengikutsertakan bab-bab militansi dan kecintaan suporter yang masif. Tidak berlebihan jika suporter disebut sebagai Pemain ke-12 karena begitu krusial dan vital peran suporter dalam mendukung sebuah tim sepak bola. Saat pertandingan Timnas disiarkan, acapkali kamera menyorot ke hadapan penonton terutama saat Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dilantunkan. Terlihat wajah senang, sedih, dan haru ketika mengumandangkan Lagu Indonesia Raya di tribun beriringan dengan harapan terhadap kemajuan Timnas kita. Manusia memang selalu memerlukan eksistensi, demikian dengan suporter sepak bola.
Suporter sepak bola Indonesia melihat kehadiran timnas sebagai wadah untuk menunjukkan eksistensi mereka.
Sejak era Renaisans sampai zaman modern di mana arus globalisasi dan internet begitu masif menguasai serta mengontrol manusia, eksistensi sudah menjadi kebutuhan pokok yang setara dengan sandang, pangan, dan papan.
Mendukung Tim Nasional kebanggaan juga menjadi Upaya menunjukkan eksistensi diri. Jika teorema Descartes yang terkenal berbunyi “aku berpikir maka aku ada”, maka suporter memiliki teorema “aku mendukung maka aku ada” sebagai justifikasi eksistensi suporter melalui dukungannya. Namun sayangnya, kecintaan suporter terhadap sepak bola tak selamanya mendapat sambutan manis, lebih sering bahkan tidak diindahkan oleh federasi. Iming-iming profesionalisme dan transparansi hanya bersifat semu di Indonesia ini. Ketidakterbukaan selalu dimaklumkan menjadi keterbukaan yang tak pernah tampak, termasuk dalam kasus kontrak Shin Tae-Yong yang semula diperpanjang sampai 2027 terhenti di 2025 tanpa alasan yang jelas. Para penikmat sepak bola hanya bisa berprasangka pada situs web resmi federasi.
Federasi seolah mengacuhkan kesenangan kita sebagai suporter sepak bola dalam menikmati permainan Timnas kita.
Timnas, Nilai Sosial, dan Harapan Masyarakat Indonesia
Suporter lahir karena kecintaan, bukan karena kepentingan pihak tertentu ataupun bahkan bersifat politis. Semakin berpendidikannya suporter pada era sekarang ini sepatutnya dapat dilirik oleh federasi sebagai kesempatan menggandeng menjadi mitra manajemen. Federasi juga harus membenahi komunikasi dengan banyak pihak bukan hanya sebatas permasalahan finansial atau bantuan fasilitas, akan tetapi juga kolaborasi yang memberikan manfaat bagi orang banyak.
Saat pertandingan Timnas disiarkan, acapkali kamera menyorot ke hadapan penonton terutama saat Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dilantunkan. Terlihat wajah senang, sedih, dan terharu ketika mengumandangkan Lagu Indonesia Raya di tribun beriringan dengan harapan terhadap kemajuan timnas kita.
Sebab, sepak bola tak hanya sekedar permainan. Ada kemaslahatan banyak orang yang digantungkan pada olahraga ini. Sebagai olahraga yang sarat akan nilai sosial, Timnas kita menjadi angin segar perdamaian antar suporter klub yang tiada hentinya berseturu bahkan kerap memakan korban jiwa. Kita sudah lelah dengan berita kekerasan antar suporter lokal yang terjadi di tanah air, maka Timnas merupakan salah satu harapan besar bersatunya suporter lokal dalam mencapai visi yang sama.
Di tengah kemelut sepak bola kita ini, pemecatan Shin Tae-Yong dari kursi kepelatihan seolah menjadi pelengkap derita masyarakat Indonesia. Sebuah peristiwa yang cukup mengejutkan sekaligus menimbulkan tanda tanya besar. Harapan tinggi yang disematkan kepada Timnas Garuda di bawah nakhoda Shin Tae-Yong ternyata bertepuk sebelah tangan.
Kekalahan atas Australia merupakan pukulan telak bagi Indonesia. Terlalu naif jika Masyarakat menuntut Timnas bermain bagus dengan nakhoda baru yang masih seumur jagung dalam keadaan keterikatan emosional belum terbentuk antara sang pelatih dengan pemain. Apakah wajar Masyarakat menuntut hasil instan di tengah pemangku federasi mengajarkan Masyarakat bagaimana cara lolos babak selanjutnya secara instan dengan memecat Shin Tae-Yong secara mendadak dan menggantinya secara cepat?
Akan tetapi, perlu diingat bahwa pilihan sepenuhnya ada pada kita, suporter sepak bola. Antara meracau sebab tiada lagi Timnas di bawah nakhoda Shin Tae-Yong atau merayakannya bersama Kundera dan lepas dari kesedihan yang mendalam. Kekecewaan yang timbul karena terabaikan ini tidak serta-merta untuk diratapi. Itulah mengapa Kundera menulis kata “Festival” pada bukunya. Ada optimisme berbalut satire saat merayakan insignifikansi sebagai sebuah yang patut dirayakan laiknya menjuarai Piala Dunia.
Tulisan Kundera begitu bagus dan universal sehingga rasanya tepat jika dielaborasikan dengan situasi sepak bola kiwari. Lagi pula, kultur penulisan sepak bola pun kerap menyasar kepada isu sosial, budaya, ekonomi, bahkan sastra, bukan?
(Fadhila Hafizh Al-Mahdi)
Penonton Layar Kaca Timnas Indonesia.



Comment