Kepala Kepolisian RI Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menyebutkan puncak arus mudik Lebaran 2025 akan terjadi pada Sabtu dini hari (29/3) nanti. Jumlah pemudik tahun ini diperkirakan mencapai 2,1 juta orang.
Di tengah kondisi perekonomian yang sedang tak baik-baik saja, kegembiraan umat Islam untuk menyambut Lebaran tak berkurang. Lebih dari 2 juta orang mudik untuk bersilaturahim dan bertemu dengan handai taulan di kampung halaman.
Saya teringat dengan kemacetan panjang yang menjadi pemandangan khas setiap mudik Lebaran. Walaupun barangkali kondisi kemacetan sekarang sudah tidak separah dulu, ketika jalan tol dari Jakarta ke Jawa Tengah/Jawa Timur belum tersambung.
Tercatat, selama periode 17-26 Maret 2025, konsumsi Pertamax di Jalur Pantura mengalami peningkatan rata-rata sebesar 8,8% dibandingkan dengan konsumsi normal Januari-Februari sebesar 194 kiloliter per hari.
Gonjang-ganjing BBM oplosan yang belum lama terjadi, sepertinya sudah dilupakan. Harga bensin di Indonesia dengan kualitas yang ada tergolong mahal.
Mudik Lebaran tak hanya menjadi fenomena di Indonesia, namun hampir semua negara-negara Muslim memiliki tradisi berkumpul bersama keluarga. Kerinduan untuk bertemu dengan keluarga adalah naluri alamiah manusia.
Sebagaimana Rasulullah SAW pun mengalaminya. Kerinduannya pada kampung halamannya, Makkah al Mukaromah, diungkapkan dalam sebuah hadist.
“Alangkah indahnya dirimu (Makkah). Engkaulah yang paling kucintai. Seandainya saja dulu penduduk Makkah tidak mengusirku, pasti aku masih tinggal di sini” [HR Tirmidzi].
Suatu hari sahabat Ashil Al Ghifari baru tiba di Madinah setelah melakukan perjalanan ke Makkah. Rasulullah SAW bertanya padanya, “Bagaimana keadaan Makkah sekarang?”
“Aku melihat Makkah makin subur wilayahnya, telah bening aliran sungainya, telah banyak tumbuh idzkirnya (sejenis pohon), telah tebal rumputnya, dan telah ranum salamnya (tumbuhan yang kerap dipakai untuk menyamak kulit),” jawab Ashil.
“Cukup wahai Ashil. Jangan engkau buat kami bersedih,” kata Rasulullah SAW, menandakan kerinduan yang mendalam pada Makkah.
عن أبي هريرة – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أن رجلا زار أخا له في الله، فأرصد الله له ملكا، فقال اين تريد؟ قال: أريد أن أزور أخي فلانا، فقال لحاجة لك عنده؟ قال لا، قال القرابة بينك وبينه؟ قال لا. قال فينعمة له عندك ؟ قال لا. قال فيم؟ قال أحبه في الله قال فإنَّ الله أرسلني إليك يخبرك بأنه يحبك لحبك إياه، وقد أوجب لك الْجَنَّةَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ada seorang laki-laki yang menjenguk saudaranya karena Allah, maka Allah mengutus malaikat untuknya. Malaikat itu bertanya: “Ke manakah engkau hendak pergi?” Dia berkata: Aku ingin mengunjungi saudaraku si Fulan. Dia berkata: Apakah kamu membutuhkan sesuatu darinya? Dia bilang tidak, dia bilang apa hubungan kamu sama dia? Dia bilang tidak. Dia berkata: Apakah itu suatu bantuan untukmu? Dia bilang tidak. Apa yang dia katakan? Dia berkata: Aku mencintainya karena Allah. Ia berkata: Allah mengutus aku kepadamu untuk memberi tahu bahwa Dia mencintaimu karena kamu mencintai-Nya, dan Dia telah menjamin surga untukmu. Diriwayatkan oleh Muslim. (HAH)



Comment