Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Sastra Teh, Kopi, dan Rokok: Mengintip Khazanah Humor dan Budaya dari Risalah Klasik

Sastra Teh, Kopi, dan Rokok: Mengintip Khazanah Humor dan Budaya dari Risalah Klasik

Bayangkan secangkir teh hangat di pagi hari, seduhan kopi pekat pembangkit semangat, atau kepulan asap rokok yang menemani perbincangan. Bagi banyak orang, ketiganya adalah bagian tak terpisahkan dari ritual harian dan interaksi sosial. Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana teh, kopi, dan rokok menjadi subjek karya sastra yang penuh humor dan kedalaman budaya? Sebuah risalah unik berjudul “أدبيات الشاي والقهوة والدخان” (Sastra Teh, Kopi, dan Tembakau) karya Muhammad Tahir bin Abdul Qadir Al-Kurdi Al-Makki Al-Khatat mengajak kita menyelami sisi lain dari ketiga “candu” peradaban ini.

Bukan manfaat kesehatan atau mudaratnya yang menjadi fokus Al-Kurdi. Sebaliknya, ia dengan cermat mengumpulkan berbagai ungkapan sastra, anekdot jenaka, dan puisi-puisi ringan yang merefleksikan pandangan masyarakat pada masanya terhadap teh, kopi, dan tembakau. Dalam pengantar edisi pertamanya, sang penulis menegaskan bahwa karyanya ini adalah sebuah “risalah لطيفة” (risalah yang lembut/menyenangkan) yang bertujuan untuk menghibur (فكاهة) dan menjadi teman diskusi bagi para sahabat, bukan untuk mengkaji aspek ilmiahnya. Ia bahkan dengan rendah hati meminta maaf jika ada syair yang mungkin kurang memenuhi standar tinggi kesusastraan, karena penekanannya adalah pada aspek hiburan semata.

Edisi kedua buku ini, yang terbit setelah respons positif dari edisi pertama, diperkaya dengan lebih banyak humor, faedah, dan bahkan gambar-gambar peralatan yang berkaitan dengan ketiga minuman tersebut. Al-Kurdi mengaku telah mengumpulkan materi ini sejak ia masih menjadi mahasiswa di Al-Azhar, Mesir, pada tahun 1345 H. Untuk menggarisbawahi legitimasinya humor dalam tradisi, ia menyertakan biografi sahabat Nabi, Nu’ayman Al-Ansari, yang terkenal dengan kejenakaannya.

*Warung Kopi: Denyut Nadi Sosial dan Intelektual*

Sebelum menyelami karya sastra, Al-Kurdi memberikan kita gambaran sejarah sosial yang menarik, khususnya mengenai warung kopi (المقاهي). Jauh sebelum kafe modern menjamur, warung kopi telah memainkan peran signifikan. Di Konstantinopel (Turki), warung kopi pertama muncul pada tahun 1554 M, didirikan oleh perantau dari Damaskus dan Aleppo. Kehadirannya tak selalu mulus; sempat terjadi protes dari kalangan agamawan yang khawatir warung kopi membuat masjid sepi, hingga kopi pernah dianggap haram layaknya khamar.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Lain ladang lain ilalang. Di Persia, warung kopi menjadi tempat berkumpulnya kaum terpelajar, reformis, ahli hukum, penyair, dan sejarawan untuk bertukar pikiran. Sementara di Jerman, Raja Frederick Agung sempat menganjurkan bir daripada kopi, sebelum akhirnya memonopoli impor biji kopi dan bahkan membentuk “polisi pencium aroma” untuk melacak penggiling kopi ilegal. Di Inggris, warung kopi yang sempat dilarang justru berkembang menjadi cikal bakal banyak klub ternama.

Buku ini juga mengutip penelitian Zahia Marzouq yang menyoroti fungsi sosial warung kopi di Mesir, seperti menjadi “ruang tamu” alternatif bagi keluarga miskin yang tinggal di hunian sempit, atau tempat para pekerja menunggu panggilan kerja. Bahkan, ada data statistik menarik tentang profil pengunjung dan alasan mereka mendatangi warung kopi, mulai dari sekadar hiburan, mencari berita, hingga melarikan diri dari masalah rumah tangga.

*Sastra dalam Seduhan dan Kepulan Asap*

Inti dari risalah Al-Kurdi adalah kumpulan karya sastra itu sendiri. Masing-masing komoditas – teh, kopi, dan rokok – mendapatkan panggungnya sendiri.

*• Teh yang Menenangkan Jiwa:* Minuman yang berasal dari Tiongkok ini tak luput dari pujian para penyair. Mereka mengagumi aroma, warna, dan perannya dalam menghangatkan pergaulan serta kemampuannya mengusir kesedihan. Salah satu yang menonjol adalah kutipan panjang dari syair Sheikh Ahmad bin Amin Bait Al-Mal Al-Makki yang membahas seluk-beluk teh, mulai dari jenis, sifat, manfaat, hingga cara penyajiannya yang paling nikmat.

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

*• Kopi: Pahit Manis Perdebatan dan Pujian:* Perjalanan kopi dari Yaman (diduga dari Ethiopia) hingga mendunia diwarnai dengan perdebatan sengit. Sejarah mencatat bagaimana para ulama berselisih pendapat mengenai status halal-haramnya. Warung kopi yang menjadi tempat kopi disajikan pun tak jarang diasosiasikan dengan hal-hal yang kurang pantas di mata sebagian orang. Namun, di sisi lain, para sastrawan memuji kopi karena warna gelapnya yang memikat, efeknya yang menyegarkan, serta perannya sebagai teman setia dalam beribadah dan menuntut ilmu.

*• Dukhan (Rokok):* Asap Kontroversi dan Inspirasi Sesaat: Tembakau, sang primadona “Dukhan”, dibawa dari benua Amerika dan pada awalnya bahkan dianggap sebagai tanaman obat di Eropa. Seperti kopi, kehadirannya di dunia Arab juga memicu perdebatan dan fatwa-fatwa yang beragam. Ada masa ketika perokok menghadapi hukuman berat, seperti pada era Sultan Murad IV. Para penyair tak ketinggalan menangkap fenomena ini. Ada yang memuji daya tariknya, ada yang menggambarkan pengalaman merokok, tak jarang pula terselip nada penyesalan. Bahkan shisha (hookah) dengan segala pernak-perniknya turut menjadi inspirasi.

*Warisan yang Menghibur*

_*”Adabiyyāt asy-Syāi wal Qahwah wad Dukhān”*_ lebih dari sekadar kumpulan puisi dan anekdot. Ia adalah potret budaya, sebuah jendela untuk mengintip bagaimana masyarakat pada suatu masa memandang hal-hal yang kini mungkin kita anggap sepele. Risalah Al-Kurdi menjadi pengingat bahwa sastra bisa lahir dari mana saja, bahkan dari secangkir teh atau kepulan asap rokok. Dengan gaya humor dan fokus pada aspek hiburan, buku ini menawarkan perspektif yang segar dan ringan, mengajak kita tersenyum sembari merenungkan betapa kaya dan beragamnya ekspresi budaya manusia. Sebagaimana harapan penulis di penutup risalahnya, karya ini menjadi pengingat dan pelajaran yang berharga, disajikan dengan untaian kata-kata bijak tentang kehidupan.

_Cekap Semanten._

Betawi Kian Ramai Ditampilkan, Tapi Diam-Diam Mulai Ditinggalkan?  

Goes poer

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Sabtu, 18/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×