Jakarta — Laporan investigasi terbaru dari Al Jazeera kembali menyoroti dampak serangan militer Israel di Jalur Gaza. Dalam program The Rest of the Story yang tayang 9 Februari 2026 @-lalu, disebutkan sedikitnya 2.842 warga Palestina dilaporkan hilang sejak perang besar pecah pada Oktober 2023.
Data itu bersumber dari Pertahanan Sipil Gaza, yang mencatat banyak korban yang dilaporkan hilang dan tidak ditemukan jasadnya setelah bangunan tempat mereka berada hancur akibat serangan udara. Dalam sejumlah lokasi, tim penyelamat hanya menemukan bercak darah, potongan kecil jaringan tubuh, atau sisa-sisa biologis yang sangat terbatas. Seperti yabg termuat dalam Investigasi Al Jazeera.
Sebagian media kemudian menyebut fenomena ini sebagai jasad yang “menguap”. Namun, istilah tersebut sebenarnya bukan berarti tubuh benar-benar hilang tanpa sisa. Beberapa ahli menjelaskan, ledakan dengan suhu dan tekanan sangat tinggi bisa menghancurkan tubuh hingga sulit dikenali atau tidak utuh lagi.
Dalam laporan itu, sejumlah saksi dan narasumber menyebut dugaan penggunaan senjata termal atau termobarik, yaitu amunisi yang menghasilkan gelombang panas dan tekanan ekstrem saat meledak. Suhu ledakan jenis ini bisa mencapai ribuan derajat Celsius dalam waktu sangat singkat, dalam penulusuran Al Jazeera, mencapai 3.000–3.500 derajat Celsius, jauh di atas titik didih air, sehingga dampaknya pada jaringan biologis sangat besar.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Munir al-Bursh, mengatakan kombinasi panas dan tekanan tinggi dapat menyebabkan kerusakan jaringan tubuh yang sangat parah. Kondisi inilah yang membuat proses identifikasi korban menjadi sulit.
Investigasi tersebut juga menyoroti beberapa jenis bom yang disebut digunakan dalam operasi militer, seperti MK-84, BLU-109, dan GBU-39. Amunisi ini dikenal memiliki daya ledak besar dan biasa digunakan untuk menghancurkan bangunan atau bunker.
Salah satu keluarga yang diwawancarai Al Jazeera, Yasmine Mahani, menceritakan kehilangannya seorang anggota keluarga setelah sebuah sekolah di Gaza City terkena serangan pada 10 Agustus 2024. Ia menyebutkan bahwa pencarian selama berhari-hari tidak membuahkan satu pun bagian tubuh yang bisa dimakamkan, hanya puing bangunan dan noda darah. Berdasarkan investigasi Al Jazeera, peristiwa ini bukan lah kejadian pertama, melainkan dialami oleh banyak keluarga di Gaza.
Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa laporan soal korban yang “menguap” sulit diverifikasi secara independen karena keterbatasan akses di wilayah perang. Banyak pakar forensik menegaskan bahwa ledakan besar memang bisa menyebabkan tubuh hancur berat, tetapi bukan berarti benar-benar lenyap tanpa sisa sama sekali.
Laporan ini kembali menambah dampak panjang kemanusiaan dalam konflik Gaza, di tengah perdebatan internasional soal penggunaan senjata dan perlindungan warga sipil di wilayah perang.



Comment