Advertisement
DKI Jakarta Nasional Peristiwa
Home / Peristiwa / BPOM Didemo! Pocari Sweat dan Teh Hijau Dituding Mengandung Mikroplastik, Aktivis Tuntut Larangan!

BPOM Didemo! Pocari Sweat dan Teh Hijau Dituding Mengandung Mikroplastik, Aktivis Tuntut Larangan!

Foto—Demonstrasi menolak penggunaan kemasan dengan bahan plastik demi meminimalisir bahaya mikroplastik di depan kantor BPOM. (Sumber: akun Instagram @ecoton.id)

Jakarta, Ekspresi Indonesia—Kekhawatiran terhadap bahaya mikroplastik semakin meningkat. Sejumlah aktivis lingkungan turun ke jalan dan menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Jumat, 8 November 2024. Mereka menuntut larangan penggunaan mikroplastik dalam botol minuman serta produk perawatan bayi, mengingat dampaknya yang berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi bayi dan anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Aksi ini bukan sekadar protes biasa. Dalam unjuk rasa yang terekam dan diunggah di akun TikTok @EcotonFoundation, para aktivis dengan lantang meneriakkan seruan mereka. “Tolak… tolak… tolak mikroplastik! Tolak mikroplastik sekarang juga! Mikroplastik bukan makanan bayi, bebaskan bayi-bayi Indonesia dari mikroplastik!” seru mereka sambil mengangkat spanduk dan poster berisi tuntutan.

Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran mikroskopis yang dapat dengan mudah masuk ke tubuh manusia melalui makanan dan minuman. Banyak produk sehari-hari, seperti botol minuman sekali pakai dan produk perawatan tubuh, mengandung zat ini. Bayi dan balita, dengan sistem tubuh yang masih berkembang, disebut sebagai kelompok yang paling rentan terhadap dampaknya. Seorang aktivis dari kelompok Selami Laut menegaskan bahwa BPOM harus mengambil tindakan tegas. “Kami meminta BPOM untuk menghentikan peredaran produk-produk self-care dan body-care yang mengandung microbeads dan mikroplastik. Kami ingin BPOM lebih peduli terhadap generasi penerus Indonesia.”

Paparan mikroplastik di Indonesia juga tidak terbatas pada produk perawatan tubuh. Sejumlah studi menunjukkan bahwa mikroplastik banyak ditemukan dalam produk konsumsi harian, seperti gelas kertas, kantong teh plastik, wadah es batu plastik, dan talenan berbahan plastik. Bahkan, data terbaru mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia mengonsumsi rata-rata 15 gram mikroplastik per bulan, angka tertinggi di dunia.

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

Para aktivis tidak hanya menyoroti bahaya mikroplastik, tetapi juga menawarkan solusi. Mereka mengimbau masyarakat untuk mulai beralih ke produk alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan gelas tahan panas berbahan keramik, kayu, bambu, atau batok kelapa sebagai pengganti botol plastik, memilih kantong teh katun dibandingkan kantong teh plastik, beralih ke wadah es batu stainless steel untuk menghindari pelepasan mikroplastik, menggunakan wadah makanan bebas microwave untuk mengurangi paparan plastik pada makanan, serta memakai talenan berbahan kayu daripada talenan plastik. Menurut para aktivis, langkah-langkah kecil ini dapat membantu mengurangi paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.

Protes ini bukan sekadar aksi spontan, melainkan bagian darigerakan besar yang terus menekan otoritas terkaituntuk segera mengambil tindakan nyata. Para aktivis menegaskan bahwa regulasi ketat dari BPOM sangat dibutuhkan guna melindungi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang. Kesadaran publik mengenai bahaya mikroplastik kini semakin tinggi. Jika BPOM tidak segera bertindak, bukan tidak mungkin aksi-aksi serupa akan terus berlanjut hingga larangan terhadap penggunaan mikroplastik benar-benar diberlakukan.

(Abah Adi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Jumat, 17/04/2026
Imsak 04:28
subuh 04:38
dzuhur 11:56
ashar 15:14
maghrib 17:54
isya 19:04

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×