Masih ingatkah Anda, pada tahun 2022 lalu, ada sebuah kisah yang mengguncang nurani dunia? Seorang anak kecil dari Maroko terperosok ke dalam sumur sempit, dan selama lima hari dunia menanti dengan napas tertahan. Ia bernama Rayan Oram, bocah lima tahun yang menjadi simbol harapan, kesatuan, dan kemanusiaan di tengah dunia yang kian apatis.
Desa Ighrane, Provinsi Chefchaouen, yang biasanya sunyi, tiba-tiba menjadi pusat perhatian global. Upaya penyelamatan Rayan disiarkan secara langsung, menggerakkan jutaan hati untuk berdoa. Dunia terenyuh, bersimpati, dan bersatu dalam empati. Namun takdir Allah mendahului segalanya. Setelah lima hari penuh ikhtiar dan ihsan, Rayan diangkat dari kedalaman 32 meter, namun telah wafat. Ia kembali kepada Allah dalam keadaan fitrah.
Di balik kisah duka ini, tersimpan pesan yang dalam. Rayan bukan sekadar korban. Ia adalah isyarat langit. Allah ingin menyentil umat ini, agar bangkit dari kelalaian. Jika dunia bisa tergerak karena satu anak kecil, mengapa kita tidak bersatu dan peduli terhadap ribuan anak Muslim lain yang terzalimi di Palestina, Suriah, Rohingya, Yaman, dan tempat-tempat lainnya?
Tulisan ini ingin mengingatkan kita semua, bahwa nilai satu nyawa begitu besar dalam Islam. “Barangsiapa yang menyelamatkan satu nyawa, maka seakan-akan ia telah menyelamatkan seluruh manusia” (QS. Al-Maidah: 32).
Maka upaya penyelamatan terhadap Rayan adalah gambaran nyata dari ihsan (usaha terbaik) yang dilakukan manusia dengan penuh empati, ketelitian, dan cinta. Namun hasilnya tetap Allah yang tentukan.
Kisah ini juga menjadi cermin bagi dunia Islam, teknologi bisa canggih, manusia bisa terampil, namun semua itu akan tunduk pada takdir Allah. Sudah saatnya umat kembali rendah hati, tidak lagi pongah dengan kecanggihan teknologi yang telah dicapainya. Allah ingin kita sadar bahwa kekuatan sejati bukan pada alat, tapi pada iman dan tawakal.
Dan yang lebih penting lagi, jangan biarkan emosi terhadap Rayan hanya menjadi simpati sesaat. Jadikan ini sebagai pelecut untuk menyelamatkan lebih banyak “Rayan-Rayan” lainnya dari kegelapan kebodohan, dari jurang kemiskinan, dari konflik, dan dari kehancuran moral. Gunakan dakwah, tarbiyah, dan ukhuwah sebagai jembatan penyelamatan.
Rayan telah selesai tugasnya di dunia. Tapi tugas kita masih panjang. Mari teruskan perjuangan ini dengan semangat menyelamatkan jiwa, membela kehidupan, dan memuliakan kemanusiaan.
Semoga Allah merahmati Rayan dan membangunkan umat ini dari tidur panjang yang melalaikan. (hah)



Comment