Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Kisah Cinta yang Mengharu Biru

Kisah Cinta yang Mengharu Biru

Iluistrasi
Iluistrasi

Salah satu kisah cinta paling mengharu biru dalam Islam, bahkan mungkin dalam sejarah, adalah kisah percintaan putri Rasulullah Saw., Zaenab dan suami, Abul Ash. Apakah yang terjadi saat ayah dan suaminya saling berhadapan dalam perang Badr? Mengapa Nabi Saw. menangis pilu di satu momentum tertentu usai peperangan tersebut. Detail kisahnya sungguh sangat indah mempesona.

Sejarah Islam sarat beragam kisah agung di berbagai sisi. Misalnya yang terkait dengan peperangan, kan kita temukan puluhan kisah tentang pengorbanan dan keberanian. Dalam bidang politik, juga kita dapatkan kisah dan hikmah kepemimpinan. Demikian pula yang terkait cinta dan kerinduan, kita dapat membaca puluhan kisah tentangnya.

Beberapa tahun sebelum diutusnya Muhammad sebagai Nabi, ketika itu usia Zainab binti Muhammad kurang dari 10 tahun. Walau mata para pemuda Bani Hasyim sudah tertuju padanya. Setiap rumah penduduk Mekah bersaing jadi yang pertama agar dapat dipilih oleh kedua orang tuanya sebagai menantu dari suku Quraisy. Puluhan pemuda dari datang untuk meminangnya. Namun hanya berbuah penolakan dari Zainab yang saat itu masih belia.

Hingga suatu ketika datang kepadanya Abul Ash bin Rabi’ ra. Anak bibinya, Haalah binti Khuwailid. Kalangan paling mulia dari suku Quraisy. Ia datang menemui Nabi Saw. yang kemudian berkata kepada putrinya, Zainab, “Anak bibimu datang untuk meminangmu.” Seketika wajah Zainab bersemu merah. Ia pun tersenyum menerima pinangan sepupunya. Itu terjadi sebelum turunnya Wahyu kepada Rasulullah Saw. Dan dari sini pula kisah cinta itu bermula.

Zainab dan Abul Ash pun hidup bersama dalam bahtera rumah tangga sebagai keluarga teladan. Cinta keduanya yang begitu unik dan menakjubkan jadi tamsil di tengah masyarakat Mekah.

Bangkitkan Budaya Betawi, Warga Sukabumi Utara Gelar Lebaran Betawi Perdana

Zainab senantiasa mendukung dan membantu suaminya, Abul Ash, lebih dari sekadar sebagai seorang isteri. Demikian pula peran yang dijalani oleh Abul Ash. Begitulah jalinan kisah kasih itu berlangsung selama beberapa tahun lamanya hingga keduanya dikarunia 2 orang anak; Ali dan Umamah.

Ketika itu Abul Ash menjalani perannya sebagai pebisnis. Sebuah profesi yang sebenarnya tidak disukai oleh Zainab. Karena usaha itu kerap memisahkan dirinya dengan kekasih dan suami tercintanya selama beberapa bulan. Dan itu sangat berat baginya.

Suatu ketika Abul Ash melakukan perjalanan bisnis ke Syam. Hanya saja, pada waktu yang sama sebuah peristiwa besar terjadi di Mekah, yaitu turunnya Wahyu Ilahi kepada Rasulullah Saw., dan dimulainya dakwah Islam di tengah masyarakat. Di antara mereka yang segera menyambut seruan itu adalah Zainab binti Muhammad Saw. Ia segera masuk Islam dan beriman kepada ayahnya. Semua itu terjadi sementara Abul Ash tidak tahu menahu segala yang terjadi di Mekah.

Beberapa bulan kemudian, Abul Ash pun kembali ke Mekah dengan sebuah kejutan besar yang menantinya. Zainab menyambut kedatangan suami tercintanya, lalu mulai berbicara padanya seraya berkata, “Ada berita besar untukmu, sayang!”. Abul Ash pun terkejut dan berkata, “Berita apakah itu..?”

“Ayahku diutus sebagai Nabi, aku pun telah masuk Islam..!”

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

“Tidakkah kau beri tahu aku lebih dahulu?” Sergah Abul Ash.

Itu kemudian menjadi awal munculnya masalah di tengah mereka. Zainab lalu berkata, “Aku tak pernah mendustakan ayahku, dan ayahku bukanlah seorang pendusta. Dia sosok yang jujur dan terpercaya. Aku pun bukan hanya seorang yang telah memeluk Islam. Anak pamanku (Ali bin Abi Thalib), putra bibimu (Utsman bin Affan), dan sahabatmu (Abu Bakar ash-Shiddiq), semuanya telah masuk Islam.”

“Tapi aku tak sudi bila orang-orang berkata bahwa, Abul Ash berpaling dari agama nenek moyangnya demi menyenangkan hati isterinya. Tidakkah engkau memaklumi dan menghormatiku..?!” Kata Abul Ash

“Lalu siapa yang akan memaklumimu bila bukan aku. Tapi engkau adalah suamiku, yang akan selalu membantumu kepada kebenaran hingga engkau sanggup menerimanya.” Jawab Zainab.

Abul Ash pun menepati ucapannya selama 20 tahun. Dan Zainab tetap tinggal bersamanya di sepanjang tahun itu walau suaminya tetap dalam kekafirannya. Upaya yang terus ia lakukan agar suaminya masuk Islam, ternyata tak membuahkan hasil, hingga turunnya Wahyu Ilahi yang mengharamkan pernikahan dengan orang kafir. Sementara Utbah dan Utaibah yang menikahi putra Rasulullah Saw., Ruqayyah dan Ummu Kaltsum, telah menceraikan isteri-isteri mereka setelah diutusnya Rasulullah Saw.

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Adapun Abul Ash, menolak menceraikan istrinya walau seluruh pembesar Quraisy menawarkan padanya kekayaan dan lima wanita tercantik Quraisy yang bebas ia pilih sebagai imbalan. Baginya, cinta pada Zainab melampaui seluruh harta kekayaan Quraisy.

Hingga akhirnya tiba saat yang dijanjikan yaitu terjadinya perang Badar..! Rasulullah Saw. bersama kaum muslimin segera menyongsong kuffar Quraisy. Demikian pula Abul Ash yang berada pada barisan musuh. Sebuah momentum yang menciptakan kegelisahan dalam diri Zainab; suami yang dicintainya akan bertemu ayah dan nabinya di medan perang. Itulah saat-saat paling berat dan sulit yang ia lalui dalam kehidupannya. Hingga tiba padanya berita tentang perang Badar.

Dalam situasi sulit itu, Zainab hanya dapat mengadu kepada Sang Khaliq disertai isak tangis, “Ya ALLah, sungguh aku khawatir saat matahari terbit esok, anakku seketika jadi yatim atau aku kehilangan ayahku.”

Perang Badr pun usai, dan Abul Ash bin Rabi’ jadi tawanan kaum muslimin. Berita itupun dengan cepat sampai ke Mekah. Zainab lalu mencari tahu kabar itu seraya berkata, “Bagaimanakah keadaan ayahku..”

“Kaum muslimin menang dalam peperangan.” Saat mendengar jawaban itu, ia pun sujud sukur.

“Lalu, bagaimana kondisi suamiku?”

“Mertuanya telah menawannya” Kata mereka.

“Kalau begitu, aku akan mengirim sesuatu untuk menebusnya.”

Namun Zaenab tak memiliki sesuatu pun yang berharga untuk menebus suaminya selain sebuah kalung yang dihadiahkan ibundanya, Khadijah bin Khuwailid Ra. sebelum kematiannya. Kalung kecintaan ibundanya itu tiada pernah lepas darinya sejak ia mengenakannya. Ia akhirnya melepas kalung itu dan mengirimnya melalui saudara al-Ash, agar segera membawanya ke Madinah sebagai tebusan kebebasan bagi suaminya

Dua hari kemudian saat Nabi Saw. sedang duduk menerima tebusan pembebasan para tawanan, tiba-tiba saja di hadapannya tampak sebuah kalung yang sangat tak asing baginya; kalung milik kekasih hatinya yang telah pergi mendahuluinya. Kalung itu milik Khadijah bin Khuwailid Ra. Hatinya tetiba merindukannya.

“Tebusan ini untuk siapa?” Tanya beliau

“Tebusan untuk Abul Ash bin Rabi’, ya Rasulullah,” jawab para sahabat.

Seketika beliau menangis seraya berkata, “Kalung ini milik Khadijah!” Beliau lalu bangkit dan berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya orang ini (maksudnya Abul Ash), tiada pernah kami mencelanya sebagai menantu. Tidakkah kalian membebaskannya sebagai tawanan, dan setuju mengembalikan kalung tebusan ini kepada pemiliknya?”

“Baiklah, wahai Rasulullah!” Jawab para sahabat.

Rasulullah Saw. lalu menyerahkan kalung itu kepada Abul Ash, seraya berkata kepadanya, “Katakan pada Zainab, jangan lepaskan kalung ini selamanya.” Kemudian kembali berkata, “Wahai Abul Ash, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” Beliau kemudian mendekat dan berdiri di sisinya lalu berkata, “Wahai Abul Ash, sesungguhnya ALLah memerintahkan padaku agar memisahkan antara muslimah dan kafir. Tidakkah engkau kembalikan padaku putriku?”

Setiba Abul Ash di Mekah, Zainab pun menyambut kedatangan suami terkasih yang dirindukannya selalu di gerbang kota. Abul Ash lalu berkata kepadanya, “Aku akan pergi.”

“Kemana.”

“Bukan aku, tapi engkau akan pergi menuju ayahmu.”

“Mengapa demikian?”

“ALLah telah memisahkan diriku dan dirimu.”

Jawab Abul Ash singkat.

Zainab hanya dapat menerima perintah itu dengan penuh redha. Walau hatinya seakan hancur saat harus berpisah dengan suaminya. Ia tetap patuh dan taat pada Tuhannya, juga ayahnya. Ia pun segera mengambil anak-anaknya dan bekal secukupnya menuju Madinah. Beberapa tokoh dari kalangan sahabat segera datang meminangnya. Namun semua itu ia tolak dengan sebuah harapan; suami yang dicintainya datang sebagai muslim. Sebuah penantian panjang hingga 6 tahun lamanya.

‏Hari itu, Abul Ash berangkat bersama kafilah dagang menuju Syam. Dalam perjalanannya, kafilah dagang ini bertemu dengan sejumlah sahabat yang kemudian mengambil alih kafilah dagang itu dan berusaha menawan mereka yang mengiringinya. Namun Abul Ash berhasil meloloskan diri menuju Madinah ke rumah Zainab.

Kala melihat kedatangan suaminya, Ia pun bertanya kepadanya, “Apakah engkau datang sebagai muslim?”

“Tidak! Aku datang sebagai pelarian.”

“Adakah engkau akan masuk Islam?”

“Tidak!”

“Bila demikian, usah khawatir. Selamat datang anak pamanku. Selamat datang ayah Ali dan Umamah.”

Usai shalat Subuh, dan setelah Rasulullah Saw. mengimami para sahabatnya, terdengar suara dari luar masjid, “Aku telah menjamin Abul Ash bin Rabi’ah.”

“Apakah kalian mendengar suara itu.” Tanya Rasulullah Saw. kepada kaum muslimin.

“Ya, kami mendengarnya, ya Rasulullah.” jawab mereka.

Zainab kemudian berkata kepada beliau.”Ya Rasulullah, sesungguhnya Abul Ash, bila ia jauh maka putra pamanku. Kala ia dekat, maka ayah anak-anakku. Aku telah memberinya jaminan, ya Rasulullah.” Beliau pun menyetujuinya.

Rasulullah Saw. kemudian datang ke rumah Zainab dan berkata kepadanya, “Muliakanlah kehadirannya. Karena ia putra pamanmu dan ayah anak-anakmu. Tapi jangan pernah ia mendekatimu, karena ia tiada halal bagimu.”

“Baik, ya Rasulullah.” Jawab Zainab.

Ia lalu masuk ke rumahnya dan berkata kepada Abul Ash, “Wahai Abul Ash, tidakkah engkau terhina dengan perpisahan ini? Bilakah engkau masuk Islam dan tinggal bersama kami.”

Walau hatinya dipenuhi cinta pada Zainab, namun keangkuhan masih tetap menguasainya, dan menolak ajakan kekasihnya masuk Islam. Abul Ash lalu keluar meninggalkan Zainab disertai tangis sedih. Sementara Zainab jatuh sakit karena kekecewaannya yang begitu dalam atas penolakan kekasihnya yang enggan beriman.

Setelah mengambil seluruh harta perniagaan yang dibawanya dari Syam, ia pun kembali ke Mekah dan menyerahkannya kepada pemiliknya. Di hadapan masyarakat Mekah ia lalu berkata, “Inilah harta milik kalian. Masih adakah yang tersisa?”

“Semoga ALLah membalasmu dengan kebaikan. Engkau sungguh telah menunaikan amanah dengan sangat baik.” Jawab mereka

Abul Ash kemudian mengucapkan kalimat syahadat di hadapan penduduk Mekah, lalu kembali ke Medinah berbalut rindu pada Zainab yang kini memenuhi jiwanya. Ia kemudian menemui Rasulullah Saw. di masjid dan berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, kemarin engkau telah memberiku jaminan keamanan, kini aku datang sebagai muslim. Apakah engkau mengizinkanku kembali kepada Zainab?”

Nabi Saw. lalu meraih tangannya seraya menemaninya menuju rumah Zainab. Setiba di sana, Rasulullah Saw. pun berkata, “Wahai Zainab, ini anak pamanmu datang hari ini padaku, dan meminta izin agar dapat kembali kepadamu. Apakah engkau menerimanya??” Seketika wajah Zainab bersemu merah disertai senyum bahagia. Sebagaimana dahulu saat Abul Ash datang meminangnya.

Namun sungguh sayang. Karena masuk Islamnya Abul Ash cukup terlambat. Setahun kemudian dari peristiwa itu, Zainab Ra. wafat. Membuat Abul Ash menangis pilu tak terperi. Hingga penduduk Madinah menyaksikan Rasulullah Saw. menghibur dan menenangkan Abul Ash yang berkata kepada beliau di sela Isak tangisnya, “Aku seakan tak sanggup lagi hidup di dunia setelah kepergian Zainab, ya Rasulullah.”

Dan setahun kemudian dari kematian Zainab, Abul Ash pun berpulang; menyusul kekasih hati yang telah mendahuluinya. Semoga rahmat dan keredhaan ALLah senantiasa tercurah kepada Zainab dan Abul Ash Ra.

Referensi kisah:

  • Beberapa riwayat dalam hadits Sahih Bukhari dan Muslim.
  • Al-Bidayah wa an-Nihayah
  • Asadul Ghabah, fii ma’rifah ash-Shahabah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Minggu, 19/04/2026
Imsak 04:27
subuh 04:37
dzuhur 11:55
ashar 15:14
maghrib 17:53
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×