Imam Hasan Al Bashri, dikenal sebagai Ulama besar. Beliau hidup di awal zaman kekhalifahan Bani Umayyah. Walau hidup sebagai tokoh besar dan berpengaruh, namun hal itu tidak menyurutkannya untuk tetap hidup dalam kesederhanaan.
Beliau tinggal di rumah susun yang tidak terlalu besar bersama istri yang sangat dicintainya. Tepat di atas rumahnya adalah tempat tinggal tetangganya yang beragama Nasrani. Kehidupan berumah tangga dan bertetangga di antara mereka sangat rukun dan tidak pernah ada gejolak.
Di dalam kamar Imam Hasan Al-Bashri selalu ada ember kecil yang berfungsi untuk menampung tetesan air yang jatuh dari langit-langit kamarnya. Sang Imam menampung tetesan air tersebut, lalu membuangnya jika sudah penuh dan menaruh kembali ember kosong itu untuk menampung kembali tetesan air itu.
Kejadian tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan tetesan air najis itu sering kali membawa aroma bau pesing air najis yang menyengat
Namun Sang Imam dengan telaten menyiapkan wadah untuk menampung tetesan dari langit-langit ruang tengahnya itu, setiap malam.
Setiap kali wadah itu penuh, Ulama yang masyhur di tanah Irak itu keluar untuk membuang air kencing yang sudah memenuhi wadah tersebut.
Imam Hasan al-Bashri bukannya tidak mengetahui sumber masalah. Akan tetapi, yang dipilihnya adalah bersabar. Ia tidak berprasangka buruk dengan berpikiran bahwa tetangganya sengaja menyulitkan dirinya dengan kebocoran air dari toilet itu.
Begitulah keadaannya hingga 20 tahun lamanya. Seperti diceritakan Imam Abu Hayyan At-Tauhidi dalam Kitab al-Imta wa al-Mu’anasah.
Pada suatu hari Imam Hasan al-Bashri mengalami sakit yang cukup parah. Hingga tidak sanggup memimpin shalat di Masjid Raya Basrah. Halaqah-halaqah ilmu yang biasa beliau mengisinya pun terpaksa libur sejenak.
Sehingga orang-orang ramai menjenguknya. Baik dari kalangan masyarakat maupun para penguasa. Mereka yang datang menjenguk berdoa agar diberi kesembuhan dan kesehatan seperti dulu kala.
Di antara yang menjenguk Sang Imam adalah tetangganya yang Nashrani yang tinggal di atas rumahnya dan betapa terkejutnya ia, ketika mendapati bau tidak sedap yang dari dari arah ruang tengah. Ia juga merasa betul-betul yakin bahwa sumber kebocoran itu berasal dari lantai dua.
Kemudian tetangga itu mengambil wadah tersebut lalu membuang isinya jauh-jauh dari rumah. Lalu ia segera menemui lagi Sang Imam untuk meminta maaf.
Tetangga itu bertanya kepada sang imam:
يا أبا سعيد: مذ كم تحملون منّي هذا الأذى؟
“Wahai Abu Sa’id (Imam Hasan Al-Bashri), sudah berapa lama dirimu menanggung gangguan dariku ini?”
Imam Hasan Al-Bashri menjawab:
منذ عشرين سنة
“Sejak 20 tahun yang lalu.”
Seketika itu juga orang tersebut melepaskan ikat pinggang yang menjadi simbol agamanya dan langsung bersyahadat menyatakan keislamannya.
Masyaa Allah tabarakallah! Bisakah kita membayangkan, dua puluh tahun bersabar menanggung kesusahan yang setiap hari menimpa; setiap malam keluar rumah sembunyi-sembunyi membuangnya, dan harus melalui hal yang sama setiap harinya. Bisakah kita membayangkan berada di posisi itu?
Tentu sulit, bahkan mungkin hampir mustahil kita kuat melakukannya. Namun Imam Hasan al-Bashri melakukan itu untuk dua puluh tahun lamanya. Bersabar membersihkan rembesan air kencing yang masuk ke rumahnya. Ia tidak marah-marah mendatangi tetangganya dan memperingatkannya. Ia memilih diam dan membersihkannya setiap hari. Ia sedang mengamalkan ajaran nabinya, “falyukrim jârahu” (memuliakan tetangga).
Demikianlah buah dari kesabaran Imam Hasan al-Bashri dalam hidup bertetangga. Maslahat yang diterimanya tidak hanya ketenangan batin. Bahkan, atas izin Allah SWT, ia pun mendapatkan saudara seiman yang baru. Dengan kata lain, sifatnya yang tulus menjadi jalan hidayah bagi tetangganya.
📚 Kitâb Al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011. (AHA)



Comment