Advertisement
Hikmah Oase
Home / Oase / Kisah Imam Muda

Kisah Imam Muda

Ilustrasi
Ilustrasi

Suatu hari saat kumandang adzan Ashar terdengar, aku segera ke masjid dan shalat di belakang imam. Usai shalat, aku menuju salah satu sudut masjid untuk membaca wirid petang. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok anak kecil usia sekitar 10 tahun, melangkah masuk masjid sambil melihat ke seluruh penjuru. Ia kemudian mendatangiku dan berkata, “Apakah Syaikhnya sudah datang, paman?!”

“Syaikh yang mana?” Tanyaku

“Syaikh yang mengajar hafalan al-Qur’an.”

Sebelumnya aku tidak tahu bahwa di masjid ini ada seorang Syaikh yang mengajar al-Qur’an. Aku lalu tersenyum ke arah bocah tersebut dan berusaha menyingkirkan rasa takut yang menampak pada wajahnya,, “Tidak, beliau belum datang. Duduk saja di sampingku,” kataku padanya.

Anak itu lalu duduk, membuka mushafnya, dan membolak-balikkan lembar halamannya. Sebelum aku berbisik di telinganya guna bertanya surat apa yang akan dihafalkannya, ia tiba-tiba berkata kepadaku dengan suara bergetar cemas, “Paman, maukah engkau bacakan untukku satu dua kali, atau lebih banyak lagi, sebuah surat agar aku menghafalkannya dengan baik? Ayahku sudah menyerah mengajariku, karena menganggapku tidak bisa fokus dan lemah dalam menghafal. Beliau bahkan sering mengeluh hingga membuatku malu memintanya agar menghafalkan al-Qur’an padaku. Dan tatkala aku menghadap kepada Syaikh dan melakukan kesalahan saat membaca, ia pun memarahiku. Itu karena bacaanku belum baik dan aku sangat kesulitan mengucapkan beberapa kalimat al-Qur’an.

Bangkitkan Budaya Betawi, Warga Sukabumi Utara Gelar Lebaran Betawi Perdana

Aku hanya tersenyum mendengar curhatnya. Aku lalu mengambil mushafnya dan berbisik padanya, “Dekatlah kemari, nak. Di samping pamanmu!”

Aku pun mulai membaca beberapa ayat yang kemudian diulanginya. Lima belas menit berikutnya aku lalu meminta agar ia mengulanginya. Namun ia tak dapat melakukannya. Tiba-tiba aku teringat guruku dahulu saat berkata kepadaku, “Bila kau temukan kesulitan dalam menghafal, cobalah pahami makna ayatnya terlebih dahulu. Lalu berusahalah menghafalkannya. Karena hafalan ayat itu serupa kunci pintu besar yang memisahkan dirimu dengan surga. Maka berusahalah sekuat kemampuanmu membuka kunci itu. Niscaya pintu itu kan terbuka pada akhirnya.

Aku lalu memandang anak itu beberapa menit, sementara ia hanya mempermainkan jemarinya karena malu. Aku kembali tersenyum dan berkata kepadanya, “Kita tinggalkan hafalan ini sejenak, anak muda. Lihat ayat ini, apakah kau paham maksudnya, dan yang ALLah maksudkan pada ayat ini?”

Aku kemudian menjelaskan padanya ayat tersebut hingga selesai. Ia lalu mengulanginya kembali dua tiga kali. Sebelum aku suruh agar membacanya sendirian. Setelah berusaha terus dan mengulanginya beberapa kali, surat itu pun dihafalnya sebagaimana ia menghafal surat al-Ikhlas.

Tidak lama kemudian Syaikh yang mengajar di masjid itu pun datang. Anak ini kemudian meminta izin untuk bergabung dengan kawannya yang lain. Namun aku berkata kepadanya sebelum meninggalkanku, “Inginkah aku beritahu sesuatu agar kau mengingatnya selalu?”

Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terkait Kasus Nikel

“Tentu saja, Paman,” jawabnya tersenyum.

Aku pegang tangannya dan menciumnya, lalu berkata, “Pada suatu saat nanti akan dikatakan padamu, “Hai fulan, cepatlah kemari! Dan engkau lalu pergi dan mendengarkan hafalan kawanmu. Setelah itu engkau diminta untuk membaca hafalanmu, dan ALLah serta malaikat-Nya mendengarkan bacaanmu. Tidakkah engkau rindu bila membacanya di hadapan ALLah, lalu dikatakan padamu, “Baca olehmu surat ini..!!” Aku lalu menepuk pundaknya dan membisikkan di telinganya sebuah kalimat yang dahulu kuingin seseorang mengatakannya padaku saat aku kecil.

“Engkau sekarang sedang disiapkan untuk membaca al-Qur’an di hadapan ALLah, maka jangan bosan dan lelah, jangan putus asa dan mengeluh pada lemahnya kemampuanmu. Setiap orang pintar bila meninggalkan al-Qur’an, maka dia bodoh.

Engkau akan tumbuh besar membawa kitab ALLah, dan menjadi pemuda istimewa di dunia saat engkau jadi imam bagi manusia. Suaramu akan bergetar khusyu saat kau baca Al-Qur’an. Juga kan kau dapati dirimu kelak di akhirat sebagai orang istimewa dan mulia di hadapan para malaikat agung lagi baik.

Hak al-Qur’an adalah, ALLah muliakan ahli al-Qur’an. Karena itu adalah firman-Nya. Dan tidaklah ALLah mencintai seseorang melebihi cinta-Nya kepada ahli al-Qur’an. Tidaklah ALLah mengazab lisan yang senantiasa basah dengan al-Qur’an, hatinya sebagai wadahnya, telinga yang selalu mendengarnya, dan mata yang senantiasa memandangnya. Bahagialah engkau yang masa mudanya tumbuh di bawah naungan al-Qur’an.”

Bangkit Dari Krisis: Memulihkan Kepercayaan Publik

Aku lalu mencium keningnya dan berkata, “Pergilah menghadap Syaikhmu, dan bacalah al-Qur’an di hadapannya seakan engkau berada di bawah arasy Yang Maha Agung, dan ALLah mendengarkanmu. Aku yakin dan percaya, engkau bisa melakukannya!” Anak belia itu pun pergi menemui gurunya.

Setiap hari aku bertemu dengannya di masjid dan menghafalkannya beberapa ayat sebelum ia menghadap ke gurunya. Namun Dua bulan kemudian aku harus berpisah dengannya karena pindah rumah ke tempat yang lain. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Sebagaimana Syaikhnya yang aku dengar pindah ke masjid lain untuk menghafalkan al-Qur’an.

Tujuh tahun kemudian saat pulang dari tempat kerja, sopir yang membawa kami mampir untuk shalat magrib di sebuah masjid. Akupun masuk dan berdiri bersama makmun lainnya di belakang imam muda yang wajahnya serupa rembulan.

“Lurus dan rapatkan shaf, karena lurusnya shaf bagian dari kesempurnaan shalat,” katanya kepada para makmum.

Wajah imam muda itu sepertinya tidak asing bagiku. Tapi aku sudah tidak ingat dimana pernah melihatnya. Suaranya indah dan sangat merdu. Bila saja di luar shalat, niscaya aku kan memintanya berlama-lama dalam bacaannya yang serupa obat bagi hati.

Setelah shalat, aku tetap duduk di tempatku membaca dzikir dan doa, hingga imam muda itu datang dan duduk di hadapanku, seraya berkata, “Aku akan jadi saksi pada hari kiamat kelak di hadapan ALLah Ta’ala, bahwa paman jadi penyebab hingga diriku seperti sekarang!” Sebelum aku bertanya tentang dirinya, ia segera melanjutkan ucapannya dengan senyum bahagia terukir pada wajahnya.

“Paman, bisakah engkau bacakan untukku satu dua kali atau lebih banyak lagi, agar aku hafal surat ini dengan baik? Ayahku sudah putus asa mengajariku karena aku tidak bisa konsentrasi dan kemampuanku yang lemah!”

Katanya padaku sembari tersenyum dan air mata yang berlinang. Ia lalu berkata kembali, “Sudah ingatkah sekarang, paman?” Ia kemudian memelukku dan berkata, “Kini aku sudah khatam al-Qur’an, dan telah mendapatkan ijazah sebagai muhaffizh di masjid ini?”

Aku pun tak dapat menahan tangis haru melihatnya sanggup mengalahkan berbagai rintangannya dahulu, dan kini sebagai Hafizh dan guru tahfizh sekaligus.

“Bahagialah engkau, paman. Sungguh layak bagimu mahkota kemuliaan. Engkau telah mengajariku dengan cinta, dan kau peluk hatiku dengan kelembutanmu. Engkau jadikan al-Qur’an sebagai kecintaanku melebihi yang lainnya tanpa paman menyadarinya. Kala itu aku datang sebagai anak yang lemah, namun engkau yang menguatkanku. Terima kasih, paman! Engkau tetap percaya padaku, kala semua orang berkata aku tak sanggup!”

Anak kecil yang telah menjelma sebagai imam muda dan guru tahfizh itu lalu mencium keningku, sebelum meninggalkanku menemui para santrinya, calon Hafizh al-Qur’an

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Oase menyuguhkan tulisan sebagai bahan renungan keseharian kita

Imsakiyah Ramadhan 2025

KOTA JAKARTA, DKI JAKARTA - Minggu, 19/04/2026
Imsak 04:27
subuh 04:37
dzuhur 11:55
ashar 15:14
maghrib 17:53
isya 19:03

Berita Populer







Berita Terhangat








×
×